
Lewat program Nafas Gemilang Rogo, organisasi perempuan muda Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama—Nasyiatul Aisyiyah dan Fatayat NU—di Ponorogo bersatu mendampingi ibu hamil dan remaja demi mencetak generasi bebas stunting.
Tagar.co – Sport Hall SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo, Jawa Timur, dipenuhi energi dan semangat pada Rabu, 24 April 2025. Lebih dari 200 kader perempuan dari Nasyiatul Aisyiyah dan Fatayat NU berkumpul dalam sebuah workshop bertajuk ASI Eksklusif dan Pendampingan Ibu Hamil.
Namun, acara ini bukan sekadar kegiatan edukatif. Di tengah antusiasme peserta, berlangsung penandatanganan perjanjian kerja sama yang menjadi tonggak baru dalam sejarah gerakan perempuan muda Ponorogo: peluncuran program Nafas Gemilang Rogo akronim Nasyiatul Aisyiyah dan Fatayat NU Sinergi Bergerak Mendampingi Ibu Hamil dan Keluarga di Kabupaten Ponorogo.
Baca juga: Menyalakan Terang Kartini: PDNA Ponorogo Bangkitkan Semangat Perempuan Muda di SDMT
Program ini lahir dari semangat kolaborasi antara Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Ponorogo, Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo. Tujuannya satu: menurunkan angka stunting dengan pendekatan berbasis komunitas, dipelopori oleh kader-kader perempuan di akar rumput.
Arinda Eka Agustina, A.Md.Keb., Ketua Departemen Kesehatan dan Lingkungan PDNA Ponorogo, mengungkapkan rasa bangganya terhadap kegiatan yang sarat makna ini.
“Materi yang disampaikan sangat relevan dan dibutuhkan. Ini akan menjadi bekal penting bagi kader-kader Nasyiah dalam mendampingi ibu hamil. Kami ingin mengajak para ibu agar rutin memeriksakan kehamilannya, rajin mengonsumsi tablet tambah darah, serta siap memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Semua ini adalah langkah konkret untuk mencegah stunting,” tegasnya.

Tak berhenti di situ, PDNA Ponorogo juga telah menyiapkan kader khusus bernama Pashmina akronim Pelayanan Remaja Sehat Milik Nasyiatul Aisyiyah. Kader-kader ini diposisikan sebagai garda depan dalam mengedukasi remaja, khususnya remaja putri yang kelak akan menjadi ibu.
“Pencegahan stunting tidak bisa ditunda. Harus dimulai sejak usia remaja,” ujar Nova Robithotul Khoir, S.Pd.I., Ketua PDNA Ponorogo. “Kader Pashmina sudah kami latih dan kukuhkan. Ke depan, kami akan menyusun strategi lebih terstruktur agar kader posyandu di desa-desa dapat menjalankan edukasi gizi, pentingnya pemeriksaan kehamilan, dan ASI eksklusif dengan lebih sistematis.”
Nova meyakini bahwa sinergi lintas organisasi ini menjadi kunci penting dalam memperluas dampak gerakan. “Kami ingin gerakan ini bukan hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar menjadi aksi nyata yang menyentuh keluarga-keluarga di Ponorogo,” ujarnya penuh harap.

Dukungan penuh juga datang dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo, Dyah Ayu Puspitaningarti, S.K.M., M.Kes.
Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa Dinkes akan terus memperkuat kapasitas kader dari Nasyiatul Aisyiyah dan Fatayat NU melalui pelatihan rutin, edukasi kesehatan, dan pengawasan berkala. Ia menyambut baik semangat gerakan ini sebagai bagian dari strategi besar mengurangi prevalensi stunting di kabupaten yang dipimpinnya.
Dengan bergulirnya Nafas Gemilang Rogo, Ponorogo memasuki babak baru dalam perjuangan menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas. Sebuah gerakan kolektif yang digerakkan oleh tangan-tangan perempuan muda—penuh dedikasi, ilmu, dan ketulusan.
Jurnalis Rihan Dwidarmawati Penyunting Mohammad Nurfatoni












