Telaah

Mengapa Puasa Ramadan Diwajibkan?

95
×

Mengapa Puasa Ramadan Diwajibkan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi freepik/AI

Puasa diwajibkan bukan tanpa alasan—ia adalah mekanisme Ilahi untuk proses pembentukan karakter mukmin.

Serial Ramadan (3); Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid)Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani

Tagar.co – Setelah dua hari pertama kita memahami bahwa Islam adalah sebuah bangunan dan bahwa kita membutuhkan Ramadan, kini kita memasuki jantung ayat tentang puasa.

Baca artikel terkait:

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa …” (Al-Baqarah: 183)

Kata kuncinya adalah كُتِبَ (kutiba)—diwajibkan, ditetapkan, ditulis sebagai ketentuan hukum.

Puasa bukan sekadar anjuran spiritual. Ia adalah keputusan ilahi.

Lalu, mengapa harus sampai diwajibkan?

Kewajiban sebagai Pendidikan

Dalam Al-Qur’an, kata kutiba digunakan untuk perkara-perkara besar:

  • Kutiba ‘alaikum al-qishash (kisas)
  • Kutiba ‘alaikum al-qital (perjuangan)
  • Kutiba ‘alaikum al-shiyam (puasa)

Ini menunjukkan bahwa kewajiban merupakan mekanisme pembentukan karakter.

Allah tidak mewajibkan sesuatu yang sia-sia.

Baca Juga:  Iqra dan Arsitektur Keadilan: Meneguhkan Arah Negara dari Epistemologi Qur’ani

Puasa diwajibkan karena manusia tidak cukup hanya dinasihati. Ia harus dilatih.

Seruan untuk Orang Beriman

Ayat ini diawali dengan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman …”

Ini penting secara epistemologis.

Puasa bukan sekadar ritual sosial; ia merupakan konsekuensi iman. Iman tanpa latihan pengendalian diri akan melemah. Karena itu, puasa tidak ditujukan kepada “manusia” secara umum, melainkan kepada “orang-orang yang beriman”.

Iman menuntut disiplin.

Puasa dan Struktur Manusia

Manusia memiliki dua dorongan kuat:

  • dorongan jasmani
  • dorongan syahwat

Tanpa kontrol, keduanya mudah melampaui batas.

Puasa mengajarkan satu kalimat penting: “Saya bisa menahan.”

Dari menahan yang halal, kita belajar meninggalkan yang haram.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa puasa mengekang jalan-jalan setan dan melemahkan syahwat. Artinya, puasa adalah proteksi internal.

Puasa sebagai Perisai

Rasulullah Saw. bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Puasa adalah perisai.” )Bukhari dan Muslim)

Perisai melindungi prajurit di medan perang. Medan perang kita adalah hawa nafsu. Tanpa perisai, iman mudah tertembus.

Baca Juga:  Puasa, Kebutuhan Universal Manusia

Karena itu, puasa diwajibkan—bukan diserahkan pada pilihan sesekali.

Tujuan Besar: Takwa

Ayat dilanjutkan:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Agar kalian bertakwa.”

Takwa bukan sekadar rasa takut. Dalam penjelasan Al-Qurthubi, takwa adalah menjaga diri dari murka Allah dengan ketaatan dan menjauhi larangan.

Puasa melatih kesadaran:

  • tidak makan meski tidak ada yang melihat
  • tidak minum meski sendirian
  • tidak berbuat dosa meski mampu

Itulah takwa: pengawasan batin.

Momentum Keseriusan

Memasuki hari ketiga, biasanya euforia awal mulai menurun. Di sinilah pemahaman menjadi penting.

Jika puasa hanya dipandang sebagai tradisi, semangat akan melemah. Namun, jika dipahami sebagai pendidikan ilahi, semangat akan tetap stabil.

Puasa bukan sekadar menunggu magrib. Ia adalah latihan mengendalikan diri.

Penutup

Allah mewajibkan puasa bukan untuk menyulitkan kita, melainkan untuk membentuk kita.

Kewajiban adalah tanda perhatian ilahi. Puasa adalah sekolah pengendalian diri.

Dan pertanyaannya hari ini: Apakah kita menjalani puasa sebagai beban, atau sebagai latihan untuk menjadi lebih kuat? (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni