Feature

Seni Tutur Madihin Buka CRM Award VI 2025

34
×

Seni Tutur Madihin Buka CRM Award VI 2025

Sebarkan artikel ini
Seni Madihin
Jaini Rasid (27 tahun) saat tampil dalam acara CRM Award VI 2025 di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (13/11/2025). (Tagar.co/Ichwan Arif)

Kesenian ini mengutamakan unsur vokal dan diiringi tabuhan gendang (tarbang), serta berfungsi sebagai media hiburan, penyampaian pesan moral, dan kritik sosial.

Tagar.co – Seni tutur Madihin membuka acara Cabang, Ranting, dan Masjid (CRM) Award VI 2025 yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (13/11/2025).

Jaini Rasid (27 tahun) berhasil membuat tawa peserta dan penggembira CRM Award dengan improvisasi seni tutur yang dibawakan di atas pangguncrm selama hampir 10 menit. Dengan membawa gendang (terbang) dan memakai pakaian adat khas Kalimantan Selatan, guru Pendidikan Agama Islam SMA Muhammadiyah 2 Banjarmasin ini dia sejenak membuat senyum sumringah.

“Seni ini lebih pada menjelaskan atau memaparkan kepada penonton tentang pesan-pesan yang disampaikan. Tentang pesan yang ingin saya sampaikan adalah pemuda harus memakmurkan masjid. Selain itu, ada juga pesan tentang pemuda harus aktif di ranting maupun cabang,” katanya.

Dia menuturkan seni Madihin adalah seni tutur lisan khas Kalimantan Selatan yang dibawakan dalam bentuk syair dan pantun, sering kali secara spontan, dengan gaya jenaka, cerdas, dan berima.

Baca Juga:  Pemanfaatan AI dalam Perspektif Islam Dibahas di Keputrian Spemdalas
Seni Madihin Kalsel
Jurnalis Tagar.co berfoto dengan Jaini Rasid (27 tahun) (Tagar.co/Istimewa)

Kesenian ini mengutamakan unsur vokal dan diiringi tabuhan gendang (tarbang), serta berfungsi sebagai media hiburan, penyampaian pesan moral, dan kritik sosial. Madihin sering ditampilkan pada acara seperti pernikahan dan khitanan, dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak tahun 2012,” jelasnya.

Pria yang memiliki anak 1 ini menjelaskan dalam tampilan seni Madihin di acara CRM Award ini lebih memberikan pesan kepada pemuda untuk selalu sinergi untuk memakmurkan masjid. “Pemuda perlu meningkatkan perannya di ranting dan cabang Muhammadiyah supaya pemuda memiliki peran aktif di Muhammadiyah,” katanya.

Khusus untuk seni ini, lanjutnya, supaya bisa lebih lestari kesenian untuk dikembangkan dengan cara ada pelajaran ektrakurikuler di Tingkat SD sampai SMA. “Untuk sampai saat ini, saya baru mendapatkan 16 siswa yang mengikuti ekstra di Tingkat SD-SMA,” jelasnya.

Faktor tersulit dalam seni Madihin ini adalah komitmen untuk selalu bermain kesenian ini. Kadangkala pemuda yang mengikuti seni ini hanya didorong oleh rasa penasaran. Setelah penasaran sudah ditemukan, mereka sudah tidak mendalami seni ini.

Baca Juga:  Semangat Reafirmasi Dakwah Muhammadiyah di Banjar

Untuk membuka acara CRM Award ini membutuhkan 4 hari untuk berlatih dengan tema yang diberikan panitia. Selama hampir 10 menit, seni tutur yang didasarkan oleh improvisasi seni tutur benar-benar harus lancar, baik itu pesan dan menghibur.

“Alhamdulillah, peserta CRM bisa tertawa Ketika mendengar seni tutur saya,” ungkapnya pendek. (#)

Jurnalis Ichwan Arif.