
Apa yang membuat puasa begitu istimewa dibandingkan ibadah lainnya? Dalam kajian Pra-Ramadan di Menganti, Ketua PCM Menganti Nur Syamsi membahas dimensi spiritual dan sosial puasa, serta bagaimana ibadah ini bisa menjadi ladang pahala berlipat ganda.
Tagar.co – Menjelang Ramadan, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Menganti, Gresik, menggelar Kajian Pra-Ramadan pada Ahad (23/2/2025) di Masjid At-Taqwa Putat Lor, Menganti, Gresik, Jawa Timur. Acara ini menghadirkan Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kecamatan Menganti, Nur Syamsi, S. Ag., yang menyampaikan tausiah tentang keutamaan puasa sebagai ibadah yang paling rahasia.
Baca juga: Menuju Ramadan Berkualitas: Menganti Siapkan Imam dengan Bacaan Salat Sempurna
Sejak pukul 07.00 WIB, para jemaah sudah berkumpul di Masjid At-Taqwa, antusias menantikan tausiah. Dalam ceramahnya, Nur Syamsi menekankan bahwa puasa merupakan ibadah yang hanya diketahui oleh pelakunya dan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Bukhari Nomor 1.761 dan Muslim Nomor 1946: “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Meneladani Puasa dalam Makna yang Luas
Dalam pemaparannya, Nur Syamsi menjelaskan secara fikih, puasa berasal dari kata saum atau siam, yang berarti al-imsaku ‘an al-syai atau menahan diri dari sesuatu. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perbuatan tercela, seperti berkata buruk atau berbuat dosa.
Salah satu contoh kisah keteladanan dalam menahan diri adalah kisah Maryam. Saat mengandung Nabi Isa Alaihisalam, Maryam memilih berpuasa dalam arti menahan diri untuk tidak berbicara ketika mendapat cemoohan masyarakat. Dengan petunjuk Allah Swt, ia hanya menunjuk kepada bayi Nabi Isa, yang kemudian berbicara dan menjelaskan kehendak Allah Swt.

Tiga Persiapan Menyambut Ramadan
Untuk menyambut Ramadan, Nur Syamsi mengingatkan bahwa ada tiga hal yang perlu dipersiapkan:
- Niat yang ikhlas karena Allah Swt – Menjalankan ibadah puasa dengan kesadaran penuh untuk mencari ridha Allah.
- Menjaga kesehatan – Memastikan tubuh dalam kondisi yang baik agar mampu beribadah dengan maksimal.
- Menuntut ilmu – Memahami tata cara dan hakikat puasa agar dapat menjalankannya dengan benar.
Selain sebagai ibadah yang penuh rahasia, puasa juga memiliki dimensi sosial. Nur Syamsi menekankan bahwa Ramadan adalah momen untuk meningkatkan kepedulian sosial, salah satunya dengan bersedekah. Ia mencontohkan bagaimana memberi makanan bagi orang yang berpuasa akan mendapat pahala yang berlipat ganda.
“Semoga kita semua bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik, mendapatkan pahala dari Allah Swt, dan menjadi insan yang bertakwa,” harap Nur Syamsi di akhir tausiyahnya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Muhammad Nurfatoni












