Di balik 3.500 judul yang lahir dari Pustaka Al-Kautsar, tersimpan kisah doa, idealisme, dan jalan tengah dakwah yang ditempuh Tohir Bawazir dalam perjalanan hidupnya.
Oleh M. Anwar Djaelani, penulis buku Menulislah, Engkau Akan Dikenang dan 13 judul lainnya
Tagar.co – Tidak banyak orang berani menekuni jalan sunyi penerbitan buku. Namun, Tohir Bawazir menjalaninya lebih dari tiga dekade dengan tekad, doa, dan idealisme. Dari Solo, Yogyakarta, hingga Jakarta, ia menorehkan jejak panjang dalam dunia literasi Islam di Indonesia.
Kisah lengkap itu kini ia tuangkan dalam sebuah autobiografi Tohir Bawazir berjudul Menerbitkan Kebenaran: Memilih Jalan Tengah dalam Arus Dinamika Dakwah di Indonesia.
Buku autobiografi karya Tohir Bawazir (TB) ini menarik sekaligus penting. Pertama, menarik karena berisi kisah hidupnya sendiri yang berhasil menekuni profesi sebagai penerbit buku. Kedua, penting karena kisahnya berhubungan langsung dengan aktivitas utama yang harus dilakukan umat Islam, yaitu membaca dan menulis (tentang ini, kita ingat Al-‘Alaq: 1–5).
Unik dan Asyik
Misi buku ini bagus, yaitu berbagi kisah bagaimana bertahan sekaligus menuai sukses mengelola usaha penerbitan buku selama 36 tahun. Sekaligus, ini bagian dari ungkapan syukur bahwa TB—pemilik penerbitan buku Pustaka Al-Kautsar—telah Allah karuniai umur 63 tahun (pada saat buku terbit).
Bersyukur, karena usaha penerbitan buku di negeri ini ibarat jalan sunyi. Benar, senyap, karena jarang orang yang menjalaninya (h. viii). Ini mengherankan, sebab di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, buku justru belum menjadi kebutuhan prioritas. Ini unik!
Buku ini asyik. Terbit pada saat TB berusia 63 tahun. Terbit ketika Pustaka Al-Kautsar berusia 36 tahun.
Apa isi buku? Ada dua bagian. Pertama, kisah hidup pribadi TB (sekitar 150 halaman). Kedua, kisah perjuangan TB merintis dan mengembangkan usaha penerbitan (sekitar 200 halaman).
Doa dan Kenyataan
TB menjalani masa kanak-kanak yang menyenangkan. Dia keturunan Arab. Kakeknya dari Yaman, sementara ayahnya kelahiran Cilacap. Adapun ibunya, dari Tegal. Meski ayah dan ibunya punya nama marga yang sama, yaitu Bawazir, namun sebelum menikah keduanya tidak saling kenal.
Saat akan kuliah, TB punya minat ke publisistik. Sementara itu, orang tua mengarahkannya ke ekonomi. Atas hal itu, ada tiga pilihan. Ke Yogyakarta, yaitu ke UGM atau UII. Pilihan lain, ke Solo, yaitu ke UNS. Ternyata, TB diterima di Fakultas Ekonomi UNS.
Di awal menjadi mahasiswa, pada 1983, TB bersama sejumlah rekannya bertamu ke rumah Rasyid Baswedan di Yogyakarta. Tokoh yang disebut terakhir ini adalah ayah Anies Rasyid Baswedan. Mereka bertamu karena tuan rumah beserta istrinya figur terkemuka tersebab keilmuannya.
Sayang, mereka tidak bertemu dengan tuan rumah. Adapun yang keluar menemui adalah seseorang yang tak mereka kenal. Dia, seorang bapak tua berkacamata.
Bapak itu lalu berkata cukup jelas: “Kamu ini anak-anak muda jangan cuma bisa kumpul sana kumpul sini, tapi harus rajin membaca buku. Kalian harus menjadi pecinta buku. Kurangi kegiatan yang tidak bermanfaat.”
Baca juga: Buku Legendaris Fiqhud Da’wah: Kolaborasi Indah M. Natsir dan S.U. Bayasut
Belakangan, TB tahu bahwa bapak tua itu adalah Abdul Rahman Baswedan atau populer sebagai AR Baswedan. Dia Pahlawan Nasional. Dia kakek Anies Baswedan.
Waktu bergerak. Setelah TB menyelesaikan kuliah, dia aktif di usaha penerbitan buku. Sejatinya, jenis usaha ini tidak familiar di keluarganya. Hanya saja, terutama kemudian hari, TB berhasil di bidang ini.
Kini, TB sudah lebih dari 30 tahun beraktivitas di penerbitan buku. TB pun berpikir, “Jangan-jangan saya mendirikan penerbit, secara tidak langsung berasal dari doa dan harapan beliau (AR Baswedan). Saya sekarang tidak hanya rajin membaca, bahkan menjalankan usaha penerbit buku. Sudah sekitar 3.500 judul buku yang saya terbitkan, termasuk beberapa karya saya sendiri” (h. 97–98)
Dari Solo
Aktivitas TB di dunia penerbitan dimulai di Solo, di sekitar tahun terakhir dia kuliah. Alkisah, TB punya paman, yaitu Ali Bawazir, yang terbilang berkecukupan. Setelah membantu berbagai amal pembangunan masjid dan sekolah, sang paman tergerak mendirikan perusahaan penerbitan buku.
Berdirilah Pustaka Mantiq di Solo. TB diikutkan dalam keseharian usaha itu. Di samping pengalaman, banyak hal lain yang TB dapat. Misalnya, terutama berkesempatan membaca buku-buku terbitan mereka sendiri yang banyak merupakan terjemahan karya para penulis ternama. Buku yang dimaksud antara lain karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Imam Ghazali, Sayyid Qutb, Yusuf Qaradawi, dan lain-lain.
Yogyakarta Tak Terlupakan
Pada pertengahan 1989, penerbit Pustaka Al-Kautsar didirikan di Yogyakarta. Modalnya juga dari Ali Bawazir. Awalnya, menerbitkan buku-buku tipis. Ada dua judul sekaligus, yaitu Mari Masuk Islam Lagi dan Bercak-Bercak Sufi. Selanjutnya, tiap bulan terbit tiga judul buku. Ini dilakukan agar terus dikenal masyarakat.
Dalam penerbitan, sebuah buku memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Pernah, Pustaka Al-Kautsar menerbitkan buku berjudul Tabarruj. Buku itu tipis, harganya terjangkau, sampul serta tema sangat menarik untuk dunia wanita dan remaja saat itu. Tak lama, buku itu cetak ulang beberapa kali. Itulah buku pertama yang sukses penjualannya (h. 148).
Pustaka Al-Kautsar sempat mengalami masalah dengan salah satu buku terbitannya pada akhir 1990. Buku Wajah Dunia Islam Kontemporer dilarang Kejaksaan RI. Buku itu karya Dr. Ali Garishah. Tebalnya lebih dari 300 halaman, menyoroti kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tentang Indonesia, hanya dua halaman: bahwa di Orde Lama diganggu komunis dan di Orde Baru oleh misionaris Kristen.
Masalah tak berlanjut karena memang tak ada kesalahan pada Pustaka Al-Kautsar. Tak lama setelah itu, muncul perasaan tak nyaman melanjutkan usaha penerbitan di Yogyakarta. Lalu, ada keinginan untuk pindah ke Jakarta dengan sejumlah alasan (h. 151–154).
Manis di Jakarta
Pada 1991, pindahlah Pustaka Al-Kautsar ke Jakarta. Sebelum akhirnya, pada 2001, punya kantor sendiri, mereka sempat menyewa di sejumlah tempat. Kantor baru itu seluas 1.100 m², di awal hanya membayar 50 persen dari harga dan sisanya dicicil setahun (h. 207).
Setelah lebih enam tahun hanya menerbitkan buku-buku softcover dan cenderung tipis, mulailah Pustaka Al-Kautsar menerbitkan yang tebal dan hardcover. Buku perdana jenis ini, Sirah Nabawiyah, sampai kini terus cetak ulang dan telah terjual 1 juta eksemplar. Memang layak laris, karena naskahnya adalah pemenang lomba penulisan. Untuk itu patut disebarluaskan ke penjuru dunia (h. 170).
Ada lagi tiga judul andalan, juga buku tebal, yaitu: Fikih Wanita, Roh (karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah), dan The Choice: Dialog Islam-Kristen (karya Ahmed Deedat).
Buku Fikih Wanita menduduki kesuksesan kedua setelah Sirah Nabawiyah. Sementara itu, buku The Choice tak kalah laris. Buku ini terjual 1 juta eksemplar.
Jejak Indah
Bagi penerbit, buku terjual laris tentu sebuah kebahagiaan. Hal lain, penerbit sangat berbahagia jika buku-bukunya mendapat nilai bagus di sebuah acara pemilihan buku terbaik. Ini boleh jadi lebih utama.
Pustaka Al-Kautsar punya catatan cukup panjang di Islamic Book Fair (IBF) Jakarta. Cukup banyak bukunya yang masuk kategori nominasi Buku Terbaik, bahkan menang di sebuah kategori.
Lihat, misalnya, di IBF 2025. Khusus di kategori nonfiksi terbaik, Pustaka Al-Kautsar meraih empat nominasi dari sepuluh buku yang terpilih. Pemenangnya adalah buku berjudul Taurat dalam Pandangan Muslim karya Wisnu Tanggap Prabowo dari Pustaka Al-Kautsar (h. 337).
Respons Cerdas
TB memang serius menjalani profesi sebagai penerbit. Hal ini terwakili lewat judul buku: Menerbitkan Kebenaran: Memilih Jalan Tengah dalam Arus Dinamika Dakwah di Indonesia. Lihat keseriusannya di judul bahasan ini: Membendung Aliran dan Pemikiran Sesat (h. 210).
Di titik ini, Pustaka Al-Kautsar antara lain menerbitkan Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Ada Pemurtadan di IAIN, serta Islam Vs Pluralisme Agama.
Terkait tema terbitan, ada kritik, mengapa (setidaknya di sebagian) tampak kontroversial? Misalnya, dengan menerbitkan kritik kepada Syiah, pemikiran liberal, dan sebagainya. Ini jawaban TB: “Kami justru untuk menyanggah yang kontroversial untuk kembali ke yang benar. Jika yang bersangkutan tak mau, minimal masyarakat tak terpengaruh” (h. 185).
Jalan Tengah
Bahasan yang tak boleh dilewatkan pembaca buku ini adalah Bermanhaj Wasathiyah dan Menolak Sikap Berlebihan dalam Agama (h. 235). “Sebagai sebuah penerbit buku, tidak dapat dipungkiri, produk bukunya banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan subjektivitas saya pribadi,” kata TB.
Hanya saja, lanjut TB, buku terbitan Pustaka Al-Kautsar tidak semata-mata dapat dipandang sebagai produk komersial. Terbitannya adalah produk idealisme, sebagai salah satu bentuk perjuangan dan dakwah di dunia literasi (h. 246).
Apa wasathiyah? TB menjawab, wasathiyah adalah manhaj/jalan pemikiran yang dianut mayoritas umat Islam di mana pun. Jalan itu jauh dari sikap menggampangkan maupun memberatkan. Sikap itu adalah pilihan pertengahan di antara pemikiran sempit dan pemikiran liberalisme yang mengusung kebebasan (h. 247).
Hal yang pasti, TB tak hanya menerbitkan buku. Dia juga menulis. Sejumlah buku dan komik lahir dari tangannya. Komik? Ya! Misalnya, TB punya karya komik berjudul Alam Kubur, Hari Kiamat, dan Padang Mahsyar (di sampul komik tertulis nama pena Abu Mahdi yang merupakan nama lain TB). Sementara itu, dua di antara beberapa buku TB yang telah terbit adalah Muhammad Sang Negarawan: Belajar dari Kepemimpinan Politik Nabi Saw. dan Perjalanan Panjang Dakwah.
Mengalir Menginspirasi
Buku ini mencerahkan. Di dalamnya banyak pengalaman TB yang bisa kita jadikan ilmu. Misalnya, tentang perlunya berhati-hati dalam memilih sekolah. Juga, ada semacam gambaran peta penerbit buku di Indonesia.
Sikap TB dan Pustaka Al-Kautsar terlihat setidaknya di tiga judul bahasan ini: Peduli terhadap Derita Umat Islam di Dunia (h. 327), Merawat Keislaman dan Keindonesiaan di Tanah Air (h. 318), dan Pentingnya Mempelajari Sejarah (h. 341).
Isi buku juga ada yang ringan alias rileks. Bacalah kisah TB Ingin Menikah di Saat yang Tidak Tepat (h. 139). Bacalah pengalaman TB kali pertama membeli mobil (h. 160–161).
Tentu saja, beberapa hal masih perlu diperbaiki di penerbitan insya Allah nanti kala cetak ulang. Misalnya, masih banyak paragraf yang sangat panjang. Itu bisa dibagi menjadi dua atau lebih paragraf karena memuat lebih dari satu pokok pikiran. Sekadar contoh, lihat paragraf yang dimulai dari baris keempat dari atas pada h. 24. Itu bisa dipecah menjadi tiga paragraf.
Salah cetak juga ada. Misalnya, tertulis “Muhamaddiyah” (dengan satu “m” dan dua “d”, di h. 9). Di h. 170 ada tertulis “terjuan” untuk maksud “terjual”. Ungkapan mubazir juga ada. Tertulis “para anak-anaknya” (h. 12), padahal cukup ditulis “anak-anaknya”.
Apa pun, buku TB ini mencerahkan. Sebuah otobiografi yang ditulis di saat yang tepat. Sebuah bacaan yang menginspirasi, alhamdulillah.
Data Buku
- Judul: Otobiografi; Menerbitkan Kebenaran (Memilih Jalan Tengah dalam Arus Dinamika Dakwah di Indonesia)
- Penulis: Tohir Bawazir
- Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
- Tahun terbit: September 2025
- Tebal: xxiv + 368 halaman
Penyunting Mohammad Nurfatoni


















