
Coach Ade Lesmana dan Coach Citra Adisti, pelatih timnas futsal, ubah perspektif pelatih di Kursus Pelatih Futsal Level 1 Nasional. Mereka fokus kembangkan kiper holistik: teknik, taktik, fisik, fisiologis, dan psikologis berdasarkan usia.
Tagar.co – Aula Auditorium Universitas Ahmad Dahlan Kampus A di Jalan Pramuka, Yogyakarta, pada Rabu pagi (2/7/2025), berselimut suasana sejuk. Namun, kesejukan itu tidak sedikit pun mengurangi keseriusan dan antusiasme para pelatih yang mengikuti kursus pelatih futsal Level 1 Nasional di hari kedua.
Setelah kemarin berkutat dengan berbagai aspek pelatihan fisik, fokus kini beralih ke posisi krusial yang sering disebut sebagai “separuh tim”: penjaga gawang. Materi ini tidak tanggung-tanggung, langsung diampu oleh dua nama besar di dunia futsal Indonesia. Ialah Coach Ade Lesmana dan Coach Citra Adisti. Keduanya pelatih tim nasional futsal Indonesia yang sarat pengalaman.
Sesi pagi bermula dengan materi teori mendalam. Coach Ade Lesmana langsung memandu di kelas A dan Coach Citra Adisti di kelas B. Ruangan penuh dengan 60 pelatih yang mencatat setiap poin penting yang mereka sampaikan.
Pembahasan tidak hanya berhenti pada teknis dasar, melainkan menyelami pengembangan kiper secara holistik. Para peserta mereka ajak memahami, seorang penjaga gawang andal bukan hanya soal kemampuan menangkap bola. Tetapi juga melibatkan aspek teknik, taktik, fisik, fisiologis, hingga psikologi.
Coach Ade Lesmana menekankan pentingnya memahami fisiologis seorang kiper. Bagaimana tubuh mereka beradaptasi dengan tuntutan posisi.
Diskusi berlanjut ke psikologi kiper. Bagaimana membangun mental kuat untuk menghadapi tekanan pertandingan, mengambil keputusan cepat, dan tetap fokus sepanjang laga.
Sementara itu, Coach Citra Adisti dengan lugas menjelaskan cara mendiagnosis gerak dasar seorang penjaga gawang. “Kita harus bisa melihat, apakah gerakannya efisien? Apakah ada kebiasaan buruk yang perlu diperbaiki?” ujarnya.
Ia juga sambil memberikan contoh-contoh visual yang memudahkan pemahaman. Sesi teori ini menjadi fondasi kuat, membekali para pelatih dengan kerangka berpikir komprehensif dalam melihat dan mengembangkan potensi seorang penjaga gawang.
Teori ke Praktik, Asah Gerakan Fundamental
Memasuki sesi praktik di lapangan futsal 4R daerah Mergangsan, antusiasme para peserta semakin memuncak. Inilah saatnya mengaplikasikan teori yang telah mereka dapat.
Coach Ade Lesmana dan Coach Citra Adisti secara bergantian mendemonstrasikan berbagai gerakan dasar tangkapan yang fundamental bagi setiap penjaga gawang. Mulai dari tangkapan W yang krusial untuk bola-bola lurus. Kemudian tangkapan M untuk bola yang datang dengan kecepatan tinggi dan membutuhkan penyerapan optimal. Hingga gerakan antisipasi seperti cross L dan cross M untuk memotong jalur umpan atau tembakan silang.
Tak ketinggalan, gerakan split yang sering menjadi penyelamat dalam situasi satu lawan satu, turut mereka jelaskan secara detail. Mereka menunjukkan bagaimana posisi tubuh, keseimbangan, dan jangkauan menjadi kunci.
Lebih dari sekadar demonstrasi gerakan, kedua pelatih juga menguraikan filosofi latihan berdasarkan kelompok usia. Hal ini menjadi salah satu poin paling menarik bagi para peserta. Sebab, memberikan panduan konkret dalam menyusun program latihan yang efektif dan sesuai dengan perkembangan atlet.

Bangun Fondasi Penjaga Gawang Berjenjang
Untuk usia 6-10 tahun, penekanannya adalah menanamkan gerak dasar penjaga gawang. “Di usia ini, fokus kita adalah pengenalan gerakan. Biarkan mereka bermain, berinteraksi dengan bola, dan membangun fondasi gerak yang benar,” jelas Coach Ade.
Latihan di usia ini, sambungnya, cenderung bersifat menyenangkan dan edukatif, menghindari tekanan berlebihan, dan justru menumbuhkan kecintaan terhadap posisi penjaga gawang. Penguasaan gerak dasar seperti meluncur, menangkap dengan berbagai posisi, dan pemahaman tentang ruang, menjadi prioritas utama.
Beranjak ke kelompok usia 11-13 tahun, fokus latihan bergeser pada peningkatan kemampuan teknik dasar dan pemahaman aturan permainan. “Di sini, kita mulai memperdalam teknik yang sudah diperkenalkan. Ketepatan, kecepatan reaksi, dan pengambilan keputusan sederhana mulai diasah,” imbuh Coach Ade.
Para penjaga gawang di usia ini juga mulai perlu berkenalan dengan aturan-aturan dasar dalam permainan futsal yang relevan dengan posisi mereka. Seperti backpass atau durasi memegang bola, sehingga mereka tidak hanya terampil secara teknis namun juga memahami batasan-batasan dalam pertandingan.
Puncak dari fase pengembangan ini adalah usia 14-16 tahun. Pada kelompok usia ini, latihan sudah mengarah kepada pemahaman taktik, teknik, dan strategi dalam permainan futsal.
“Ini adalah usia di mana mereka harus sudah bisa membaca permainan, mengorganisasi pertahanan, dan mengambil peran aktif dalam strategi tim,” terang Coach Citra.
Skenario Permainan
Latihan-latihan yang dia berikan tidak lagi terpisah-pisah. Melainkan terintegrasi dalam skenario permainan.
Pemahaman tentang set-piece, transisi, hingga bagaimana seorang kiper bisa menjadi awal serangan balik, menjadi bagian penting dalam kurikulum mereka. Teknik-teknik dasar yang sudah mereka kuasai, ia pertajam dan terapkan dalam konteks taktikal yang lebih kompleks.
Hari kedua kursus ini bukan hanya sekadar penyampaian materi. Melainkan sebuah transformasi perspektif bagi para peserta.
Mereka melihat penjaga gawang bukan hanya sebagai penangkap bola terakhir. Tetapi sebagai elemen vital yang mampu membentuk jalannya pertandingan. Baik dalam bertahan maupun memulai serangan.
Dengan bekal ilmu dari Coach Ade Lesmana dan Coach Citra Adisti, para pelatih ini harapannya mampu mencetak generasi penjaga gawang futsal Indonesia yang tidak hanya terampil secara fisik, tetapi juga cerdas secara taktik dan kuat secara mental. (#)
Jurnalis Bening Satria Prawita Diharja Penyunting Sayyidah Nuriyah












