
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, mengajak guru untuk menerapkan inovasi pembelajaran dengan langkah kecil yang berdampak besar, serta memotivasi dengan konsep Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning.
Tagar.co – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan kerja ke Malang, Jawa Timur, Jumat (7/2/25). Dalam rangkaian kunjungannya, dia mengunjungi MI Muhammadiyah Manarul Islam, di mana ia bertemu dengan seluruh guru dan tenaga kependidikan di madrasah tersebut dalam acara bertema “Wejangan dan Motivasi, Pendidikan Islam Berkemajuan: Menghidupkan Spirit Inovasi dan Keteladanannya”.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia dan pendidikan sesuai dengan Asta Cita Presiden. Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya inovasi dalam proses pembelajaran, yang sering kali terhambat oleh persepsi bahwa inovasi harus selalu bersifat besar dan revolusioner.
Baca juga: Saat Mendikdasmen Abdul Mu’ti Senam bersama Siswa SD di Tablig Akbar UMM
“Kelemahan kita dalam dunia pendidikan bahkan dalam bangsa itu, kita senantiasa berpikir perubahan itu revolusioner, dan berharap kita itu punya seperti Bandung Bondowoso yang membangun candi semalam. Kita sering membayangkan perubahan itu hal besar dan bersifat individual bertumpu pada satu orang. Menurut saya ini pendekatan pendidikan yang keliru,” kata Menteri Mu’ti.
Lebih lanjut, dia menegaskan perubahan dalam pendidikan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama. “Kita itu bisa berubah gradual dan bertahap, dan perubahan-perubahan itu bisa berdampak kalau kita melaksanakannya bersama-sama,” ujar Menteri Mu’ti.

Pandangan ini sejalan dengan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang digagas Kemendikdasmen, yang bertujuan membangun kebiasaan positif pada anak-anak melalui langkah-langkah kecil yang berkelanjutan.
“Misalnya anaknya biasanya bangun pagi susah, kemudian sekarang ada tujuh kebiasaan mulai dari bangun pagi yang ditanamkan oleh sekolah, sekarang anak justru bisa membangunkan orang tuanya, itu perubahan, dan itu empiris, kecil tetapi punya makna yang besar,” jelasnya.
Menurut Mu’ti, inovasi dalam pembelajaran tak harus besar dan revolusioner; terkadang hal-hal sederhana namun bermakna dapat memberikan dampak yang besar. Ia juga menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif dan berbasis pada pemahaman bagaimana otak bekerja dalam proses belajar, seperti yang tercermin dalam konsep Deep Learning.
“Itulah yang nanti coba kita lakukan di dalam inovasi ini di program kami, dengan deep learning itu kan mulainya dari mindful learning dan meaningful learning, serta joyful learning,” ungkap Menteri Mu’ti.
Dalam konteks Mindful Learning, guru tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga mengajak murid untuk berpikir kritis. “Tidak menyalahkan murid tapi mengajak murid berpikir, yang dia lakukan itu jangan divonis tapi beri dia kesempatan berpikir, itu namanya mindful learning,” ujar Mu’ti, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Sabtu (8/2/25) petang,
Sementara itu, Meaningful Learning mencakup upaya agar murid menemukan makna dalam materi yang mereka pelajari. “Belajar menyenangkan itu tidak selalu nyanyi-nyanyi dan melucu, tetapi dalam pembelajarnya dia menemukan makna yang dia pelajari, dia terlibat, dan dia merasa senang dengan yang dia pelajari itu,” tambahnya.
Metode pembelajaran yang joyful diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih positif dan mengurangi rasa takut dalam belajar. “Karena semuanya tidak ditakut-takuti, jadinya joyful, jadinya anak senang belajar,” imbuh Menteri Mu’ti.

Di akhir sambutannya, Menteri Mu’ti mengingatkan para guru untuk terus berinovasi dalam proses pembelajaran. “Jadi begitulah kira-kira inovasi itu kita lakukan simpel, bersama-sama, tapi memang kuncinya harus banyak belajar, banyak melihat dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi lebih baik, serta bersabar, tidak harus revolusioner tapi kelihatan dampak dari perubahan itu,” tutupnya.
Anggota DPR RI Komisi X, Gamal Abinsaid, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga menyampaikan pentingnya fokus pada pencarian bakat dan potensi anak. “Satu hal yang anak-anak kita lakukan mungkin kecil dan sederhana, tapi dengan keikhlasan, kerja keras dan gotong royong, dan dibarengi dengan iman maka pastinya akan membuahkan hasil,” ujarnya.
Kunjungan ini juga diakhiri dengan penandatanganan prasasti Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Manarul Islam Kota Malang oleh Menteri Mu’ti, yang didampingi oleh Anggota DPR RI Komisi X, Gamal Abinsaid, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, serta Staf Ahli Menteri Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga, Biyanto.
Menurut Biyanto, lembaga pendidikan ini sebelumnya diselenggarakan Yayasan Amal Shaleh (Yasma). Yasma selanjutnya menyerahkan aset yayasan dan pendidikan senilai Rp 80 miliar ini ke Muhammadiyah.
“Semoga amal jariah bapak dan ibu di Yasma memperoleh pahala yang terus mengalir hingga Hari Akhir. Amin,” kata Biyanto dikutip dari Facebook-nya. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












