Buku

Nur Cholis Huda: Sang Arsitek Kata yang Jadi Rumput Hijau Muhammadiyah

55
×

Nur Cholis Huda: Sang Arsitek Kata yang Jadi Rumput Hijau Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Melalui pendekatan tematik, buku Rumput Hijau di Muhammadiyah ini mengungkap sosok Nur Cholis Huda. Tak hanya sebagai aktivis, tetapi juga penulis produktif dan pendakwah tulus. Perjalanan hidupnya penuh makna dan menginspirasi. Mengapa dia dijuluki rumput hijau Muhammadiyah?
Buku Rumput Hijau di Muhammadiyah (Tagar.co/Didiek Nurhadi)

Melalui pendekatan tematik, buku Rumput Hijau di Muhammadiyah seolah bukan buku biografi meski mengungkap sosok Nur Cholis Huda secara mendalam. Tak hanya sebagai aktivis, tetapi juga penulis produktif dan pendakwah tulus. Perjalanan hidupnya penuh makna dan menginspirasi. Mengapa dia dijuluki rumput hijau Muhammadiyah?

Tagar.co – Buku ini megajak pembaca untuk mengenal lebih dekat perjalanan hidup Nur Cholis Huda, seorang aktivis Muhammadiyah yang juga seorang jurnalis dan pendakwah. Kisahnya bukan hanya tentang peran dalam organisasi, tetapi juga bagaimana ia menggunakan kepenulisan sebagai alat perjuangan dalam menanamkan nilai-nilai Islam dan sosial kemasyarakatan.

Ditulis oleh Amar Faishal, buku ini berupaya menggambarkan sosok yang tidak selalu berada di garis depan, tetapi memiliki pengaruh yang signifikan dalam perjalanan organisasi. Melalui lembaran-lembaran buku ini, kita akan menyaksikan bagaimana Nur Cholis Huda membangun kehidupan dengan kata-kata, merawat komitmennya terhadap Muhammadiyah, dan terus berkontribusi dalam dunia pendidikan serta jurnalistik, menjaga komitmen terhadap Muhammadiyah, dan berkontribusi dalam berbagai bidang—dari pendidikan hingga jurnalistik.

Judul Rumput Hijau di Muhammadiyah bukan sekadar metafora tanpa makna. Istilah ini mencerminkan karakter Nur Cholis Huda yang tetap tumbuh dan bermanfaat di mana pun ia berada. Seperti rumput hijau yang tidak menonjol tetapi memberikan kesejukan dan ketahanan dalam berbagai situasi, Nur Cholis adalah sosok yang berkontribusi besar bagi Muhammadiyah tanpa mencari sorotan utama.

Selama lebih dari 50 tahun, ia mengabdi sebagai penggerak organisasi, penulis produktif, dan pendakwah yang tulus. Dedikasinya yang tidak pernah surut, bahkan setelah pensiun dari dunia birokrasi, menggambarkan keteguhan dan keikhlasannya dalam menjalankan misi dakwah dan kepenulisan. Keberadaannya di Muhammadiyah, meskipun tidak selalu terlihat di garis depan, tetap memberikan manfaat besar, sebagaimana rumput hijau yang terus tumbuh dan menjaga keseimbangan ekosistem.

Perjuangan Hidup dari Menulis

Buku ini disusun secara unik dan tidak mengikuti alur biografi kronologis seperti kebanyakan buku sejenis. Sebaliknya, Amar Faishal memilih pendekatan tematik yang menggambarkan berbagai peran yang dimainkan Nur Cholis Huda dalam perjalanan hidupnya.

Bagian awal buku ini menyoroti peran kepenulisan yang menjadi ciri khas Nur Cholis. Dalam bab Menapak dari Mading (hal. 3), misalnya, pembaca diperkenalkan dengan awal mula ketertarikan Nur Cholis dalam dunia jurnalistik sejak masih di sekolah. Kegemarannya mengelola majalah dinding menjadi fondasi bagi kariernya di bidang kepenulisan.

Hal ini berlanjut dalam bab Artikel dengan Banyak Catatan (hal. 13), yang menggambarkan bagaimana ia mendapatkan koreksi dan masukan dari redaktur Panjimas hingga akhirnya tulisannya layak terbit di media nasional.

Dalam Liputan Artis dan Khatib di Lapangan (hal. 9), pembaca juga diajak melihat bagaimana Nur Cholis mengembangkan keahliannya di dunia jurnalistik, bahkan pernah menjadi peliput acara musik di Surabaya sebelum akhirnya berfokus pada tulisan-tulisan keislaman.

Dalam Menyangga Keluarga lewat Produksi Kata (hal. 17), dikisahkan bagaimana ia berusaha membantu ekonomi keluarga dengan menulis. Nur Cholis tidak hanya menjadi tulang punggung keluarga kecilnya, tetapi juga adik-adiknya yang masih menempuh pendidikan.

Ia bekerja keras, mengorbankan waktu tidurnya untuk menulis artikel yang bisa memberikan pemasukan tambahan bagi keluarganya. Dalam bab ini, pembaca bisa merasakan bagaimana perjuangan seorang kakak yang bertanggung jawab tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya.

Kisah ini tidak hanya menyentuh dari segi perjuangan ekonomi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana lingkungan Muhammadiyah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bantuan yang datang dari orang-orang yang peduli, serta kebijaksanaan yang ia peroleh dari berbagai pengalaman hidup, menjadikan bab ini sebagai salah satu yang paling mengesankan dalam buku ini.

Berkah Tragedi Terowongan Mina

Pada tahun 1990, Nur Cholis Huda mendapat kesempatan berhaji melalui bantuan Surabaya Post. Ia berangkat tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun, bahkan mendapat uang saku dalam dolar yang membantunya lebih leluasa dalam menjalankan ibadah.

Perjalanan hajinya mencapai titik dramatis pada 2 Juli 1990, ketika terjadi tragedi di Terowongan Mina yang menewaskan lebih dari seribu jemaah, mayoritas dari Indonesia. Ia nyaris menjadi korban dalam tragedi tersebut, tetapi secara tidak terduga memilih jalur lain menuju lokasi lempar jumrah dan selamat dari bencana.

Setelah kembali ke Indonesia, ia menuangkan pengalaman tersebut dalam bentuk serial tulisan yang dimuat di halaman pertama Surabaya Post selama hampir dua pekan. Tulisan-tulisan ini mendapat respons luar biasa dari pembaca, hingga akhirnya diterbitkan menjadi buku Kisah Musibah Terowongan Mina. Buku ini laris manis, dicetak ulang berkali-kali, bahkan menjadi salah satu buku best seller yang hingga dicetak oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.

Keuntungan dari buku ini membantunya menyelesaikan pembangunan rumahnya yang sempat terhenti, menjadikan pengalaman hajinya bukan hanya sebagai perjalanan spiritual, tetapi juga sebuah berkah yang nyata dalam hidupnya.

Dalam Istikharah Tawaran Big Boss (hal. 21), sisi kepribadian Nur Cholis yang teguh dalam prinsipnya semakin terlihat. Ketika ditawari posisi di Surabaya Post dengan segala keuntungan materi yang menggiurkan, ia memilih tetap berkhidmat di dunia pendidikan dan dakwah setelah melakukan salat istikharah.

Keputusan ini memperlihatkan bahwa bagi Nur Cholis, materi bukanlah segalanya. Ia lebih mengutamakan panggilan hatinya untuk terus berdedikasi dalam dunia yang ia yakini memberi manfaat lebih besar bagi umat.

Sisi sosial dan kepedulian Nur Cholis terhadap masyarakat juga tampak dalam Dakwah di Lokalisasi (hal. 155). Tidak semua orang berani mendekati tempat-tempat yang selama ini dianggap tabu bagi kegiatan dakwah, tetapi Nur Cholis berani mengambil langkah tersebut.

Ia tidak hanya menyampaikan ajaran Islam di tempat-tempat yang nyaman, tetapi juga di lokasi-lokasi yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang. Sikapnya ini menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya sebatas kata-kata, tetapi juga aksi nyata dalam menjangkau mereka yang membutuhkan bimbingan.

Mengalir, Antikronologis

Buku ini memiliki banyak keunggulan yang membuatnya menarik untuk dibaca. Salah satu kelebihan utama adalah gaya penulisan yang inspiratif dan mengalir. Amar Faishal mampu menyajikan biografi Nur Cholis Huda dengan bahasa yang mudah dipahami, tetapi tetap kaya akan nilai-nilai perjuangan dan pengabdian.

Selain itu, pendekatan tematik yang digunakan dalam buku ini membuatnya lebih menarik dibandingkan biografi konvensional yang biasanya bersifat kronologis. Dengan penyajian seperti ini, pembaca dapat memahami berbagai sisi kehidupan Nur Cholis secara lebih mendalam, baik dalam dunia kepenulisan, pendidikan, maupun dakwah.

Sisi humanisme yang diangkat dalam buku ini juga menjadi kekuatan tersendiri. Misalnya, bagaimana Nur Cholis bekerja keras demi menghidupi keluarganya dengan menulis atau bagaimana pengalaman spiritualnya di Terowongan Mina membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Kisah-kisah seperti ini membuat pembaca tidak hanya mengenal sosoknya sebagai aktivis Muhammadiyah, tetapi juga sebagai manusia yang berjuang dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, buku ini memberikan wawasan yang luas mengenai dunia jurnalistik di kalangan aktivis Islam. Dari cerita tentang pengalaman Nur Cholis di media hingga prinsipnya dalam menolak posisi strategis demi tetap berada di jalur dakwah, pembaca mendapatkan pemahaman mendalam tentang perjuangan seorang jurnalis Muslim di era yang penuh dinamika.

Lebih Eksploratif

Meski memiliki banyak keunggulan, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah minimnya data kuantitatif yang dapat memperkuat narasi. Misalnya, dalam bab PWM, Tanwir, dan Suksesi (hal. 145), buku ini lebih banyak berisi refleksi dan cerita, tetapi tidak disertai data konkret mengenai perkembangan Muhammadiyah selama Nur Cholis aktif di dalamnya.

Buku ini menyertakan beberapa foto sebagai ilustrasi, yang membantu pembaca lebih memahami perjalanan hidup Nur Cholis Huda. Meskipun demikian, penempatan foto di bagian akhir buku kurang membantu ‘menghidupkan’ naskah di tiap bab, malah terkesan seperti album foto.

Beberapa bagian juga terasa terlalu ringkas. Misalnya, dalam Dakwah di Lokalisasi (hal. 155), cerita tentang bagaimana Nur Cholis berdakwah di tempat-tempat marginal cukup menarik, tetapi eksplorasinya masih terbatas. Pembaca mungkin berharap ada lebih banyak cerita mendetail tentang tantangan yang ia hadapi dan strategi yang ia gunakan dalam berdakwah di lingkungan yang sulit.

Kesimpulan

Buku Rumput Hijau di Muhammadiyah adalah bacaan yang menarik dan menginspirasi. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan narasi yang kaya, buku ini layak menjadi referensi bagi aktivis, jurnalis, serta siapa saja yang ingin belajar tentang ketekunan, keikhlasan, dan semangat berjuang dalam dunia dakwah dan kepenulisan.

Meskipun masih memiliki beberapa kekurangan buku ini tetap menjadi salah satu biografi yang patut diapresiasi dan dijadikan bahan renungan bagi generasi penerus Muhammadiyah.

Spesifikasi Buku

  • Judul: Rumput Hijau di Muhammadiyah
  • Penulis: Amar Faishal
  • Editor: Mohammad Nurfatoni
  • Penerbit: Kanzun Books (Kelompok Cakrawala)
  • ISBN: 978-623-6250-67-9
  • Cetakan Pertama: Maret 2024
  • Jumlah Halaman: viii + 184 halaman
  • Ukuran Buku: 150 x 230 mm
  • Harga buku: Rp77.000
  • Pemesanan +62 821-4300-0104 (WA)

Peresensi Ibnu Thohir