Opini

Pendidikan Sepanjang Hayat, Menjaga Nilai di Tengah Orientasi Profit

44
×

Pendidikan Sepanjang Hayat, Menjaga Nilai di Tengah Orientasi Profit

Sebarkan artikel ini
Proses pembelajaran di Taman Siswa tempo dulu

Refleksi Hardiknas 2025: Di tengah tantangan komersialisasi, pendidikan tetap menjadi jalan membangun karakter, keterampilan, dan kesejahteraan.

Oleh dr. Mohamad Isa, Sp.P.; Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Tagar.co – Setiap tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Dipilihnya tanggal tersebut untuk mengingatkan pada 2 Mei 1889, hari lahir perintis pendidikan yang bernama R.M. Suryaningrat, yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

Melalui perjuangan Ki Hajar Dewantara, berdirilah Lembaga Pendidikan Taman Siswa di Yogyakarta. Taman Siswa menjadi sarana pendidikan dan perjuangan rakyat Indonesia (bumiputra) untuk mendapatkan pendidikan yang layak di tengah masa penjajahan Belanda.

Baca juga: Hardiknas: Mengintegrasikan Pendidikan Intelektual dan Spiritual

Nuansa rasis dirasakan pada saat itu. Ada perbedaan perlakuan pendidikan antara orang pribumi dan orang-orang Belanda. Semangat inilah yang membuat para pejuang pendidikan Indonesia bergerak untuk mencapai cita-citanya.

Guru Taman Siswa

Penulis sempat menjadi guru mata pelajaran Kimia di SMA Taman Siswa di Jalan Genteng Kali, Surabaya, tahun 1981–1987, di tengah proses pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran (FK) Unair.

Baca Juga:  Pendidikan Gratis atau Makan Gratis?

Idealisme para guru-guru Taman Siswa, yang diberi julukan Ki/Ni untuk meneruskan cita-cita para pendiri, tidak pernah padam. Semangat untuk mengajar dan mendidik para siswa tetap tinggi, walaupun secara materi relatif kecil.

Pendidikan Sekarang

Waktu berjalan. Saat ini, tahun 2025, lembaga pendidikan di Indonesia cukup banyak, baik tingkat dasar maupun perguruan tinggi.

Idealisme lembaga pendidikan mulai mengalami pergeseran, antara idealisme tempat pendidikan dan kebutuhan pengembangan sarana pendidikan.

Lembaga pendidikan tidak sekadar mendidik, tetapi juga menjadi lembaga yang berorientasi profit demi kemajuan dan kesejahteraan para pendidik.

Ke Depan

Proses pendidikan tidak akan berhenti selama ada kehidupan. Pendidikan selalu menjadi kebutuhan masyarakat. Kebutuhan ini harus dikelola dengan baik tanpa membedakan status sosial.

Presiden sebagai pemimpin negara dan pemerintahan harus memiliki kemauan yang kuat (good will) untuk menjamin proses pendidikan berjalan dengan baik.

Lembaga pendidikan yang dikelola pemerintah dan swasta harus menjalankan visi dan misinya dengan terarah dan bermartabat.

Lembaga yang dikelola pemerintah harus mampu menerima para siswa tanpa membedakan status sosialnya. Pemerintah juga harus dapat membiayai kebutuhan pendidikan mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Baca Juga:  Strategi Terkini Pengobatan Tuberkulosis

Lembaga yang dikelola oleh swasta, pemerintah wajib mendorong agar lembaga ini tetap berjalan dengan baik. Lembaga swasta tidak boleh menjadikan pendidikan sebagai sarana bisnis semata.

Masyarakat didorong untuk mengikuti pendidikan sesuai cita-cita dan minatnya.
Dengan mengikuti pendidikan yang baik, masyarakat akan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang memadai untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya.

Penutup

Tidak ada kata berhenti untuk belajar melalui proses pendidikan. “Life Long Education” — pendidikan sepanjang hayat.

Pemerintah dan rakyat Indonesia harus memiliki semangat untuk memajukan pendidikan sebagai sarana perjuangan dan harga diri bangsa.

Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarsa sung tulada — menjadi pemimpin harus mampu memberikan suri teladan. Ing madya mangun karsa — di tengah kesibukan harus mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Tut wuri handayani — memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga Indonesia jaya! (#)

Banjarmasin, 2 Mei 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni