Khotbah

Menjadi Muslim Bermartabat: Menuai Takwa dari Ladang Ramadan, Khotbah Idulfitri Terbaru

49
×

Menjadi Muslim Bermartabat: Menuai Takwa dari Ladang Ramadan, Khotbah Idulfitri Terbaru

Sebarkan artikel ini
Aji Damanuri

Ramadan membentuk jiwa yang malu berbuat dosa dan berani menegakkan kebaikan. Idulfitri jadi momentum memperteguh takwa dan menjaga fitrah agar tak larut dalam nafsu duniawi.

Oleh Ustaz Dr. Aji Damanuri, M.E.I. CFRM; Dosen FEBI IAIN Ponorogo; Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Tulungagung; dan Ketua Dewan Pengawas Syariah Lazismu Tulungagung.

Khotbah Idulfitri lainnya: Khotbah Idulfitri 2025: Merdeka dari Nafsu, Menebar Rahmat untuk Semesta

Tagar.co – Khotbah Idulfitri 1446 ini berjudul Menjadi Muslim Bermartabat: Menuai Takwa dari Ladang Ramadan. Berikut naskah lengkapnya:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ ٣×، اللهُ أَكْبَرُ ٣×، اللهُ أَكْبَرُ ٣

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا،وَالْحَمْدُلله كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَ نَصَرَ عَبْدَهُ، وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ هُوَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَر ُوَللهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُللهِ الًّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ اَحَسَنُ عَمَلاَ
وَ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَاعَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى
أَشْهَدُأَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ
الَّذِيْ أَوْضَحَ الطَّرِيْقَ لِلطَّالِبِيْنَ، وَ سَهَلَ مَنْهَجَ السَّعَادَةِ لِلْمُتَّقِيْنَ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِالأَمِيْنَ وَاْلإِمَامُ ِللْمُتَّقِيْنَ
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

Allâhu Akbar 3x, walillâhilhamd
Saudaraku kaum Muslim Rahimakumullâh

 

Tagar.co – Hari ini umat Islam tengah merayakan Idulfitri. Jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan kepada Allah Swt.

Tidak ada perpisahan yang lebih mengharukan dari pada perpisahan dengan Ramadan. Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Di dalamnya kita semua diantarkan secara perlahan menuju titik fitrah. Titik penciptaan kita yang bersih dan suci.Allah Sang Pencipta tidak pernah bermaksud buruk ketika pertama kali menciptakan manusia.

Karena itu tidak mungkin manusia mencapai kesempurnaan dirinya tanpa kembali ke titik asal diciptakannya. Itulah titik di mana manusia benar-benar menjadi manusia. Bukan manusia yang penuh lumuran dosa dan kekejaman. Bukan manusia yang dipenuhi gelimang kemaksiatan dan kedzaliman.

Allâhu Akbar 3x, walillâhilhamd
Saudaraku kaum Muslim Rahimakumullâh

Ramadan sebagai titik tolak kembali ke fitrah sejati. Bahwa dari Ramadan kita bangun komitmen ketaatan seumur hidup seperti ketaatan selama Ramadan. Jangan sampai apa yang telah kita bangun selama Ramadan kita rusak kembali. Seperti sindiran Allah Swt dalam Surah An-Nahl 92:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali …”

Ini sebuah pelajaran yang sangat mahal. Allah merekam kisah seorang wanita yang hidupnya sia-sia. Dari pagi sampai sore ia hanya memintal benang. Sore hari ketika pintalan itu selesai, ia ceraiberaikan kembali.

Berapa banyak orang yang hanya semangat beribadah di bulan Ramadan saja, bagitu Ramadan pergi, semua ibadah itu lenyap seketika dari permukaan. Berapa banyak orang Islam selama Ramadhan rajin ke masjid, tetapi begitu Ramadan habis, seakan tidak kenal masjid lagi.

Baca Juga:  Hisab Dituding Menyimpang dari Sunah—Benarkah?

Berapa banyak orang Islam yang selama Ramadan rajin membaca Al-Qur’an, tetapi begitu Ramadan selesai, Al-Qur’an dilupakan begitu saja. Mirip dengan kisah wanita yang Allah ceritakan di atas. Selama Ramadan ketaatan dirangkai, begitu Ramadan habis, semua ketaatan yang indah itu dicerai beraikan kembali.

Allâhu Akbar 3x, walillâhilhamd
Saudaraku kaum Muslim Rahimakumullâh

Ketika nafsu telah kita kendalikan maka buah dari puasa kita adalah ketakwaan. Al-Qur’an menggambarkan kondisi ideal yang selazimnya muncul dari orang yang beridentitas taqwâ di antaranya adalah:

1. Lebih mengedepankan sifat kesatria, dan tidak pernah memandang remeh orang lain

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan pemafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 237)

3. Tidak lari dari tanggung jawab yang ada padanya

وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ

“Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.” (Al-Baqarah 282)

4. Tidak menyembunyikan apa yang harus dikatakan, dan tidak mengatakan apa yang harus didiamkan

وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 283)

6. Menjadikan kejujuran sebagai tabiatnya

فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Al-Nisâ’ 9)

7. Berkreativitas tinggi untuk mencari peluang menuju keberhasilan dengan mengedepankan seportivitas sebagai tanda kebesaran jiwanya.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Al-Mâidah: 35)

8. Jika kondisi tersebut berada pada kehidupan orang mutakîn, maka akan terbuka jalan penyelesaian segala bentuk problem dan mendapatkan jalan keluar dengan terciptanya tatanan hidup yang saling mencerahkan bagi perasaan.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.” (Al-Talâq 2)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Al-Talâq 4)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (Al-Talâq: 5)

Baca Juga:  Kenyang dari Sampah Masjid

Allâhu Akbar 3x, walillâhilhamd
Saudaraku kaum Muslim Rahimakumullâh

Di samping capaian takwa sebagai prestasi puncak puasa, Ramadan juga menjadi lembaga pendidikan bagi kita untuk menaklukkan hawa nafsu kita supaya kita selalu mengambil jalan ketakwaan.

Orang yang memperturutkan hawa nafsunya akan kehilangan rasa malu, malu pada diri sendiri, malu kepada tetangga, teman, saudara, bahkan tidak malu kepada Allah.

Akhir-akhir ini kita sering disodori dengan berbagai tayangan yang amat memilukan, di mana pelaku kejahatan, kezaliman, kemaksiatan dipertontonkan secara vulgar, secara terang-terangan, tanpa rasa malu.

Kalau dahulu maling ayam karena terpaksa, ketika ketahuan akan malu sampai harus hijrah atau merantau ke wilayah lain. Sekarang, seorang koruptor dengan santai tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepada para wartawan dan rakyat tanpa rasa berdosa.

Ini menunjukkan bahwa orang yang memperturutkan hawa nafsunya telah kehilangan rasa malu. Sikap seperti ini adalah sikap yang jauh dari akhlak islam. Rasulullah Saw telah bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الإِسْلامِ الْحَيَاءُ

Rasulullah bersabda; setiap ajaran agama memiliki ajaran moral, dan ajaran moral Islam adalah sikap malu. (H.R. Ibnu Mâjah bersumber dari Anas)

Dalam kehidupan, rasa malu laksana perisai jiwa dari kejahatan dan dari cercaan orang lain. Dengan demikian, sikap malu adalah upaya seseorang untuk membentengi dirinya dari perilaku yang menjadikan dirinya hina. Rasa malu terhadap diri sendiri, merupakan standar dasar harga diri seseorang.

Bagaimana seseorang akan menaruhkan rasa malunya terhadap orang lain, jika terhadap dirinya saja sudah tidak diperhitungkan. Bagaimana seseorang akan menaruhkan rasa malunya kepada Allah yang bersifat ghaib, jika di tengah hiruk-pikuk keramaian teman sekelilingnya telah dia abaikan.

Oleh karenanya, ketika seseorang telah kehilangan rasa malunya, tidak ada yang dapat diharap dari pihak lain kecuali rasa dan sikap benci terhadapnya. Rasulullah Saw menjelaskan hakekat malu ini dalam sebuah hadis

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنْ مَنْ اسْتَحَى مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ فَلْيَحْفَظْ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى وَلْيَحْفَظْ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى وَلْيَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Pada suatu hari Rasulullah bersabda; Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenarnya. Para sahabat menyahut, al-hamdulillah ya Rasulillah kami telah bersikap malu kepada Allah. Rasul menjawab; bukan itu yang dikehendaki dengan malu. Yang dikehendaki dengan malu kepada Allah yang sebenarnya adalah kamu harus menjaga kejahatan yang dilakukan oleh kepalamu dan apa yang ada di sekitarnya, kamu harus menjaga kejahatan yang dilakukan oleh perutmu dan apa yang ada disekelilingnya.

Hendaklah kamu selalu mengingat antara kematian dan kehidupan, barang siapa yang menghendaki kebahagiaan akhirat, hendaklah ia menjauhkan dari keterpedayaan dunia. Maka siapa yang melakukan yang demikian itu, dialah orang yang malu kepada Allah dengan sebenarnya.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad bersumber dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

Baca Juga:  Takjil Viral, Risiko Nyata: Alarm Kesehatan bagi Gen Z

Hadis di atas memberi kita pelajaran yang sangat berharga, bahwa kepala dan sekitarnya, yaitu otak, mata, telinga, mulut, hidung merupakan tempat pertaruhan harga diri seseorang. Apakah ia akan mempermalukan dirinya dan membawa pada kemaksiatan dan kezaliman atau membawa pada kemuliaan.

Berapa banyak kejahatan dan kemaksiatan selalu berangkat dari fikiran yang didorong oleh penggunaan panca indra yang tidak tepat. Begitu pula perut dan sekitarnya sebagai perlambang nafsu serakah dan seksual.

Ketika seseorang tidak mampu menguasai hasrat perut dan seksualnya maka ia akan terjerumus dalam dosa yang akan mempermalukannya, baik di mata manusia maupun di mata Allah Swt. Hidupnya akan ditimpa berbagai masalah tanpa henti, yang akan membuatnya tidak nyaman dan bahagia hidup di dunia ini. Nafsu setan hanya memberikan kebahagiaan semu bagi para pelakunya.

Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk menjaga kejahatan pikiran dan nafsu serakah perut dan seksualitas kita, yang salah satunya dengan puasa ramadhan. Dengan latihan yang serius selama ramadhan insyaAllah kita mampu mengendalikan nafsu fikiran, nafsu perut dan nafsu seksualitas kita, sehingga kita menjadi seorang muslim yang istiqamah, cerdas, sehat dan dicintai oleh sesama manusia bahkan Allah Swt.

Allâhu Akbar 3x, walillâhilhamd
Saudaraku kaum Muslim Rahimakumullâh

Marilah kita akhiri khotbah Idulfithri ini dengan bersimpuh sejenak, merendahkan hati dan nafsu kita, untuk memohon belas kasih Allah. Semoga kita menjadi mukmin yang bermartabat dan mengedepankan akhlak, rasa malu, kemandirian sikap sebagai seorang muslim. Sehingga kita bisa menjadi hamba-hamba Allah yang mau berjuang dijalan-Nya dan meraih nikmatnya takwa.

اللهم صل وسلم على هذاالنبى الكريم محمد وعلى آله وأصخابه أجمعين, اللهم اعزالإسلام و المسلمين وأهلك الكفرة و المشركين وأعداءك أعداء الدين. اللهم إعفرللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك شميع قريب مجيب الدعوات. رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ . رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة الحسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين. و السلام عليكم ورحمة الله وبرآاته

Penyunting Mohammad Nurfatoni