
Mobil nasional berulang kali dicita-citakan, namun tak pernah kesampaian. Malah bikin malapetaka dan dongkol hati rakyat terkena kibulan pejabat.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, penulis tinggal di Semarang.
Tagar.co – Pejabat Indonesia tak pernah kehilangan hasrat bercita-cita membangun mobil nasional. Mulai mobil Timor, Esemka, Kancil, dan mobil prototype zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Kali ini Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap cita-cita mobil nasional juga. Katanya ini juga cita-cita Presiden Prabowo Subianto.
Telah disiapkan merek, desain, lahan, pabrik. Ditarget mobil buatan Indonesia bisa meluncur dalam tiga tahun mendatang. Bakal diproduksi 200 ribu mobil dan bus listrik.
Proyek ini ditangani PT Pindad bekerja dengan perusahaan otomotif Korea Selatan, KG Mobility. Mengingatkan dengan mobil Timor yang kerja sama dengan KIA dari Korea Selatan juga.
PT Pindad yang terkenal dengan produk senjata, sudah berpengalaman memproduksi mobil panser dan jip Maung. Jip ini sudah dipakai oleh presiden dan menteri.
Mobil produk KG Mobility sudah banyak beredar di Korea. Belum masuk ke Indonesia. Mungkin saja sebentar lagi produknya beredar di sini setelah kerja sama ditandatangani.
Seperti mobil Timor dulu menjadi perantara masuknya beragam mobil merek KIA ke Indonesia.
Produk KG Mobility kebanyakan jenis Sport Utility Vehicle (SUV). Jenis kendaraan serbaguna yang menggabungkan kenyamanan mobil penumpang dengan kemampuan off-road.
Mobil SUV buatan KG Mobility seperti Actyon, Torres, Rexton, Tivoli, Korando, dan pikap listrik Musso EV.
Kerja Sama
Boleh saja bercita-cita mobil nasional. Tapi jangan terulang petaka dan ngibul. Mobil Timor yang awalnya dibanggakan malah mangkrak menjadi rongsokan.
Zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan mengundang sejumlah anak muda pembuat mobil. Lahir sejumlah mobil prototipe meniru Ferrari. Salah satunya ditabrakan Dahlan Iskan ke tebing Tawangmangu saat pulang kampung ke Magetan.
Di zaman Dahlan pula pembuat bus listrik untuk KTT APEC, Dasep Ahmadi, Direktur PT Sarimas Ahmadi Pratama, masuk penjara 9 tahun.
Dasep terjerat permainan korupsi para pejabat dalam pengadaan 16 bus listrik yang tak sesuai spesifikasi. Kerugian negara Rp28,99 miliar.
Kisah mobil Esemka malah bikin geregetan. Berhasil mendongkrak pamor Wali Kota Solo Joko Widodo menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat menjadi presiden dicita-citakan sebagai mobil nasional.
Katanya sudah dibangun pabrik di Boyolali. Bekerja sama dengan perusahaan otomotif Cina. Kalau beli harus inden. Setelah itu mobil tak pernah muncul sampai Jokowi lengser.
Sekarang kalau Presiden Prabowo Subianto ingin membangun mobil nasional boleh saja. Syaratnya sungguh-sungguh. Bukan pecitraan politik.
Belajar dari beberapa negara yang produksi mobil nasional, awalnya kerja sama dengan pabrik yang sudah mapan.
Jepang membangun industri otomotif pertama kerja sama dengan merek Eropa. Isuzu kerja sama dengan Wolseley Motors Inggris. Nissan dengan Austin juga dari Inggris. Mitsubishi dengan Fiat Italia.
Setelah kalah di Perang Dunia II, Jepang bangkit dengan industri mobil merek dalam negerinya seperti Toyota, Honda, Daihatsu, Nissan, Suzuki, Mazda, Mitsubishi, Subaru, Isuzu, Hino, Kawasaki, dan Yamaha.
Cina, membuat mobil produk dalam negeri pertamanya berupa truk merek Jiefang. Hasil kerja sama dengan Uni Soviet tahun 1953.
Lalu memproduksi mobil sedan kerja sama dengan VW tahun 1984. Setelah itu muncul merek nasional seperti Wuling, Chery, BYD, DFSK, dan MG. Tahun 2009 industri mobil Cina mengalahkan Jepang.
Malaysia membangun mobnas pertama Proton Saga kerja sama dengan Mitsubishi. Prototipenya meniru Lancer Fiore produksi 1983. Proton Saga pertama meluncur tahun 1985. Hingga sekarang tetap eksis dengan beragam tipe.
Potensi Besar
Kegagalan masa lalu bukanlah aib, tetapi pelajaran. Masalahnya, kita sering mengulangnya tanpa benar-benar belajar.
Semua sudah tahu, Indonesia memiliki potensi besar membangun industri otomotif. Pasar besar, sumber daya manusia kreatif, dan lembaga riset yang berkembang. Hanya saja cita-cita punya mobil nasional cuma ala kadarnya.
Belajar dari pengalaman negara tetangga, maka langkah pertama, bangun ekosistem riset dan penguasaan teknologi.
Tidak ada bangsa yang bisa mandiri hanya dengan membeli lisensi dari luar negeri. Malaysia dengan Proton dan Vietnam dengan VinFast bisa tumbuh karena membangun laboratorium riset dan desain sendiri.
Kedua, libatkan industri kecil dan menengah (IKM) sebagai bagian dari rantai pasok nasional. Jika mobil nasional hanya dikerjakan oleh segelintir BUMN dan mitra asing, maka akan kehilangan makna kemandirian.
Sebaliknya, jika komponen diproduksi oleh banyak IKM di berbagai daerah, maka manfaat ekonomi akan menyebar luas, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat daya tahan industri dalam negeri.
Ketiga, konsistensi kebijakan lintas pemerintahan. Banyak proyek besar gagal bukan karena teknologinya lemah, tetapi karena setiap pergantian kabinet selalu mengganti arah kebijakan.
Industri otomotif membutuhkan waktu panjang 10 hingga 20 tahun untuk benar-benar matang. Tanpa komitmen lintas periode, mobil nasional akan berakhir seperti mimpi yang diulang setiap dekade tanpa hasil nyata.
Keempat, transparansi dan akuntabilitas publik. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk proyek strategis harus bisa diaudit.
Setiap kebijakan harus bisa dipertanggungjawabkan. Publik tidak butuh pidato optimistis, tapi laporan kerja yang terbuka.
Jangan biarkan proyek nasional berubah menjadi ladang korupsi pejabat di lingkar kekuasaan.
Kelima, branding dan nilai budaya yang kuat. Mobil nasional tidak hanya soal mesin, tapi juga identitas bangsa.
Nama, desain, hingga filosofi di baliknya harus mencerminkan karakter Indonesia sederhana, tangguh, ramah lingkungan, dan berakar pada budaya gotong royong. Jangan biarkan ia hanya menjadi produk birokratis tanpa jiwa.
Mobil nasional tidak akan berhenti di papan desain atau prototipe pameran. Harus lahir sebagai kendaraan rakyat. Bukan citra politik. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












