Opini

Membaca Sastra Koreksi Permanen

20
×

Membaca Sastra Koreksi Permanen

Sebarkan artikel ini
László Krasznahorkai

Membaca Krasznahorkai bukan sekadar menikmati cerita, tapi menapaki kalimat panjang yang berkelok seperti kesadaran manusia—melelahkan, gelap, tapi di situlah letak keindahan dan kewarasan terakhir sastra.

Catatan Ahmadie Thaha; Kolumnis

Tagar.co – Membaca karya László Krasznahorkai bukanlah urusan ringan seperti menyeruput kopi sachet sambil menunggu azan magrib. Ia lebih mirip minum espresso yang terlalu pekat—pahit, panas, dan membuat jantung berdebar oleh kalimat yang tidak juga berakhir.

Bayangkan, satu paragraf karya pemenang Hadiah Nobel Sastra 2025 itu bisa menampung cukup banyak koma untuk membuat EYD kejang-kejang dan pembaca biasa kehabisan napas. Tapi begitulah, ia kini jadi kiblat yang disambut dengan rasa gentar oleh para penulis yang masih berjuang menamatkan novel pertamanya.

Baca juga: Laszlo Krasznahorkai Raih Nobel Sastra 2025

Colm Tóibín, novelis Irlandia yang menemukan “mutiara kelam” dari Hungaria ini dua puluh tahun lalu, mengaku terpukau oleh verbal pyrotechnics sang penulis—istilah keren untuk menyebut gaya menulis seperti kembang api sintaksis: meledak-ledak, berputar-putar, tapi anehnya justru indah dan menakutkan sekaligus.

Krasznahorkai, kata Tóibín, seperti akrobat bahasa yang berjalan di tali tegang antara logika dan kegilaan—dan dengan sengaja menolak jatuh. Ia memanjangkan kalimat seperti seorang biarawan yang sedang berzikir di tengah kiamat: satu klausa demi klausa, menelusuri ketakutan dan kesadaran manusia yang terus membelah diri, menggigil di tepi makna.

Kalimatnya bisa dimulai dengan rasa takut dan berakhir dengan ironi. Di antaranya terselip ratusan alasan untuk panik, resah, merenung, atau tertawa getir. Inilah yang disebut Tóibín sebagai high-wire act—berjalan di tali tipis, tapi justru di situlah kenikmatan seni sejati. Bukan karena ia menyeberang, melainkan karena ia terus hampir jatuh.

Tahan napas Anda untuk membaca alinea seperti kalimat dalam karyanya Baron Wenckheim’s Homecoming berikut ini, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Ottilie Mulzet. Ini menunjukkan bagaimana Krasznahorkai bermain dengan kalimat yang panjang, kepak-jumpalitan tema dari detail paling sepele sampai emosi besar:

“He took an apple out of the basket, rubbed it, raised it to the light to examine it, made sure it was shining everywhere, and raised it to his mouth as if he wanted to bite into it … before me there can be no secrets, this is the main thing, I want to know about everything …” (Literary Hub, 9)

Kalimat seperti ini menunjukkan bagaimana satu kalimat bisa memuat banyak tindakan kecil, detail fisik, pikiran, gestur, suara, jeda diam, hubungan antarmanusia, hingga ambiguitas makna. Ada rasa “napas berat” ketika membacanya—pembaca mesti siap mental agar tidak kehabisan udara.

Kalimat itu juga menggambarkan definisi momen: gestur kecil (mengangkat apel, menyentuhnya, mengamatinya), diam, kemudian loncatan ke ekspektasi pembicaraan dan keheningan, serta refleksi atas apa artinya “telah mengetahui segalanya” versus “apa yang bisa dikatakan”.

Baca Juga:  Pasar Modal Bukan Barak Militer: Empat Rekomendasi

Kalimat panjang (tipe snaking sentence ala Krasznahorkai) seperti ini bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari estetika dan filosofi karyanya: membiarkan pikiran, waktu, kesadaran, dan kecemasan terurai dalam satu aliran, tanpa jeda yang lazim dipakai novel konvensional.

Tentu saja, bagi penerbit Inggris yang terbiasa dengan novel-novel “mudah dicerna”, karya semacam ini dianggap terlalu sulit. Mereka takut pembaca bakal kabur lebih cepat daripada harga saham jatuh.

Namun, Tóibín—entah karena idealisme atau kegilaan—memutuskan mendirikan penerbit sendiri, Tuskar Rock Press, hanya demi memublikasikan karya-karya si penulis yang dianggap mustahil laku itu. Lihatlah, betapa cinta bisa membuat seorang sastrawan jadi kapitalis idealis: membuka penerbit bukan untuk uang, tapi untuk menyelamatkan kalimat.

Dan ternyata, seperti kisah-kisah baik lain dalam sejarah kesusastraan, dunia kemudian menyusul. Ketika Krasznahorkai tampil di Festival Buku Edinburgh tahun 2011, para pembaca muda sudah mengenalnya lewat film Béla Tarr yang suram dan panjang seperti Sabtu sore tanpa listrik.

Mereka sudah siap, kata Tóibín. Sastrawan Hungaria ini tidak sedang menulis untuk semua orang—cukup enam pembaca saja, katanya, atau sepuluh kalau sedang beruntung. Sebuah kejujuran yang menohok dunia penerbitan yang terlalu sering berbohong pada diri sendiri: bahwa sastra sejati bisa dijual dengan diskon.

Tapi siapa pun yang pernah membaca karya awalnya Satantango tahu bahwa Krasznahorkai bukan sekadar penulis novel—ia semacam biarawan muram yang sedang menulis kitab penyesalan dunia.

“Hidup saya adalah koreksi permanen,” katanya kepada radio Swedia, dengan nada seperti guru besar tata bahasa yang tersesat di padang dosa manusia. Ia mengaku hanya ingin menulis satu buku, tapi setelah membaca sendiri hasilnya, ia sadar: dunia belum cukup kacau, kalimat belum cukup gila.

Maka ia menulis lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sebab, katanya, hidupnya memang permanent correction—bukan revisi naskah, melainkan revisi eksistensi.

Inspirasi terbesarnya? “Kepahitan,” ujarnya tenang, seolah sedang menyebut nama bunga langka. Ia mengaku sedih memikirkan kondisi dunia, dan justru di sanalah sumber kekuatannya menulis.

Barangkali itulah paradoks seorang penyair malapetaka: makin rusak dunia, makin subur imajinasi. Dari desa-desa miskin di Hungaria hingga lorong-lorong sepi di Jerman, lalu melompat ke Timur Jauh—Cina dan Jepang—Krasznahorkai menulis seperti seorang musafir yang mencatat reruntuhan dengan tinta melankolia.

Susan Sontag, sang pendeta intelektual Amerika, bahkan menobatkannya sebagai master of the apocalypse—atau versi The New York Times, master of doom. Julukan yang terdengar seperti nama band metal, tapi sesungguhnya pas: tak ada yang bisa membuat kehancuran terasa begitu indah dan berirama selain Krasznahorkai. Ia menulis tentang kiamat, tapi tanpa teriakan; tentang putus asa, tapi dengan ketenangan yang mistis.

Baca Juga:  Kata-Kata Menjadi Senjata: Propaganda Halus Media Barat

Krasznahorkai hanyalah orang kampung dari Gyula, kota kecil di tenggara Hungaria dekat perbatasan Rumania, tapi dari situlah dunia murungnya bermula. Satantango, karya debutnya pada 1985, lahir dari tanah yang basah oleh hujan dan sejarah.

Novel itu menggambarkan sekelompok warga miskin di lahan pertanian kolektif yang terbengkalai menjelang runtuhnya komunisme. Mereka menunggu keajaiban, tapi sebagaimana motto Kafka yang membuka novel itu—“In that case, I’ll miss the thing by waiting for it.”—harapan itu sudah gagal bahkan sebelum dimulai.

Dan memang, seluruh karya Krasznahorkai seperti latihan panjang untuk menunggu keajaiban yang tak akan datang. Ia mengaku suka membaca Kafka bukan sebagai bacaan ringan sore hari, melainkan sebagai zikir: “Ketika saya tidak membaca Kafka, saya memikirkan Kafka. Ketika saya tidak memikirkan Kafka, saya merindukan saat-saat memikirkannya.”

Itulah bentuk cinta paling aneh sekaligus paling tulus terhadap sastra—bukan pada kisahnya, tapi pada absurditasnya.

Krasznahorkai, dengan gaya malu-malu dan humor yang kering seperti tanah tandus Eropa Timur, sering menolak pertanyaan serius dengan kalimat sederhana: “Pertanyaannya indah, tapi saya tidak cukup pintar untuk menjawabnya.”

Itu jawaban yang lebih filosofis daripada seribu tesis doktoral. Karena bukankah sastra sejati justru ada di wilayah “tak terjawab”? Saat seorang penulis tahu bahwa bahasa hanya sanggup meniru kenyataan, bukan menaklukkannya.

George Szirtes, penerjemah sekaligus penyair yang paling memahami jiwa Krasznahorkai, menjelaskan: “Para tokohnya bukan mencari Tuhan, tapi mencari tempatnya.” Kalimat ini seperti menampar lembut generasi pembaca yang mencari makna hidup di motivational quotes Instagram.

Sebab dalam dunia Krasznahorkai, tidak ada kata “tenang”, “selesai”, atau move on. Yang ada hanyalah kesadaran yang terus berputar, mencari celah di antara absurditas kehidupan modern—sampai akhirnya kita sadar, mungkin “tempat” itu tidak pernah ada. Dan justru karena itu, kita terus menulis, terus membaca.

Maka, membaca novel-novel pemenang Nobel ini bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan ibadah kesabaran. Ia menuntut kita untuk menikmati kebingungan, menghormati kalimat yang berbelit, dan mencintai keputusasaan seperti mencintai secangkir teh yang sudah dingin tapi tetap diminum karena… ya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain menyesap pahitnya hidup dengan tenang?

Bila Kafka menulis tentang absurditas birokrasi dan Beckett menulis tentang absurditas eksistensi, maka Krasznahorkai menulis tentang absurditas kesadaran itu sendiri—sesuatu yang terus memantul seperti gema doa di ruang kosong. Ia tidak menuntun pembaca menuju makna, melainkan menyeretnya ke pusaran yang membuat kita sadar betapa tak masuk akalnya dunia yang kita tempati ini.

Dan di situlah letak keindahannya. Ia bukan menulis untuk menenangkan, tetapi untuk menggelisahkan. Karena mungkin hanya dalam kegelisahanlah manusia bisa merasa masih hidup—masih berpikir, masih bertanya, dan masih punya cukup keberanian untuk membaca halaman berikutnya.

Baca Juga:  Buku Tipis Panduan Melawan Tirani

Kita, para pembaca zaman media sosial yang terbiasa dengan kalimat 200 karakter, tentu gemetar di hadapan kalimat Krasznahorkai yang sepanjang jalan tol.

Tapi mungkin justru di situlah terapi kita: untuk melawan keserampangan, kita butuh kalimat yang panjang; untuk melawan kebisingan, kita butuh hening yang tak selesai; untuk melawan kebodohan yang instan, kita perlu kebingungan yang mendalam.

Maka, bacalah Krasznahorkai seperti menelusuri doa—bukan untuk mengerti, tapi untuk mengalami. Karena di dalam kalimat-kalimatnya, setiap koma adalah napas, setiap titik adalah keputusasaan kecil yang melahirkan harapan baru.

Dan ketika buku itu ditutup, kita tahu: hidup ternyata tak jauh berbeda dari novelnya—melelahkan, membingungkan, dan indah dalam ketidakteraturannya.

Beberapa Novel Utama Karya László Krasznahorkai

Satantango (1985): Tentang desa yang terisolasi di Hungaria pascakomunisme, pendatang (Irimiás) yang muncul dari kegelapan dan mulai memanipulasi warga, membawa harapan palsu, kepanikan, serta keputusasaan. Struktur novel cukup unik: tiap bab bisa sangat panjang dan mood-nya lambat tapi menubruk.

The Melancholy of Resistance (Az ellenállás melankóliája) (1989): Suasana kota kecil yang terguncang oleh sirkus misterius, adanya paus terawetkan, rumor-rumor aneh; novel ini adalah alegori politik dan psikologis, penuh suasana apokaliptik, kekacauan sosial, ketidakpastian.

Szirtes: Menceritakan seorang arsiparis Hungaria yang menemukan manuskrip yang dianggap misterius dan penting, kemudian melakukan perjalanan ke New York untuk menyelamatkannya (dengan ide memasukkannya ke internet) — sambil bergulat dengan kesepian, obsesi, rasa takut, dan metafisika pribadi.

Seiobo There Below (2008): Koleksi episod yang membentang lintas budaya dan zaman; fokus pada seni, keindahan, devosi, dan bagaimana aspek sakral/sering kali spiritual muncul dalam kehidupan manusia yang sering “terlupakan” aspek ilahiyahnya. Ada struktur “Fibonacci” dalam jumlah babnya.

Baron Wenckheim’s Homecoming (Báró Wenckheim hazatér) (2016): Eksperimen struktural dengan kalimat panjang dan paragraf tanpa jeda, gambaran kota kecil di Hungaria yang menunggu kembalinya seorang baron tua yang bangkrut; penduduk lokal berharap akan perubahan tapi realitas menghadirkan absurditas, kesedihan, ekspektasi yang dipelintir oleh harapan dan ilusinya.

Destruction and Sorrow Beneath the Heavens (2004): Ini catatan perjalanan dan refleksi budaya. Penulis melakukan perjalanan di Tiongkok, mengeksplorasi budaya klasik dan bagaimana masyarakat modern di sana berhubungan (atau tidak) dengan sejarah budaya itu—refleksi atas keindahan, kehancuran, memori, dan kemanusiaan.

Herscht: Membawa suasana yang lebih satir dan kosmik, mencakup tema disintegrasi sosial, absurditas, dan kekacauan modern; meski demikian tetap menggunakan gaya panjang dan intens. (#)

Ma’had Tadabbur al-Qur’an, 19 Oktober 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni