
Menabung emas menjadi pilihan karena dinilai paling aman dari gejolak inflasi. Namun di tengah harga emas naik sangat mahal dikhawatirkan malah menguras keuangan rumah tangga.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran
Tagar.co – Harga emas batangan Antam naik ke level yang sangat tinggi. Pada 23 Desember 2025, harga emas 1 gram tercatat Rp2,561 juta. Naik Rp 59 ribu hanya dalam satu hari dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara harga buyback alias jual kembali terpaut sekitar Rp 150 ribuan. Menabung emas sekarang banyak pikir-pikir karena sangat mahal. Daya beli semakin jauh jaraknya.
Kenaikan ini terus menguat sepanjang tahun. Pada awal Desember 2025 harga emas Antam sudah berada di level Rp2,425 juta per gram dengan buyback Rp2,286 juta.
Pada Oktober, harga jual kembali pernah mencapai angka tertinggi di sekitar Rp2,132.000 per gram, di tengah lonjakan harga emas global yang ikut mendorong pasar domestik.
Namun harga yang terus naik itu mencerminkan ketidakpastian yang makin tajam. Betapa rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen lain dan lemahnya kendali terhadap inflasi dan nilai tukar.
Ketika inflasi terasa di kebutuhan harian, dan instrumen simpanan formal tidak memberi hasil riil yang menarik, warga memilih emas sebagai pelarian.
Tetapi pilihan ini seringkali lahir dari reaksi emosional terhadap ketidakpastian. Akibatnya banyak pembeli masuk ke pasar emas saat harganya sudah tinggi.
Mereka membeli emas di level Rp 2,5 juta per gram karena takut ketinggalan. Ini mencerminkan fenomena FOMO, fear of missing out, yang bukan barometer keamanan ekonomi, tetapi justru ketakutan kolektif.
Kilau Emas Membutakan Ekonomi
Masalah nyata muncul saat menabung emas itu harus dijual kembali. Selisih antara harga beli dan harga buyback menentukan apakah investor kecil benar-benar mendapatkan keuntungan atau justru rugi ketika menjual di titik harga tidak ideal.
Perubahan harga di dalam negeri lebih naik turun dibandingkan global. Ini membuat banyak kasus emas justru tidak likuid saat dibutuhkan. Bukan lagi jarang, tetapi lazim dialami oleh masyarakat kecil.
Selain itu, distribusi emas Antam di daerah pun tidak merata. Selama periode kenaikan harga, sejumlah wilayah kosong stok emas fisik atau harga yang jauh lebih tinggi di pasar sekunder karena biaya distribusi.
Ini membuka ruang bagi praktik harga tak terkendali. Sementara otoritas sering absen mengawasi ketersediaan secara merata.
Ironisnya, narasi bahwa menabung emas selalu aman masih terus diulang tanpa edukasi yang memadai tentang risiko nyata.
Emas memang bisa memberi lindung nilai terhadap inflasi, tapi ia tidak selalu memberi keuntungan riil setelah biaya transaksi dan pajak diperhitungkan.
Likuiditas emas pun terbatas. Nilai jual kembali sangat bergantung pada kebijakan harga buyback dan kondisi pasar saat itu.
Bagi yang terpaksa menjual di waktu yang kurang tepat, emas bisa berubah dari aset pelindung menjadi sumber kerugian.
Dalam sejumlah kasus, justru emas mendorong keputusan ekonomi yang kontraproduktif.
Orang menjual aset produktif atau menunda pengeluaran penting demi membeli emas di harga tinggi. Keputusan seperti ini menggerus kapasitas ekonomi rumah tangga alih‑alih memberikannya perlindungan.
Orang Miskin Baru
Harga emas yang terus naik juga menciptakan orang miskin baru. Sebab nishab zakat mal sekarang naik drastis. Dalam Islam orang yang simpanan kekayaannya mencapai 85 gram emas wajib bayar zakat.
Harga emas sekarang Rp2,561 juta, maka kekayaan 85 gram emas itu sebesar Rp 217,685 juta per tahun. Dengan nishab sebesar itu, maka makin berkurang orang yang wajib membayar zakat mal.
Dalam perekonomian, jika harga emas terus melonjak, sementara daya beli rakyat stagnan, maka yang mahal bukan hanya emasnya. Yang mahal adalah biaya hidup dan ketidakmampuan sistem ekonomi memberi rasa aman.
Rakyat tidak membutuhkan logam mulia untuk bertahan hidup. Mereka membutuhkan pekerjaan yang layak, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, serta kebijakan ekonomi yang berpihak pada kehidupan sehari‑hari. Bukan sekadar aset pelarian di kala panik.
Negara tidak boleh lagi bersembunyi di balik kilau emas. Rekor harga tidak berarti apa‑apa jika rakyat dipaksa menabung ketakutan.
Emas boleh naik setinggi apa pun, tetapi apabila rakyat harus bergantung padanya sebagai satu‑satunya sandaran rasa aman, maka yang runtuh bukan hanya nilai tukar rupiah, melainkan kehadiran negara sebagai pelindung ekonomi rakyat. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












