Feature

Melangkah dari Nol: Kisah Kelulusan Pertama SD Mutu Bawean

50
×

Melangkah dari Nol: Kisah Kelulusan Pertama SD Mutu Bawean

Sebarkan artikel ini
Murid SD Mutu Bawean Kelas 6 yang lulus (Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

SD Mutu Bawean merayakan kelulusan pertama. Kisah perjuangan, titik terendah, dan pesan penuh makna membuka lembaran baru pendidikan di pulau kecil ini.

Tagar.co – Langit mendung menggantung di atas SD Muhammadiyah 1 Bawean (SD Mutu Bawean), Kamis (12/6/2025), namun suasana di aula lantai tiga sekolah itu justru cerah oleh rasa haru dan bahagia. Sebanyak 14 siswa kelas VI bersama orang tua, guru, dan undangan hadir dalam acara tasyakuran kelulusan angkatan pertama sekolah tersebut.

Dengan hidangan sederhana berupa sekotak kue dan air mineral, para tamu menikmati penampilan pra-acara: tarian siswa, lagu “Indonesia Raya”, “Mars Muhammadiyah Sang Surya”, dan “Mars SD Mutu Bawean”. Tasyakuran ini mengusung tema “A New Dawn: Merayakan Awal yang Baru dan Peluang yang Tak Terbatas.”

Menembus Titik Terendah

Suasana mengharu biru saat Hairuddin, S.Pd., M.Pd., mewakili wali murid kelas VI, menyampaikan sambutan. Ia mengenang perjalanan berdirinya SD Mutu Bawean yang penuh lika-liku.

“Saya saksi sejarahnya. Perjuangan awal sekolah ini seperti lagunya Erie Suzan: jalanan berliku. Belum genap setahun berdiri, kepala sekolahnya kembali ke daratan Gresik. Lalu pandemi Covid-19 menghantam, dan kegiatan belajar-mengajar harus dilakukan dari rumah. Tapi semua itu kita lewati bersama. Hari ini kita memetik hasilnya,” ujar Hairuddin yang juga Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sangkapura, sembari menahan air mata.

Baca Juga:  Khotbah Idulfitri di Sangkapura: Empat Peringatan agar Terhindar dari Neraka Saqar
Sambutan Hairuddin, S.Pd, M.Pd, mewakili wali murid (Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Siswa Pelopor, Penulis Bab Pertama

Kepala SD Mutu Bawean, Nur Laily, S.Pd., menyebut kelulusan angkatan pertama ini sebagai momen bersejarah.

“Kalian adalah generasi pelopor, penulis bab pertama dalam buku kisah SD Mutu Bawean. Awalnya, kalian belajar di ruang balai kesehatan. Sekolah belum punya apa-apa, bahkan jaminan pun belum ada. Tapi orang tua tetap percaya pada kami,” ungkapnya penuh rasa syukur.

Baca juga: Dari Pulau Bawean ke Panggung Nasional: Siswa dan Kepala SD Mutu Melaju ke Final KMNR dan OGM

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua siswa, khususnya Ikatan Wali Murid (Ikwam), yang telah setia mendampingi perjuangan sekolah.

Sambutan Kepala SD Mutu Bawean, Nur Laily, S.Pd.,(Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Empat Amanat untuk Menyongsong Dunia yang Lebih Luas

Di hadapan para siswa yang duduk rapi dengan wajah berbinar, Nur Laily menyampaikan pesan yang terasa lebih dari sekadar amanat kelulusan. Ia berbicara seperti seorang ibu yang melepas anak-anaknya menuju dunia baru.

Ia mengingatkan, kelulusan ini bukanlah akhir, melainkan pintu pembuka ke jenjang kehidupan berikutnya. “Kalian akan melangkah ke tempat yang lebih luas, bertemu teman-teman baru, dan menghadapi tantangan yang mungkin belum pernah kalian bayangkan,” katanya.

Baca Juga:  Ketua PDM Gresik Kunjungi Pulau Bawean, Menguatkan Pendidikan dan Filantropi Muhammadiyah

Lalu ia menyampaikan empat amanat. Pertama, ia meminta anak-anak untuk tidak berhenti belajar. Dunia akan terus berubah, dan teknologi berkembang begitu cepat. Namun, ia menekankan, sehebat apa pun perubahan itu, jangan biarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunah yang telah tertanam dalam diri mereka luntur oleh arus zaman.

Kedua, ia mengingatkan pentingnya menjaga adab dan ilmu secara seimbang. “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh,” tuturnya. Dua hal ini harus saling melengkapi, agar ilmu menjadi manfaat dan adab menjadi jalan cahaya.

Ketiga, ia mengajak anak-anak untuk berani bermimpi besar, tanpa takut akan latar belakang mereka. “Mungkin ada yang berkata bahwa siswa SD Mutu berasal dari keluarga yang berkecukupan. Padahal tidak semuanya demikian. Jadikan itu sebagai motivasi bahwa pendidikan adalah hak semua orang, bukan hanya milik mereka yang mapan.”

Keempat, satu hal yang sederhana tapi mendalam: jangan lupakan almamater. “Di manapun kalian berada, jadikan SD Mutu Bawean sebagai bagian dari kisah sukses kalian. Buat kami bangga pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kalian.”

Akhir sambutannya ditutup dengan permintaan maaf mewakili seluruh guru. Selama enam tahun mendidik, ia mengakui mungkin ada kata atau tindakan yang melukai.

Baca Juga:  Aksen Band, Debut Band Perempuan SD Muhammadiyah 1 Bawean di Milad Ke-7

“Jika pernah memarahi, menjewer, atau membuat kalian kesal, kami mohon maaf. Semua itu lahir dari kasih sayang.”

Sambutan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sangkapura, Kemas Saiful Rizal, S.E., M.M.,(Tagar.co/Sawaluddin Eka Saputra)

Tiga Momen Sejarah yang Tak Terlupakan

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Sangkapura, Kemas Saiful Rizal, S.E., M.M., mendapat giliran terakhir untuk menyampaikan sambutan. Meski tanpa persiapan, ia berbicara dengan tulus dan penuh kenangan.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa hadir dalam tasyakuran ini. Ada tiga momen sejarah yang patut kita ingat. Pertama, 9 Februari 2019 adalah hari lahir SD Mutu Bawean. Kedua, 12 Juni 2025 adalah tonggak sejarah kelulusan angkatan pertama. Ketiga, tahun 2022 adalah momen milad ke-3 SD Mutu yang akhirnya bisa dirayakan meriah setelah pandemi.”

Ia mengenang saat baru pindah dari Gresik ke Bawean dan langsung ditunjuk menjadi ketua panitia milad sekolah. “Waktu itu acaranya sangat semarak dan banyak sponsor terlibat. Saya tidak akan lupa,” kenangnya.

Acara ditutup dengan doa dan peluk haru. Di tengah langit yang masih mendung, tasyakuran perdana ini terasa seperti matahari pertama yang terbit dari pulau kecil, membawa cahaya baru untuk pendidikan Muhammadiyah di Bawean.

Jurnalis Sawaluddin Eka Saputra Penyunting Mohammad Nurfatoni