
Media sosial mendorong kita untuk ikut-ikutan tren demi gengsi. Padahal, Islam menegaskan, sebaik-baik Muslim adalah yang meninggalkan hal tak bermanfaat.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.
Tagar.co – Di era modern yang serba cepat ini, manusia dimanjakan dengan kemudahan dalam segala hal. Sayangnya, kemudahan ini sering menjerumuskan kita pada kelalaian.
Kita mudah meniru gaya, mengejar tren, dan berbicara tanpa ilmu. Padahal, hidup bukan tentang menumpuk gaya, melainkan menjaga hati agar tetap berada di jalan Allah yang lurus.
Hidup di zaman serba bebas ini membuat banyak orang kehilangan kendali. Semua hal bisa dibeli, semua gaya bisa ditiru, dan setiap orang merasa wajib untuk bersuara, meski tanpa ilmu.
Baca juga: Belajar Ikhlas dari Luka Kehilangan
Kita hidup dalam arus deras yang terus menggiring manusia untuk berlomba-lomba dalam kemewahan, popularitas, dan gengsi sosial. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: apakah semua ini mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari-Nya?
Fenomena ini bukanlah hal baru. Rasulullah saw. telah memperingatkan tentang munculnya kelompok manusia yang hanya mengejar kenikmatan dunia. Dalam sebuah hadis disebutkan:
سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي قَوْمٌ يَأْكُلُونَ أَلْوَانَ الطَّعَامِ وَيَشْرَبُونَ أَلْوَانَ الشَّرَابِ وَيَلْبَسُونَ أَلْوَانَ الثِّيَابِ وَيَتَفَكَّهُونَ فِي الْحَدِيثِ وَهَؤُلَاءِ شِرَارُ أُمَّتِي
“Akan ada sekelompok orang dari umatku yang mereka akan memakan beragam jenis makanan, meminum beragam jenis minuman, memakai pakaian dengan beragam model, terlalu banyak berbicara (tanpa kendali); merekalah sejelek-jelek umatku.” (H.R. Ath-Thabrani, 8/127, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3663)
Hadis ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Kita melihat manusia berlomba-lomba menikmati berbagai jenis makanan dan minuman, mengenakan pakaian yang selalu mengikuti tren terbaru, dan tenggelam dalam percakapan yang tidak bermanfaat.
Semua itu didasari oleh hawa nafsu, khususnya syahwat perut dan kesenangan duniawi.
Jangan Berlebihan
Islam tidak melarang kita untuk makan makanan yang enak, minum minuman yang halal, atau mengenakan pakaian yang indah. Bahkan Allah berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pula yang mengharamkan) rezeki yang baik-baik?” (Al-A’raf: 32)
Namun, yang dilarang adalah sikap berlebihan, bermewah-mewahan, dan menjadikan hal-hal itu sebagai tujuan hidup. Allah juga mengingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf: 31)
Ketika makanan, pakaian, dan gaya hidup menjadi sarana untuk pamer dan memuaskan hawa nafsu, maka di situlah bahaya mulai muncul. Sebab, hati akan semakin jauh dari Allah, lalai dari zikir, dan enggan untuk tunduk kepada aturan-Nya.
Rasulullah saw. juga memperingatkan bahwa salah satu penyebab kehancuran umat adalah ketika mereka tenggelam dalam kemewahan dunia.
Baca juga: Jangan Goyah oleh Penilaian Manusia, Carilah Rida Allah
Hari ini, kita bisa melihat bagaimana media sosial memperkuat fenomena ini. Gaya hidup mewah dipamerkan, tren fesyen menjadi tolok ukur gengsi, dan kata-kata tanpa ilmu tersebar tanpa batas. Orang merasa harus mengikuti semua itu agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Padahal, Rasulullah saw. bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Tirmizi No. 2317, dinyatakan hasan)
Hadis ini mengajarkan bahwa kita tidak perlu ikut campur atau sibuk dengan hal yang tidak memberikan manfaat bagi dunia dan akhirat kita. Mengikuti tren hanya demi gengsi adalah bentuk kelalaian yang bisa merusak keimanan.
Agar Tak Terjebak
Lalu, bagaimana agar kita tidak terjebak dalam arus gaya hidup yang menipu ini? Ada beberapa hal yang harus kita lakukan:
Pertama, luruskan niat. Jadikan semua yang kita lakukan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan untuk pamer atau mengikuti hawa nafsu.
Kedua, kendalikan lisan dan pandangan. Jangan mudah ikut berkomentar tanpa ilmu. Allah berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Isra’: 36)
Ketiga, perbanyak zikir dan syukur. Jika hati selalu mengingat Allah, maka kemewahan dunia tidak akan membuat kita lalai. Rasulullah saw. bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (Muslim No. 2664)
Hidup bukan tentang menumpuk gaya, melainkan tentang menumpuk amal saleh. Bukan tentang seberapa banyak tren yang kita ikuti, tetapi seberapa taat kita kepada Allah. Jangan biarkan kemewahan dunia menipu kita, karena hakikatnya semua itu fana dan akan kita tinggalkan.
Semoga kita mampu menjaga hati, tidak terlena oleh gemerlap dunia, dan selalu berada di jalan yang diridai Allah. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












