Telaah

Perjalanan Spiritual Empat Tahap Menuntut Ilmu

81
×

Perjalanan Spiritual Empat Tahap Menuntut Ilmu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Ilmu sejati tak membuat sombong, justru menundukkan hati. Simak perjalanan spiritual empat tahap menuntut ilmu yang menggugah, dari rasa paling tahu hingga menyadari bahwa kita tak tahu apa-apa.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Dalam pandangan para ulama besar, ilmu bukanlah sekadar akumulasi informasi atau penguasaan teori. Ilmu adalah cahaya—ia menerangi jalan untuk mengenal diri, memahami kehidupan, dan yang terpenting, mendekatkan kita kepada Allah Swt. Namun, perjalanan menuntut ilmu tidaklah instan. Ia menuntut waktu, proses, dan pembentukan jiwa.

Salah satu pernyataan menarik datang dari Imam Abu ‘Ubaid al-Qāsim ibn Sallām, seorang ulama besar pada abad ke-3 Hijriah. Dalam Siyar A‘lām an-Nubalā’, beliau menguraikan bahwa ilmu itu memiliki “empat perempat”—empat fase penting yang menunjukkan kedewasaan spiritual dan intelektual seorang penuntut ilmu.

العِلْمُ أَرْبَعَةُ أَرْبَاعٍ

“Ilmu itu ada empat perempat.”

Mari kita telusuri keempat tahapan tersebut, yang bukan hanya menjelaskan pertumbuhan intelektual, tetapi juga mengungkap proses pembentukan kerendahan hati.

1. Ketika Merasa Paling Tahu

فَإِذَا دَخَلَ الإِنْسَانُ إِلَى الرُّبْعِ الأَوَّلِ، ظَنَّ أَنَّهُ أَعْلَمُ النَّاسِ

Baca Juga:  Rahmat di Balik Ayat Puasa: Ketika Syariat Memuliakan Fitrah

“Jika seseorang memasuki perempat pertama, ia mengira bahwa dialah orang paling berilmu.”

Inilah fase awal yang penuh semangat, tetapi juga jebakan. Banyak penuntut ilmu merasa seolah-olah telah mencapai puncak keilmuan hanya karena mengetahui sebagian hal. Rasa percaya diri melambung tinggi, bahkan terkadang menumbuhkan rasa lebih tahu dibanding orang lain.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menggambarkan tahap ini sebagai fase “tipuan awal”. Meski menyimpan semangat positif, ia juga berisiko menciptakan kesombongan. Namun, setiap orang perlu melewati fase ini sebagai batu loncatan menuju kedewasaan berpikir.

2. Kesadaran atas Kekurangan

فَإِذَا دَخَلَ إِلَى الرُّبْعِ الثَّانِي، عَلِمَ أَنَّهُ قَدْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنَ العِلْمِ

“Jika ia memasuki perempat kedua, ia sadar bahwa ada bagian ilmu yang luput darinya.”

Di tahap ini, tabir mulai terbuka. Kita mulai menyadari bahwa masih banyak hal yang belum dipahami. Rasa percaya diri berganti dengan kesadaran, dan ini membuka pintu kerendahan hati.

Kita belajar untuk mendengar, untuk menghargai pendapat orang lain, dan membuka diri terhadap kritik maupun masukan. Fase ini mengajarkan bahwa belajar sejati bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga mengakui keterbatasan diri.

3. Ketundukan dalam Keterbatasan

فَإِذَا دَخَلَ إِلَى الرُّبْعِ الثَّالِثِ، عَلِمَ أَنَّ مَا فَاتَهُ أَكْثَرُ مِمَّا أَخَذَهُ

Baca Juga:  Dari Peristiwa Langit Menuju Evaluasi Salat di Bumi

“Jika ia memasuki perempat ketiga, ia sadar bahwa apa yang terlewat darinya jauh lebih banyak daripada yang telah ia ketahui.”

Semakin dalam seseorang menyelami ilmu, semakin ia menyadari betapa kecilnya yang ia miliki dibanding luasnya lautan pengetahuan. Inilah momen ketundukan.

Ilmu Allah tak bertepi. Apa yang kita ketahui hanyalah setetes dari samudra hikmah-Nya. Pada tahap ini, seorang penuntut ilmu tak lagi membanggakan ilmunya, tetapi mulai merendahkan diri sebagai hamba yang terbatas daya pikir dan pemahamannya.

4. Keempat: Merasa Paling Tidak Tahu

فَإِذَا دَخَلَ إِلَى الرُّبْعِ الرَّابِعِ، قَالَ: أَنَا أَجْهَلُ النَّاسِ، لِمَا رَأَى مِنْ سَعَةِ العِلْمِ

“Jika ia memasuki perempat keempat, ia berkata: ‘Aku adalah orang paling bodoh,’ karena ia melihat begitu luasnya ilmu.”

Ini adalah fase paling mendalam. Seseorang yang telah mencapai perempat keempat akan berkata, “Aku ini bodoh.” Bukan karena rendah diri yang berlebihan, melainkan karena kesadaran akan keluasan ilmu yang tak akan pernah terjangkau sepenuhnya oleh manusia.

Fase ini menandai kematangan sejati. Semakin ia belajar, semakin ia sadar bahwa hakikat ilmu bukanlah tentang seberapa banyak yang diketahui, tetapi seberapa besar hati kita ditundukkan olehnya. Ilmu sejati bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merundukkan jiwa.

Baca Juga:  Rahasia Ilahi di Balik Puasa yang Terbatas

Ilmu yang Membawa Kita Mendekat kepada Allah

Pada akhirnya, ilmu sejati adalah ilmu yang membawa kita lebih dekat kepada Allah. Bukan sekadar tahu, tetapi merasa tak mampu tanpa bimbingan-Nya. Bukan hanya mengerti, tetapi makin ingin berbuat baik dan memberi manfaat bagi sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (H.R. Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani)

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ juga mengisyaratkan bahwa pemahaman agama adalah tanda kebaikan dari Allah:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkannya dalam agama.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita termasuk hamba yang diberi ilmu yang bermanfaat, yang menjadikan kita semakin dekat dengan Allah, semakin mencintai kebenaran, dan semakin bersedia menebar manfaat. Karena sejatinya, ilmu bukan untuk disombongkan, tapi untuk diamalkan dan dibagikan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…