
Dalam diskusi publik Fokal IMM, Prof. Yunan Yusuf menegaskan pentingnya kader IMM membawa nur (cahaya) ke tengah masyarakat, agar Asta Cita tidak terjebak dalam kegelapan praktik korupsi yang menggurita.
Tagar.co – Lembaga Riset Publik PP Fokal IMM menggelar diskusi publik bulanan virtual perdananya pada Senin (4/8/2025).
Mengusung tema Asta Cita untuk Indonesia Terang dalam Perspektif Al-Qur’an Surah An-Nur, kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. H. M. Yunan Yusuf, M.A., Pakar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Dewan Penasehat PP Fokal IMM, sebagai pembicara utama.
Tepat pukul 19.30 WIB, Usman Abdhali Watik selaku Direktur Lembaga Riset Publik PP Fokal IMM membuka forum daring dan mempersilakan Dr. Yusuf Warsyim, M.H., Sekretaris Jenderal Fokal IMM, untuk memberikan kata pengantar.
Baca juga: Kenangan Amien Rais tentang Abdul Rosyad Sholeh: Sosok Ikhlas di Balik Jaket Merah IMM
Dalam prakatanya, Yusuf Warsyim berharap diskusi bersama Prof. Yunan akan menghadirkan elaborasi mendalam tentang konsep Asta Cita, program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo, dari perspektif Al-Qur’an.
Di awal pemaparannya, Prof. Yunan mengaku tergelitik dengan frasa “Indonesia Terang”. Menurutnya, istilah terang umumnya dihubungkan dengan surya (matahari), namun dalam Al-Qur’an, terang yang sejati adalah nur.
“Kata nur dalam Al-Qur’an selalu digandengkan dengan zulumat (kegelapan),” tutur Prof. Yunan, seraya mengutip Surah Al-Baqarah ayat 257 yang menjelaskan bagaimana Allah mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya iman, sementara orang-orang kafir dipimpin oleh thaghut yang menjerumuskan mereka dari cahaya kepada kegelapan.
Prof. Yunan menekankan pentingnya perspektif nur ini dalam merumuskan arah gerak Fokal IMM, khususnya dalam mengaktualisasikan Asta Cita. Ia lalu memaparkan delapan butir program Asta Cita yang menjadi arah pembangunan nasional, mulai dari penguatan ideologi Pancasila dan HAM, kemandirian bangsa, pembangunan SDM, hingga pemberantasan korupsi dan harmonisasi kehidupan beragama.
“Asta Cita merupakan pandangan cita-cita yang digali dari Al-Qur’an dalam proses pengembangan pemanusiaan manusia,” ujarnya.
Namun demikian, Prof. Yunan mengingatkan bahwa cita-cita besar ini membutuhkan nur—cahaya yang mampu menuntun langkah menuju pembaruan yang lebih dahsyat. Ia menghubungkan hal ini dengan janji Allah dalam Surah An-Nur ayat 55, yang menjanjikan kekuasaan di bumi bagi orang-orang beriman dan beramal saleh, serta peneguhan agama yang diridai Allah.
Di sinilah, lanjut Prof. Yunan, Fokal IMM memiliki peran penting. Ia menegaskan bahwa kader Fokal IMM harus memegang dua prinsip sejak masa mahasiswa IMM: tekun dalam studi dan tertib dalam ibadah, sebagaimana ditegaskan dalam Deklarasi Garut.
“Berpikir, bekerja, berbuat harus didasarkan pada rasionalitas, tetapi tidak boleh jauh dari Allah. Kecerdasan dan kedekatan dengan Allah tidak boleh ditinggalkan; keduanya harus berpadu menjadi satu,” tegasnya.
Ia menambahkan, kekuatan, kecerdasan, dan spiritualitas harus menyatu agar mampu menciptakan pribadi-pribadi tangguh yang siap merealisasikan Asta Cita bagi kemajuan bangsa.
Baca juga: Mengenang Abdul Rosyad Sholeh, Din Syamsuddin: Konstitusi Berjalan Muhammadiyah
Prof. Yunan juga menyoroti realitas yang dihadapi bangsa saat ini, di mana nur dan zulumat saling berhadapan. Praktik mega korupsi menjadi contoh nyata kegelapan (zulumat) yang melilit negeri. Ia mencontohkan kasus korupsi di tubuh Pertamina dengan kerugian negara mencapai Rp193,7 triliun sebagai puncak gunung es yang menggurita.
“Sungguh, negara kita dalam posisi zulumat yang disebabkan oleh para koruptor. Maka aksi Fokal IMM tidak boleh dilepaskan dari upaya pemberantasan korupsi,” tegasnya.
Ia mengingatkan, meski kader Fokal IMM nanti berada di posisi strategis dalam pemerintahan, mereka harus tetap membawa nur dan tidak tenggelam dalam kegelapan kekuasaan.
“Kita harus bangkit dan membawa cahaya terang, membawa nur. Dengan demikian, Asta Cita benar-benar dapat kita capai,” serunya.
Sebagai bentuk teladan, di akhir pemaparannya Prof. Yunan memberikan masukan kepada Sekjen Fokal IMM agar setiap pengumpulan dana dalam kegiatan disertai dengan laporan pertanggungjawaban yang transparan.
“Harus dilaporkan secara transparan, karena ini termasuk dalam Asta Cita di jalur yang benar,” tuturnya. Ia berharap semangat membawa cahaya terang ini dapat terus menjadi kompas gerak Fokal IMM untuk menerangi bangsa Indonesia. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












