OpiniUtama

Netanyahu dan Bayang-Bayang Saladin

28
×

Netanyahu dan Bayang-Bayang Saladin

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ucapan Netanyahu tentang “Saladin modern” mengungkap kekhawatiran Israel bahwa Gaza bukan hanya perang senjata, tetapi perang simbol dan narasi yang bisa menyatukan dunia Islam.

Oleh Fahmi Salim; Direktur Baitul Maqdis Institute

Tagar.co – Dalam salah satu pernyataannya di tengah perang Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat memperingatkan bahwa bila Israel menghentikan pertempuran sebelum “Hamas benar-benar dihancurkan”, maka Yahya Sinwar—pemimpin Hamas di Gaza—bisa muncul sebagai “Saladin modern” di mata dunia Arab.

Baca juga: Gencatan Senjata Gaza: Dari Krisis Kemanusiaan ke Dinamika Geopolitik Baru

Pernyataan itu bukan pujian, melainkan retorika politik yang sarat pesan psikologis. Netanyahu tahu, figur Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) masih menjadi simbol heroisme perlawanan Islam terhadap penjajahan Barat dan penaklukan Yerusalem.

Dengan mengaitkan Sinwar pada figur legendaris itu, Netanyahu berusaha mengingatkan publik Israel bahwa perang Gaza bukan sekadar operasi militer, melainkan juga perang simbol dan persepsi global.

Politik Simbol dan Perang Narasi

Dalam geopolitik modern, kemenangan tidak lagi hanya diukur dari wilayah yang dikuasai, tetapi juga dari narasi yang dimenangkan. Hamas, meski kalah dalam daya tembak, berusaha membingkai perang Gaza sebagai perjuangan Al-Quds—melanjutkan spirit Saladin dalam melawan dominasi Israel.

Baca Juga:  Mandat Internasional untuk Gaza

Sementara itu, Netanyahu khawatir jika gencatan senjata datang terlalu dini, dunia Arab dan Muslim akan menilai bahwa Hamas berhasil “bertahan” melawan kekuatan Israel, dan itu cukup untuk memahat Sinwar sebagai pahlawan baru perlawanan.

Dalam logika simbolik dunia Islam, bertahan dari agresi Zionis bisa bermakna kemenangan moral—sebagaimana Saladin memenangkan hati umat Islam sebelum memenangkan Yerusalem.

Antara Ketakutan dan Kebanggaan

Pernyataan Netanyahu itu juga mencerminkan ketakutan lama Israel: bahwa konflik Gaza bisa melahirkan narasi baru tentang pembebasan Palestina yang menyatukan dunia Islam. Ia sadar, simbol Saladin tidak sekadar milik masa lalu, tetapi dapat hidup kembali sebagai inspirasi perlawanan modern—termasuk di Gaza.

Ironisnya, ucapan Netanyahu justru menegaskan betapa kuatnya resonansi simbolik Islam dalam konteks politik kontemporer. Bagi banyak kalangan Muslim, perbandingan itu malah memperkuat posisi moral Hamas di tengah penderitaan rakyat Gaza, seolah sejarah kembali berputar di tanah yang sama: Yerusalem dan sekitarnya.

Penutup

Ucapan Netanyahu bukan sekadar strategi retorika, melainkan cermin dari perang persepsi global antara Israel dan Palestina. Di satu sisi, ia ingin menggugah ketakutan rakyatnya agar perang dilanjutkan; di sisi lain, kata-katanya justru memberi amunisi simbolik bagi dunia Islam.

Baca Juga:  Board of Peace, MUI, dan Ujian Kepercayaan Publik

Sejarah menunjukkan, sering kali yang kalah di medan perang bisa menang di medan makna. Dan ketika Netanyahu menyebut Yahya Sinwar sebagai “Saladin modern”, tanpa disadari ia sedang mengakui satu hal penting: bahwa peperangan di Gaza tidak hanya tentang bom dan tank, tetapi tentang siapa yang akan menulis bab selanjutnya dalam sejarah perlawanan di Tanah Suci Baitulmaqdis, dengan pusat keberkahannya yaitu Masjidilaqsa. (#)

Jakarta, 25 Oktober 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni