
Kunjungan Foskam SD/MI Muhammadiyah Kabuoaten Gresik ke sentra tenun Lombok, NTB, membuka ruang belajar baru tentang kearifan lokal, ketekunan, dan peran budaya dalam membangun pendidikan karakter.
Tagar.co — Usai menikmati sarapan pagi khas Lombok di Restoran Cahaya Bil, rombongan Forum Silaturahmi Kepala Madrasah (Foskam) SD/MI Muhammadiyah se-Kabupaten Gresik melanjutkan rangkaian kegiatan studi banding mereka, Senin (12/1/2026).
Dengan semangat yang kembali segar, rombongan bergerak menuju salah satu sentra pembuatan kain khas Lombok, Penginang Lombok, sebuah galeri tenun tradisional yang terletak di kawasan desa para perajin tenun.
Baca juga: Menimba Inspirasi di Pulau Seribu Masjid: Foskam SD/MI Muhammadiyah Gresik Studi Banding ke Lombok
Penginang Lombok dikenal sebagai pusat pelestarian dan promosi tenun Sasak asli. Galeri ini bukan sekadar ruang pamer karya tekstil, melainkan ruang hidup warisan budaya yang memadukan tradisi, nilai, dan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.
Beragam kain berkualitas tinggi tersaji dengan motif-motif khas yang sarat makna, menjadikan tempat ini juga sebagai destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman autentik.
Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman tersendiri. Hamparan alam Lombok yang asri mengiringi langkah rombongan, membuka cakrawala tentang kekayaan alam dan budaya Nusantara.
Setibanya di sentra tenun, suasana sederhana namun penuh makna langsung menyambut: bunyi ritmis alat tenun tradisional, tangan-tangan terampil para perajin, serta deretan kain bermotif indah yang menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat Sasak.
Di lokasi ini, para peserta mendapat penjelasan langsung mengenai proses pembuatan kain tenun khas Lombok, mulai dari pemilihan benang, pewarnaan alami, hingga teknik menenun yang menuntut ketelatenan, kesabaran, dan ketekunan tinggi. Setiap motif menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan alam, kehidupan sosial, dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Lombok.
Tak hanya menyimak, para kepala madrasah juga berkesempatan mengenakan pakaian khas Lombok dan mengabadikan momen dengan berswafoto, memperkaya kesan mendalam dari kunjungan tersebut.

Kisah Suhaimi
Di antara para perajin, Suhaimi menjadi sosok yang menarik perhatian. Dengan gerak tangan yang tenang namun pasti, ia menenun bukan sekadar dengan keterampilan, melainkan dengan kesabaran dan jiwa. Setiap helai benang ia susun seolah sedang merangkai cerita tentang tanah kelahiran, alam, dan nilai hidup masyarakat Lombok. Dedikasinya mencerminkan kecintaan mendalam pada warisan budaya.
Ternyata, keterampilan Suhaimi tidak hadir secara instan. Sejak usia sekitar lima tahun, ia telah akrab dengan bunyi kayu alat tenun dan aroma benang yang direndam pewarna alami. Setiap hari ia menyaksikan kedua orang tuanya menenun di rumah—awal dari benih kecintaan yang tumbuh perlahan dalam dirinya.
“Saya belajar menenun sejak kecil, sekitar umur lima tahun. Waktu itu saya hanya melihat orang tua menenun, duduk di samping sambil bermain. Lama-lama terbiasa, lalu belajar sendiri sampai akhirnya bisa seperti sekarang,” tutur Suhaimi.
Tanpa kelas resmi dan tanpa buku panduan, ia menyerap keterampilan langsung dari teladan orang tuanya. Dari kebiasaan kecil itu, tangan yang dulu bermain di sisi alat tenun kini mampu menghasilkan kain khas Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan kualitas tinggi dan nilai budaya yang kuat.
Kunjungan ini pun tak sekadar menjadi agenda wisata, melainkan sarana pembelajaran kontekstual. Para kepala SD dan MI Muhammadiyah memetik hikmah tentang pentingnya menjaga budaya, menanamkan nilai kerja keras, serta mengintegrasikan kearifan lokal sebagai sumber inspirasi pendidikan.
Melalui kunjungan ke sentra kain khas Lombok ini, Foskam SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Gresik berharap membawa pulang bukan hanya cendera mata, tetapi juga nilai-nilai luhur—bahwa pendidikan sejatinya tumbuh dari budaya, kerja, dan kearifan masyarakatnya. (#)
Jurnalis Nurkhan Penyunting Mohammad Nurfatoni












