Opini

Palestina Gabung BRICS, Ini Untung Ruginya

41
×

Palestina Gabung BRICS, Ini Untung Ruginya

Sebarkan artikel ini
Palestina mendaftar menjadi anggota BRICS setelah pengakuan kemerdekaan di PBB.
Warga Palestina mengibarkan bendera negaranya di tengah reruntuhan gedung.

Palestina mendaftar menjadi anggota BRICS setelah pengakuan kemerdekaan di PBB. BRICS merupakan kekuatan ekonomi politik baru menggantikan gerakan negara non blok yang lama tak terdengar.

‎‎Oleh M. Rohanudin, praktisi penyiaran

Tagar.co – Habis dibela dan didukung  tanpa syarat oleh negara-negara peserta PBB, pemerintah Palestina langsung mengajukan permohonan bergabung dengan BRICS.

‎Momen baik yang diambil Palestina ini memberi isyarat negara tersebut ingin segera bangkit dari neraka penjajahan dan hidup sebagai negara damai dan bersahabat.

‎Tiongkok salah  satu inisiator berdirinya BRICS langsung menyambut positif permohonan Palestina itu.

Ini sekaligus menandai melebarnya kerenggangan eskalasi ekonomi Barat-Timur terutama antara Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Rusia.

Anadolu Agency pada Sabtu (27/9/2025) memberitakan, Duta Besar Palestina untuk Rusia Abdel Hafiz Nofal yang mengabarkan negaranya telah mendaftar bergabung ke BRICS.

Sambil menunggu syarat-syarat yang harus dipenuhi, sementara ini Palestina akan menjadi tamu di setiap pertemuan BRICS.

Bertambahnya jumlah negara masuk kelompok ini makin menguatkan posisinya. BRICS merupakan aliansi negara-negara berkembang dibentuk tahun 2006. Terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina. Tahun 2011 Afrika Selatan masuk.

Kekuatannya bertambah setelah Uni Emirat Arab, Mesir, Iran, Etiopia, Arab Saudi bergabung tahun 2024. Lalu  Indonesia masuk pada Januari 2025.

Main Dua Kaki

‎Menariknya, beberapa anggota BRICS seperti Brasil, India, UEA, Arab Saudi, Mesir meski pro Barat, tetap bisa menjaga hubungan dengan Rusia dan Cina. Dua negara ini merupakan kekuatan ekonomi politik di Timur. Beberapa negara anggota itu masih main dua kaki, tapi BRICS terus jalan dengan agendanya.

Baca Juga:  ‎Selamat Jalan Jenderal

‎Amerika Serikat dan Brasil, menjalin kerjasama dalam energi terbarukan, pertanian, dan teknologi informasi. Sementara dengan India, AS bekerja sama dalam bidang nuklir, pertahanan, teknologi informasi, dan ruang angkasa.

‎Yang mereka jaga sebenarnya agar hubungan ekonomi tetap kuat, dengan sistem politik demokratis dan  kebutuhan teknologi canggih.

‎Baik Brasil dan India adalah dua negara yang dapat menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Barat dan keanggotaan BRICS.

Mereka memanfaatkan kelebihan dari kedua hubungan tersebut untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan stabilitas politik.

‎Presiden Indonesia Prabowo Subianto, juga ikut menjaga hubungan baik dengan Timur (Selatan-Selatan), dan tetap bersahabat dengan negara-negara Barat. Termasuk akrab dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Cara ini netralitasnya lebih terjamin dan menjauhkan dengan terciptanya musuh-musuh politik.

‎Daya Tarik BRICS

‎Karena BRICS ditopang penuh Tiongkok, kini sudah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia. Ngebut akan menyalip Amerika Serikat.

‎Diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar di  Paritas Daya Beli (GDP PPP) sebesar 58,50 triliun dolar AS.

‎Faktor-faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi Tiongkok antara lain investasi besar-besaran dalam infrastruktur dan teknologi, pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta sektor manufaktur dan ekspor yang kuat.

Baca Juga:  Pelemahan Rupiah dan Forum Davos

‎Ngebutnya Tiongkok ini diproyeksikan akan menguasai setidaknya 20 persen pangsa GDP global pada 2050 dan terus menjadi pemain utama dalam ekonomi global.

‎Sementara Amerika Serikat masih di posisi atas. Memiliki ekonomi terbesar pertama di dunia. Berdasarkan data terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) per Juli 2025, Amerika Serikat memimpin dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 30,51 triliun dolar pada tahun 2025. Tahun 2022 di posisi 25,35 triliun dolar.

‎Dominasi ekonomi AS ini sudah terjaga sejak tahun 1960-an, didukung oleh sektor jasa, teknologi, manufaktur, dan keuangan yang sangat kuat.

‎Berikut adalah peringkat beberapa negara dengan ekonomi terbesar di dunia: Amerika Serikat 30,51 triliun dolar (2025), 25,35 triliun dolar (2022), Tiongkok  19,23 triliun dolar (2025), 19,91 triliun dolar (2022), Jerman 4,74 triliun dolar (2025), 4,26 triliun (2022), Jepang 4,19 triliun dolar (2025), 4,91 triliun (2022), dan India 4,19 triliun dolar (2025), 3,29 triliun dolar (2022).

‎Ekonomi AS terus berkembang dengan inovasi dan investasi dalam berbagai sektor, menjadikannya pemimpin global dalam ekonomi dunia.

Proyeksi India

‎India ingin mengejar Tiongkok dengan membuat proyeksi menuju posisi ekonomi terbesar kedua di dunia pada tahun 2075. Proyeksi pertumbuhan ekonominya mencapai 44,13 triliun dolar pada 2050.

Baca Juga:  IKN, Kota Baru Masalah Lama

‎Faktor-faktor pendukung pertumbuhan ekonomi India meliputi populasi muda yang besar, investasi pemerintah dalam infrastruktur dan manufaktur, ekosistem start-up yang dinamis, serta sektor teknologi dan informasi yang kuat.

‎Namun, India juga perlu mengatasi tantangan seperti ketimpangan ekonomi, infrastruktur yang belum maju, dan pengangguran untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

‎Jadi agaknya proyeksi India  akan menjadi pemain utama dalam ekonomi global di masa depan, masih bergantung pada seberapa besar negara itu melakukan percepatan dalam pengentasan kemiskinan dan pengangguran warganya.

Untung Rugi dengan BRICS

Bergabung dengan BRICS dapat membawa banyak manfaat, namun ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai.

‎Risiko tersebut seperti ketergantungan pada Cina yang dominan, persaingan internal anggota, ketidakstabilan geopolitik yang dapat mengganggu hubungan dengan negara-negara Barat, dan  tekanan diplomatik dari negara-negara Barat.

‎Termasuk  tentang isu tata kelola dan kepercayaan yang belum mapan, serta ketergantungan pada komoditas tertentu yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi.

‎Bagi Palestina, semua negara peserta BRICS sejatinya perlu membuka lebar bantuan kerja sama berjangka panjang.

Ini penting untuk  mempercepat kemerdekaan dan pemulihan kesejahteraan rakyat Palestina yang carut marut dan masih terkungkung dengan perang. (#)

‎Penyunting Sugeng Purwanto