Feature

Ngaji Literasi di Masjid Ibnu Katsir: Menjadikan Pena sebagai Jalan Dakwah

67
×

Ngaji Literasi di Masjid Ibnu Katsir: Menjadikan Pena sebagai Jalan Dakwah

Sebarkan artikel ini
M. Anwar Djaelani (depan, kanan) bersama peserta (Tagar.co/Istimewa)

Santri SQ Wahdah Islamiyah Cibinong belajar berdakwah lewat tulisan bersama M. Anwar Djaelani. Tak sekadar teori, mereka langsung praktik menulis. Pena pun diarahkan sebagai senjata dakwah di era digital.

Tagar.co — Malam itu, Masjid Ibnu Katsir di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, tak hanya menjadi tempat ibadah mahdah, tapi juga ruang belajar yang hidup. Sabtu (21.5.25) pukul delapan malam, 25 santri Sekolah Qur’an (SQ) Wahdah Islamiyah duduk bersila, menyimak dengan penuh perhatian. Bukan tafsir atau fikih yang dibahas, melainkan seni menyampaikan kebenaran lewat tulisan.

Kajian bertema “Dakwah lewat Tulisan” ini menghadirkan M. Anwar Djaelani, penulis produktif dengan 13 buku yang telah terbit. Salah satu karyanya bahkan masuk nominasi buku terbaik kategori nonfiksi dalam Islamic Book Fair (Jakarta) 2025.

Baca juga: Hijrah dan Masjid: Menanam Spirit Takwa Sepanjang Zaman

“Berdakwah lewat tulisan sangat besar manfaatnya,” ucap Anwar membuka materi. Ia menekankan pentingnya niat dalam setiap karya tulis. “Menulis, tentang apa pun, harus dimulai dengan niat yang tepat, yaitu untuk meraih rida Allah.”

Baca Juga:  Tradisi Literasi Menggema, Peserta Kajian Ramadan PWM Jatim Terima Buku Sejarah

Tak hanya memotivasi, Anwar juga memberikan panduan teknis. Mulai dari menggali ide, menyusun kerangka tulisan, hingga menjaga konsistensi menulis setiap hari. “Mulailah dengan membuat kerangka karangan,” jelasnya. Ia juga mendorong peserta untuk tidak takut memulai. “Jangan tunggu sempurna, karena setiap tulisan adalah bagian dari proses belajar,” tambahnya.

Para santri tampak antusias. Mereka tak hanya menyimak, tapi juga aktif bertanya dan menanggapi. Salah satu peserta mengangkat tangan dan bertanya, “Bagaimana jika kita merasa belum percaya diri menulis?” Anwar menjawab dengan tenang, “Mulailah dari apa yang kita pahami dan alami.”

Sesi malam itu ditutup sekitar pukul 22.00 WIB. Namun, semangat menulis belum berakhir. Keesokan paginya, Ahad (22/6), selepas salat subuh hingga waktu syuruq (sekitar pukul 06.15 WIB), para peserta kembali berkumpul untuk berdiskusi dan praktik menulis. Anwar memberi tantangan sederhana tapi bermakna: menuliskan berita tentang kegiatan yang baru mereka ikuti.

Untuk memacu semangat, acara juga diselingi pemberian hadiah bagi peserta yang aktif bertanya atau menjawab pertanyaan dari pemateri. Suasana pun makin hangat dan cair, membuat proses belajar terasa menyenangkan.

Baca Juga:  Pandangan Isa Anshary tentang Kekuatan Lisan dan Tulisan Natsir serta Tokoh Lain

Kegiatan “Ngaji Literasi” ini menjadi bagian dari ikhtiar SQ Wahdah Islamiyah dalam menyiapkan para santri yang tak hanya fasih melafalkan ayat, tapi juga mampu menyuarakan dakwah lewat tulisan. Sebab di era digital, pena bisa lebih tajam dari mikrofon, dan artikel bisa lebih viral dari ceramah.

Melalui sesi ini, para santri diajak menyadari bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan kebaikan yang bisa menjangkau ribuan jiwa. Dan jika niatnya benar, setiap huruf yang mereka torehkan bisa menjadi amal yang terus mengalir. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni