
Perempuan tua itu menatap nanar sawah-sawah yang mulai bersolek diri. Ada yang menjadi pabrik industri, perumahan, dan lahan yang ditelantarkan investornya. Tak banyak lagi sawah tempat mencari ko’ol dan mengasak sisa padi di musim panen.
Cerpen oleh Nurillah Achmad, penulis tinggal di Jember
Tagar.co – Bila ada suasana yang mengharuskan saya menahan rasa getir, agaknya pertemuan pagi tadi salah satunya.
Kala itu, saya tengah duduk di atas sebongkah batu yang biasa menjadi tempat tongkrongan segerombol monyet mengintai jagung di ladang petani.
Angin utara membawa aroma tahi sapi menguar pekat di udara. Seorang perempuan tua tersenyum seraya duduk di sebelah saya. Kedua kakinya penuh bekas lumpur. Sampir yang dikenakan ia jinjing hingga betis.
“Cukup untuk lauk,” katanya sembari mengangkat plastik hitam berisi ko’ol.
Saya tersenyum memandang hamparan sawah milik para petani. Di sini, di Tanah Tenggara ini, musim tembakau Voor-Oogst telah berakhir. Para petani telah beralih menanam padi. Dan perempuan tua ini selalu bergembira menyambutnya.
Saya tidak tahu. Betul-betul tidak tahu, sejak kapan ia mencari keong dari sawah ke sawah sebagai tambahan pangan. Rasa-rasanya, bibir ini selalu kelu tiap kali ingin bertanya. Malah, kalimat yang keluar dari mulut saya nyaris selalu sama.
“Tidak nyari kayu di gunung, Mbah?”
Perempuan ini terkekeh. Gunung kembar di belakang saya―yang lebih tepat disebut gumuk―melahirkan cerita getir.
Belasan tahun lalu, perempuan ini tengah mencari reranting pohon sebagai bahan bakar agar dapur tetap mengepul. Ketika kedua tangannya sibuk mengumpulkan dahan, hidungnya menghirup aroma seperti karet terbakar.
Ia tahu, ada marabahaya tengah mengintai. Tubuhnya berjumpalitan saat mendapati dua ekor ular berada tepat di atasnya. Sepasang binatang itu tengah berada di pohon munyit di mana dahan keringnya yang terjatuh dikumpulkan oleh perempuan ini.
“Kamu tahu,” katanya. Kedua matanya bergelinang air mata. “Ularnya sebesar pohon kelapa.”
Saya tersenyum mendengarnya. Bukan bermaksud meremehkan. Sungguh bukan. Entahlah. Tiap kali duduk bersama perempuan ini, dada saya selalu pengap. Sebisa mungkin saya menghirup napas dalam-dalam, nyatanya dada ini makin bergemuruh.
Saya tahu, sebentar lagi ia akan pulang. Memasak keong sawah yang dikumpulkan itu.
Begitu terus ia pindah dari sawah ke sawah hingga akhirnya petani memasuki musim panen. Di musim panen inilah senyum perempuan ini makin merekah.
Ia berdiri di sudut sawah petani sembari membawa glangsing bekas pupuk urea. Dengan rasa sabar yang teramat luas, ia menunggu para pekerja memasukkan gabah ke dalam mesin. Saat buliran gabah itu beralih ke dalam wadah kantong, lalu para pekerja telah dibayar, perempuan ini akan menemui petani guna meminta izin mengasak sisa gabah.
Ya! Dia betul-betul mengais sisa gabah yang berjatuhan dari mesin dores.
Ia juga mengais sisa gabah yang barangkali tercecer di dahan padi yang tak sepenuhnya terkena sabetan celurit.
Sisa-sisa gabah itu ia kumpulkan ke dalam glangsing itu. Begitu terus tiap kali ada petani yang panen. Nantinya, ia bakal menjemur semua buliran gabah yang dikumpulkan sebelum akhirnya digiling dan ditanak sendiri.
“Sawah punya Pak Haji yang di sana ditawar 1 M,” katanya sembari menunjuk area barat. Suaranya terdengar bergetar. Saya menangkap jelas bagaimana kedua sudut matanya berbicara. Ada gerimis di balik kedua bola mata itu.
Saya mencoba menghibur diri dengan menggigit bibir bagian bawah. Tapi, tidak berhasil. Rupanya, langit tidak sekadar menurunkan hujan berupa air, melainkan mata air yang berasal dari hati tersayat.
Anda tahu, di Tanah Tenggara ini, sawah-sawah mulai bersolek diri. Ada yang berbenah menjadi pabrik industri. Ada yang berdandan menjadi rumah hunian. Atau sengaja ditimbun investor guna suatu hari berubah menjadi lahan lain.
Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kehidupan perempuan ini jika sawah-sawah ini telah berubah. Bagaimana ia akan mencari keong sawah sebagai pelengkap pangan nantinya. Di mana ia akan mengais sisa gabah orang hanya demi bertahan. Saya tidak tahu, apa saja yang akan berubah dari perempuan ini ketika sawah-sawah lenyap.
Ada rasa sesak yang membuat saya mendongakkan kepala menatap langit guna menahan air mata tak berjatuhan. Sungguh, senyum perempuan ini menyimpan sesuatu yang tak mampu saya uraikan.
Kehidupan, sebagaimana yang Anda tahu, selalu berhasil menyuguhkan warna. Ada warna kusam yang sebenarnya lebih jujur berbicara keadaan, tapi jarang diungkapkan. Bagi saya, perempuan ini bukan orang kalah. Perempuan ini justru paling tulus menyikapi kehidupan.
Ia tidak pernah menuntut apa-apa. Ia telah berdamai dengan kehidupan yang rasa-rasanya tidak pernah memberi dari apa yang ia perlukan. Sayangnya, keadaan selalu punya cara untuk menyela.
Bahkan saat pamit pulang sembari menenteng seplastik ko’ol, ia masih tersenyum. Katanya, hamparan padi milik para petani hijau pekat. Ia bersyukur tak ada hama menyerang. Ah, lihatlah bagaimana ia masih mensyukuri di tengah semrawutnya kehidupan.
Saya mengangguk getir mendapati ucapannya. Barulah ketika perempuan ini meninggalkan pematang, saya tidak lagi memilih mendongakkan kepala menatap langit yang begitu lapang.
Saya biarkan dada saya yang tercabik-cabik sejak tadi ini menumpahkan suara sunyi. Sesunyi perempuan tua itu yang memilih menjauh dari hingar bingar pengakuan hidup yang pengap. (#)
Jember, November 2025
Penyunting Sugeng Purwanto












