Telaah

Memaknai Takdir dalam Musibah Runtuhnya Musala Al-Khoziny

34
×

Memaknai Takdir dalam Musibah Runtuhnya Musala Al-Khoziny

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika musala Al-Khoziny runtuh, yang tersisa bukan hanya puing-puing bangunan, tetapi juga pertanyaan batin: bagaimana seharusnya kita membaca takdir?

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Musibah selalu mengetuk kesadaran kita tentang betapa rapuhnya kehidupan dan betapa kuatnya takdir Allah.

Runtuhnya musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, bukan hanya peristiwa duka, tetapi juga momentum tafakur — waktu bagi kita semua untuk menundukkan kepala dan bertanya: apa sebenarnya makna takdir dalam hidup seorang hamba?

Baca juga: Musibah, Sabar, dan Ikhtiar: Pelajaran dari Robohnya Musala Al-Khoziny

Bagi sebagian orang, ucapan Kiai Abdussalam Mujib — “Ini takdir, semuanya harus sabar, semoga Allah berikan ganti yang terbaik” — dianggap terlalu sederhana untuk musibah sebesar ini.

Namun, di balik kalimat pendek itu tersembunyi kekuatan spiritual yang hanya bisa lahir dari jiwa yang sudah ditempa oleh pengalaman panjang dalam beriman kepada qada dan kadar.

Takdir Bukan Alasan, tetapi Pegangan

Dalam Islam, takdir bukanlah tempat untuk bersembunyi dari tanggung jawab, melainkan pegangan ketika kaki sudah tak mampu berdiri. Para ulama menegaskan:

وقد أجمع أهل الإسلام على أن القدر يتعزى به أهل المصائب ولا يحتج به في المعائب

Baca Juga:  Sidang Isbat: Kritik Kebijakan di Era Hisab Presisi

“Umat Islam telah sepakat bahwa takdir dijadikan pegangan oleh orang yang tertimpa musibah, bukan dijadikan alasan oleh pelaku kesalahan.”

Ucapan seorang mukmin yang sedang tertimpa ujian dengan kata “ini takdir” bukan bentuk lari dari realitas,
tetapi wujud penyerahan diri total kepada ketentuan Ilahi setelah semua sebab duniawi dijalani.

Mereka yang hatinya paham tidak membaca “takdir” sebagai pengabaian tanggung jawab, melainkan sebagai bahasa sabar dari jiwa yang sedang berusaha berdamai dengan kehilangan.

Musibah sebagai Cermin Ketuhanan

Allah berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَا

“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagi kami.” (At-Taubah: 51)

Ayat ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ia adalah doktrin tauhid paling tinggi: bahwa setiap kejadian di alam raya ini berjalan sesuai garis yang sudah digariskan oleh Allah, bahkan sebelum bumi diciptakan.

Musibah yang menimpa Ponpes Al-Khoziny adalah bagian dari kisah besar kehidupan,
yang mungkin tidak sepenuhnya bisa dimengerti oleh logika manusia, tetapi pasti menyimpan rahasia Ilahi di baliknya — baik sebagai ujian, peringatan, maupun penghapus dosa.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan dalam sabdanya:

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata: seandainya aku melakukan ini tentu akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi. Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu setan.” (Muslim)

Baca Juga:  Makna Takwa yang Dijanjikan Puasa Ramadan

Hadis ini mengajarkan ketenangan jiwa dalam menerima realitas, bukan menyerah pasif, melainkan menyerah aktif — tetap berusaha memperbaiki diri sambil yakin bahwa hasil akhirnya selalu dalam genggaman Allah.

Di Balik Duka, Ada Cahaya

Runtuhnya mushola dan wafatnya para santri bukan sekadar kehilangan fisik, tetapi juga seruan lembut dari langit untuk menghidupkan kembali makna doa, tawakal, dan kebersamaan.

Allah tidak menakdirkan sesuatu kecuali menyimpan hikmah yang menunggu ditemukan oleh hati yang sabar.

Dalam pandangan iman, musibah bukan akhir dari segalanya. Justru di sanalah pintu kasih sayang Allah terbuka paling lebar.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka ketika kita melihat air mata keluarga santri dan kesedihan Kiai Abdussalam Mujib,
sesungguhnya kita sedang menyaksikan keagungan sabar yang jarang dimiliki manusia zaman ini.
Mereka bukan sedang menyerah, melainkan sedang menghidupkan makna iman dalam bentuk paling nyata.

Jangan Menambah Luka, Jadilah Penyejuk

Di tengah musibah, yang dibutuhkan bukan caci maki, melainkan pelukan doa. Kita tidak sedang diminta untuk menjadi hakim atas takdir, tetapi saksi atas kasih sayang Allah yang sedang bekerja di balik peristiwa.

Baca Juga:  Apakah Ramadan Menerima Kita? Dari Kuantitas Menuju Jiwa Mutmainah

Rasulullah ﷺ pernah berpesan ketika keluarga Ja’far bin Abi Thalib dilanda duka: “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan pikiran mereka.”

Pesan ini sederhana tetapi dalam: saat orang lain tertimpa musibah, tugas kita bukan mengadili, melainkan menguatkan.

Penutup: Hikmah yang Mencerahkan

Musibah Al-Khoziny mengajarkan kita satu hal: iman sejati bukan diukur saat bahagia, melainkan saat luka paling dalam.

Ucapan “ini takdir” dari seorang pengasuh bukan dalih, melainkan zikir yang terucap di antara serpihan runtuhan dunia.

Dan ketika air mata belum kering, semoga kita bisa belajar dari hikmah Arab yang lembut namun menohok:

ارفقوا بكل أحد، فكل نفس مليئة بما يكفيها

“Berlemahlembutlah kepada siapa pun, sebab setiap jiwa sudah menanggung ujian yang lebih dari cukup.”

Semoga Allah menempatkan para santri Al-Khoziny di tempat terbaik di sisi-Nya, mengangkat derajat mereka sebagai syuhada, dan meneguhkan hati seluruh keluarga serta pengasuhnya dengan sabar yang bercahaya.

Inilah makna sejati takdir: bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk disyukuri dengan kesadaran bahwa di balik setiap kehilangan, Allah sedang menulis bab baru dari kasih sayang-Nya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni