
Hidup tak hanya soal menerima nikmat, tapi juga merelakan yang pergi. Rasulullah Saw. mengajarkan cara menjaga hati tetap utuh—baik saat diberi maupun saat diuji kehilangan.
Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy
Tagar.co – Hidup ini seperti roda—kadang di atas, kadang di bawah. Kadang engkau diguyur nikmat, kadang diuji dengan kehilangan. Kadang engkau tertawa lepas, kadang matamu basah tanpa suara.
Namun Rasulullah ﷺ telah memberikan resep hati yang dalam untuk menghadapi realitas dunia yang fluktuatif ini. Sebuah hadis yang seharusnya ditanamkan sejak dini dalam hati setiap mukmin:
انظروا إلى من هو أسفل منكم، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (H.R. Muslim)
Baca juga: Semua Penyakit Ada Obatnya: Ikhtiar Langit, Iman, dan Warisan Nabawi
Hadis ini bukan sekadar nasihat untuk menghibur si miskin. Ini adalah strategi spiritual agar jiwa tidak gampang iri, kecewa, dan ingkar. Sebab melihat ke atas tanpa ilmu bisa memicu keluh, tetapi melihat ke bawah dengan iman akan menumbuhkan syukur.
Tak heran jika dalam Al-Qur’an, Allah Swt. pun memperkuat prinsip ini dalam firman-Nya:
كَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian, dan tidak terlalu bergembira terhadap apa yang Allah berikan kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Al-Hadid: 23)
Dalam Tafsir al-Qurṭubī, ayat ini dipahami sebagai peneguhan karakter mukmin sejati: mereka yang tidak berlebihan dalam menyambut dunia, dan tidak patah hati ketika kehilangannya.
فَالْمُؤْمِنُ الَّذِي يَعْرِفُ حَقِيقَةَ الدُّنْيَا لَا يُفْرِطُ فِي الْفَرَحِ بِهَا، وَلَا يَغْتَمُّ عَلَى مَا فَاتَهُ مِنْهَا…
“Seorang mukmin yang memahami hakikat dunia, tidak akan berlebihan dalam gembira saat diberi, dan tidak pula hancur saat kehilangan…”
Maka, saat engkau kehilangan sesuatu, itu bukan akhir dari segalanya. Sebaliknya, mungkin itulah awal dari kesadaran. Sebab terkadang, Allah menegur bukan dengan suara, tetapi dengan kehilangan.
Dan ketika engkau diberi, jangan cepat jumawa. Karena kadang, pemberian justru lebih berat ujiannya daripada kehilangan. Sebab ia bisa membuatmu lupa siapa yang memberi.
Ibnu Qayyim rahimahullah menulis: “Jika Allah mengambil sesuatu darimu, jangan menangis terlalu lama. Mungkin Dia sedang ingin kau fokus pada sesuatu yang lebih abadi.”
Hadis di awal tadi bukan sekadar motivasi, tapi sebuah fondasi:
Lihat ke bawah agar engkau bersyukur. Jangan terus melihat ke atas agar hatimu tidak retak karena membandingkan hidup. Syukurilah apa yang ada, karena itulah yang membuat hidup terasa cukup, meski tak selalu lengkap.
Bagaimana Menjaga Hati Tetap Tenang saat Kehilangan?
Kehilangan itu pedih. Apalagi jika yang hilang adalah sesuatu yang sangat dicintai. Tapi justru di momen-momen itulah, Allah ingin tahu: siapa yang hatinya terikat pada dunia, dan siapa yang hatinya terikat kepada-Nya.
Berikut ini adalah kunci-kunci agar hati tetap tenang saat kehilangan:
1. Sadari: Semua Hanya Titipan
ما عِندَكُم يَنفَدُ وَما عِندَ اللَّهِ باقٌ
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An-Nahl: 96)
2. Tunduk pada Takdir, Bukan Terseret Emosi
لكيلا تأسوا على ما فاتكم…
Jangan larut dalam penyesalan, jangan pula membenci takdir. Boleh menangis, tapi jangan kehilangan arah.
3. Bangun Malam, Perbanyak Zikir dan Doa
Dalam sepi malam, tangismu lebih didengar. Saat semua pergi, Allah tetap mendekat.
4. Fokus pada Nikmat yang Masih Ada
Jangan hanya menatap apa yang hilang. Lihatlah apa yang masih bertahan. Mungkin kecil, tapi cukup.
5. Percaya: Allah Tak Pernah Salah Mengambil
“Apa yang Allah takdirkan padamu, jika engkau sabar dan rida, maka yang tersisa darimu akan lebih banyak daripada yang hilang darimu.” (Ibnu Qayyim)
Penutup
Menjaga hati saat kehilangan bukan tentang menjadi kuat tanpa luka, tetapi tentang menjadi rida meski hati remuk. Bukan soal menolak rasa sedih, tapi tidak membiarkan sedih mencuri iman.
Dan sekali lagi, Rasulullah ﷺ telah memberikan kunci paling sederhana sekaligus paling dalam:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian…”
Karena di bawah sana, engkau belajar syukur. Di bawah sana, engkau melihat ketegaran orang lain yang ujiannya jauh lebih berat, namun tetap bertahan.
Maka, jangan hanya siap untuk diberi. Siaplah juga untuk kehilangan. Sebab hanya mereka yang siap kehilanganlah yang mampu mencintai dunia dengan bijak—dan mencintai Allah dengan utuh. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












