Feature

Peran Guru di Tengah Disrupsi AI

29
×

Peran Guru di Tengah Disrupsi AI

Sebarkan artikel ini
Dosen PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. (Foto Humas UMM)

Di saat AI makin mendominasi ruang belajar dan banjir informasi kian sulit dikendalikan, muncul tuntutan baru yang menggeser cara guru mengajar—sebuah perubahan yang tidak lagi bisa dihindari.

Tagar.co – Di saat kecerdasan buatan (AI) kian menancapkan pengaruhnya di ruang-ruang kelas, para guru dan dosen di Indonesia justru menghadapi pertanyaan besar: masih relevankah peran pendidik manusia di era otomatisasi? Dalam kegelisahan itu, Dosen PGSD UMM, Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd., mengajak melihat perubahan besar ini secara lebih jernih.

Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, guru dan dosen memang sedang berada pada fase transformasi terbesar dalam satu dekade terakhir. Banyak pihak menilai bahwa AI mulai mengambil alih sebagian peran pendidik dalam proses belajar-mengajar.

Baca juga: Artificial Intelligence, Bikin Tugas Guru Makin Mudah

Perkembangan teknologi yang begitu cepat juga mengubah dinamika pendidikan dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beti menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar kehadiran alat baru di kelas, tetapi perubahan mendasar dalam pola belajar dan mengajar.

Baca Juga:  Menjadi Guru Hebat dan Bahagia: Membangun Kapasitas Spiritual di Ruang Kelas

“AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya, dikuto dalam siaran pers Humas UMM, Jumat (28/11/25)

Karena itu, menurut Beti, peran pendidik tidak lagi cukup sebagai penyampai materi. Yang jauh lebih penting saat ini adalah kemampuan menjadi kurator—memilih informasi yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa.

Ia menambahkan, dalam ekosistem pendidikan yang kini semakin digital, pendidik harus memposisikan diri sebagai pembimbing utama. Guru dan dosen dituntut menjadi learning experience designer, yakni merancang pengalaman belajar yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach.

Bukan hanya memberikan jawaban, tetapi mendorong siswa dan mahasiswa untuk bergerak dari pertanyaan “apa” menuju “bagaimana” dan “mengapa”. Dengan demikian, kemampuan analitis dan argumentatif dapat terasah secara lebih matang.

Karya Otentik

Di tengah kekhawatiran bahwa penggunaan AI dapat menghilangkan orisinalitas, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik tetap dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Kreativitas, intuisi, dan nilai—tegasnya—tetap merupakan wilayah orisinalitas manusia.

Baca Juga:  UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

“Yang paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya.

Lebih jauh, Beti berpesan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti manusia. Pendidikan, menurutnya, idealnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya.

“Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni