
Ratusan siswa Smamsatu Gresik menjalani ujian haji di Masjid K,H. Ahmad Dahlan Muhamamdiyah Sidayu. Miniatur Ka’bah, Safa-Marwah, dan Jamarat jadi sarana ujian yang penuh makna.
Tagar.co – Selasa (10/6/25) pukul 07:30 ratusan siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik berkumpul di halaman sekolah. Mereka mengenakan pakaian serba putih, ihram—para siswa mengenakan dua lembar kain tanpa jahitan, sementara para siswi mengenakan busana muslimah yang menutup seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan.
Hari ini siswa kelas X sedang mengikuti Ujian Karakter pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahaan berupa Manasik Haji. Anas Thohir S.Ag., M.Pd.I dan Estu Rahayu, S.Ag. —tampak membimbing mereka.
Baca juga: Kurban Ramah Lingkungan Smamsatu: 307 Besek Dibagikan, Asem-Asem Balungan Disajikan
Ustazah Estu bertugas menjelaskan rangkaian kegiatan manasik haji hari ini. Sementara Ustaz Anas membimbing siswa berniat umrah haji dan melantunkan kalimat talbiah.
Suara gemuruh talbiah pun menggema tujuh kali:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Di bawah naungan langit Kota Gresik nan biru lagi hangat itu, mereka mengambil mikat.

Lalu dengan mengendarai 15 angkot alias angkutan kota berwarna biru muda mereka berangkat menuju Masjid K.H. Ahmad Dahlan Muhammadiyah Sidayu, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Masjid yang berada di pesisir pantura itu menjadi miniatur Masjidilharam. Bukan tanpa alasan Smasatu mengajak para siswa ‘pergi haji’ di sana, sebab masjid ini memiliki fasilitas manasik haji yang relatif lengkap.

Ada Mataf yakni tempat Tawaf lengkap dengan miniatur Ka’bah, Makam Ibrahim dan Hijir Ismail. Ada pula miniatur Bukit Safa dan Marwah tempat sai dan Jamarat untuk melempar jumrah. Selain itu tempat-tempat terbuka atau ruang lainnya di sekitar masjid bisa menjadi lokasi wukuf di Arafah, mabid di Muzdalifah, dan tinggal di Mina.
Begitu sampai di masjid yang diersmikan oleh Sekretarois PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti pada 21 Mei 2023 itu, para siswa dibagi menjadi tiga kelompok: Kelompok I terdiri dari kelas X 1, 2, dan 3; Kelompok II terdiri dari kelas X 4 dan 5; serta Kelompok III terdiri dari kelas X 6 dan 7.

Mereka secara bergantian melakukan umrah wajib, yakni tawaf dan sai. Ustas Anas dan Ustazah Estu kali ini bertindak sebagai penguji yang menilai ibdah mereka. Bagaimana memulai tawaf dari Hajaraswad dengan bacaannya; bagaimana doa saat melewati Rukun Yamani, dan amalan lainnya, termasuk minum air Zamzam.
Selaian mempraktikkan tawaf dan sai, para siswa juga mempratikkan melempar Jumrah Akabah (10 Zulhijah) serta Jumrah Ula, Wusta, dan Akabah (11, 12, 13 Zulhijah). Kegiatan ini diuji oleh Ustadz Muhammad Naufal, L.c., M.S.I., guru mapel diniah dan Ustadzah Eka Rohmatun Nazilah, S.Pd. sebagai guru mapel Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Keduanya juga musrif dan musrifah Muhammadiyah Boaording School (MBS) Madinatul Ilmi Smamsatu..
Memang, karena keterbatasan waktu, tidak semua sunah dan rukun haji dipraktikkan. Tetapi seluruh rangkaian haji dijelaskan secara gamblang oleh Ustaz Thohir saat seluruh peserta berkumpul di ruang utama K.H. Ahmad Dahlan yang berada di pantau utara itu.

Suasana Masjidilharam terasa dari mihrab masjid yang berhias Kiswah Ka’bah. Duduk di hadaan para peserta manasik haji, Ustaz Anas menyampaikan penjelasan manasik haji.
Ustaz Anas, sapaannya, yang dua tahun lalu berkesempatan menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, dengan gaya komunikatif dan sesekali diselingi kisah pengalaman pribadi, dia mengajak siswa memahami rangkaian ibadah haji beserta makna spiritual di baliknya.
Mulai dari niat ihram, mikat, tarwiah di Mina, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, melontar Jumrah Akabah, tawaf Ifadah, tahalul, melempar jumrah Ula, Wusta, dan Akabah, hingga tawah Wada.
Yang membuat hati bergetar adalah saat Ustaz Anas mengajak para siswa melantunkan kembali kalimat talbiah saat penjelasan wukuf di Arafah.
Salah satu siswi mengungkapkan perasannya setelah kegiatan ini ”Panas, tapi seru sih. Kaos kaki saya jadi butek karena harus nyeker, nggak boleh pakai sepatu.” ujar Evelin Dwi Anjani, siswi kelas X-1.
Jurnalis Zada Kanza Makhfiya Mohammad Penyunting Mohammad Nurfatoni












