
Di Rest Area Bukit Salam, Watulimo, warga Muhammadiyah menumbuhkan tradisi ngendangi — silaturahmi yang bukan sekadar kunjungan, tetapi napas gerakan dakwah bilhal yang menyatukan iman, kerja, dan cinta dalam kehidupan perserikatan.
Tagar.co — Pagi yang sejuk menyelimuti Rest Area Bukit Salam di Kecamatan Watulimo, Trenggalek, Selasa 14 Oktober 2025. Udara segar dari perbukitan berpadu dengan kicau burung dan gemericik air yang menenangkan.
Meski biasanya tempat ini ramai setiap Sabtu dan Ahad dengan aktivitas jual beli hasil bumi serta kuliner lokal, di hari-hari biasa suasananya tetap hidup—terutama di sekitar musala dan bangunan pondok musafir yang tengah dibangun sebagai wujud pengabdian warga Muhammadiyah.
Di sela pembangunan pondok musafir itu, seorang aktivis Muhammadiyah melontarkan kalimat sederhana namun sarat makna.
Baca juga: Intelektualitas Menyala, Dua Buku Diluncurkan di Musyda Fokal IMM Kediri Raya
“Aktivis kudu demen ngendangi. Karena hidup itu harus senang silaturahim. Di Muhammadiyah, kalau dikunjungi itu biasanya sebab sakit atau bahkan sudah tiada.”
Ungkapan itu mengandung pesan mendalam: jangan tunggu saudara jatuh sakit atau berpulang untuk datang berkunjung. Selagi sehat dan mampu, sempatkanlah menyapa, mendengar, dan menjalin kebersamaan.
Dalam tradisi Muhammadiyah, ngendangi—berkunjung atau bersilaturahim—adalah bentuk dakwah bil hal yang memperkuat rasa memiliki dan semangat berkhidmat kepada umat.
Menyapa dengan Hati, Menghidupkan Perserikatan
Bagi kader Muhammadiyah Watulimo, ngendangi bukan sekadar bertamu. Ia adalah praktik nyata dari ukhuwah dan kepedulian. Dengan menyambangi sahabat, ranting, atau amal usaha, mereka belajar memahami denyut kehidupan masyarakat. Dari kunjungan rutin tumbuhlah kepercayaan dan kekompakan yang memperkuat organisasi.
Silaturahmi semacam ini membuat komunikasi antaranggota lebih cepat, masalah terselesaikan lebih mudah, dan ruang kolaborasi baru terbuka lebar. Ngendangi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, menyalakan semangat gotong royong demi kemajuan Persyarikatan serta kesejahteraan masyarakat sekitar.
Rest Area Bukit Salam: Bukti Nyata Pemberdayaan
Kini, Rest Area Bukit Salam bukan hanya tempat singgah bagi pelancong, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi dan spiritual. Dengan lahan yang luas dan fasilitas yang terus dikembangkan, tempat ini dikelola warga Muhammadiyah setempat secara mandiri.
“Tempat ini kami kelola bukan hanya untuk berdagang, tapi juga menanam nilai kerja sama, ketulusan, dan gotong royong,” tutur salah satu penggeraknya.
“Setiap akhir pekan, di sini bukan hanya berjualan, tapi juga bersilaturahmi, berbagi ide, dan belajar bersama.”
Silaturahmi sebagai Napas Gerakan
Pesan terakhir dari sang aktivis kembali menguatkan nilai dasar gerakan ini:
“Ayo, aktivis kudu demen ngendangi. Selagi masih bisa melangkah, tersenyum, dan bersua. Karena kalau sudah didatangi, artinya sudah sakit atau tiada. Ngendangi adalah tanda cinta dan kesetiaan pada perjuangan.”
Rest Area Bukit Salam akhirnya menjadi simbol hidup dari semangat Perserikatan Muhammadiyah—tempat di mana iman, kerja, dan cinta berpadu. Di sini, budaya ngendangi bukan sekadar tradisi, melainkan napas yang menghidupkan dakwah dan mempererat persaudaraan. (#)
Jurnalis Dani Setiawan Penyunting Mohammad Nurfatoni












