Rileks

Palembang yang Tenang di Jakabaring

81
×

Palembang yang Tenang di Jakabaring

Sebarkan artikel ini
Penulis di area Jakabaring Sport City, Senin (29/12/2025). (Tagar.co/Kemas Asrozi)

Di tengah denyut kota Palembang, Jakabaring menghadirkan ketenangan yang jarang ditemukan—danau yang meneduhkan, langkah-langkah pelan pengunjung, serta ruang publik yang mengajarkan arti pulang, jeda, dan kebersamaan.

Tagar.co — Senin, 29 Desember 2025, siang itu Palembang terasa bersahabat. Matahari tidak terlalu terik, angin berembus pelan, dan langit seperti sengaja membuka ruang bagi perjalanan kecil yang tak direncanakan secara rumit, tetapi justru berkesan mendalam. Bersama suami, Kemas Asrozi, penulis melangkah menuju Jakabaring Sport City, kawasan olahraga terpadu yang selama ini dikenal sebagai salah satu kebanggaan Sumatra Selatan.

Baca juga: Plaza 7 Ulu, Ruang Publik Penuh Warna di Jantung Sungai Musi

Begitu memasuki kawasan Jakabaring, kesan pertama yang muncul adalah luas dan tertata. Jalan-jalan lebar membentang rapi, pepohonan rindang berjejer seolah menyambut setiap pengunjung, sementara bangunan-bangunan olahraga dengan arsitektur modern berdiri megah tanpa kehilangan kesan ramah. Di sini, hiruk-pikuk kota seperti tertinggal di kejauhan.

Langkah pertama kami arahkan ke danau Jakabaring. Danau buatan ini bukan sekadar elemen lanskap, melainkan jantung ketenangan kawasan. Airnya yang tenang memantulkan langit sore, sementara angin sepoi-sepoi membawa rasa damai yang sulit diabaikan. Di sekeliling danau, warga tampak menikmati ruang ini dengan cara masing-masing: ada yang berjalan santai, berolahraga ringan, duduk berdua di bangku taman, hingga sekadar memandangi air tanpa tergesa.

Baca Juga:  Jaga Spirit Ramadan Sepanjang Tahun
Penulis saat menikmati keindahan danau di sekitar Jakabaring Sport City, Senin (29/12/2025). (Tagar.co/Kemas Asrozi)

Berjalan di tepi danau itu terasa seperti berjalan di sela-sela waktu—perlahan, tanpa target, tanpa kebisingan. Kami berhenti beberapa kali, berbincang, tertawa kecil, dan mengabadikan pemandangan. Pada momen-momen sederhana itulah, perjalanan terasa menjadi pengalaman, bukan sekadar kunjungan.

Dari kejauhan, Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring berdiri sebagai ikon kawasan. Bangunannya megah, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar olahraga nasional dan internasional, termasuk perhelatan Asian Games. Stadion itu bukan hanya simbol prestasi olahraga, melainkan juga lambang keseriusan Palembang menempatkan olahraga sebagai bagian penting dari peradaban kotanya.

Di sekitar stadion utama, berdiri berbagai fasilitas lain: arena atletik, stadion tenis, arena dayung, dan pusat-pusat pelatihan atlet. Semuanya menyatu dalam satu kawasan yang hidup—bukan hanya bagi atlet profesional, tetapi juga bagi masyarakat umum. Jakabaring terasa seperti ruang bersama, tempat kota bertemu dengan warganya tanpa sekat.

Di sinilah kesan mendalam itu muncul: Jakabaring bukan hanya kawasan olahraga, tetapi ruang kehidupan. Anak-anak berlari, pasangan berjalan berdampingan, komunitas bersepeda berkumpul, dan para lansia menikmati sore dengan langkah perlahan. Pembangunan tidak lagi terasa sebagai beton dan baja, melainkan sebagai ruang yang memberi manusia tempat untuk bernapas.

Baca Juga:  Saat Ombak Menjadi Penutup RAT Koperasi Bina Pemuda Krian

Menjelang sore, cahaya matahari mulai merunduk, menyisakan semburat keemasan di permukaan danau. Kami melangkah pulang dengan perasaan yang lebih tenang, hati yang lebih ringan. Kunjungan singkat itu berubah menjadi pengingat: bahwa kota yang baik bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar, tetapi tentang ruang-ruang yang membuat warganya merasa pulang.

Jakabaring Sport City, hari itu, telah memberi kami lebih dari sekadar pemandangan. Ia menghadirkan rasa syukur, kekaguman, dan keyakinan bahwa Palembang sedang melangkah ke depan—dengan cara yang manusiawi. (#)

Jurnalis Aniwati Penyunting Mohammad Nurfatoni