Opini

Makna Mendalam di Balik Gelar Tamu Allah

119
×

Makna Mendalam di Balik Gelar Tamu Allah

Sebarkan artikel ini
Foto @haramainas

Saat berhaji, kita bukan sekadar musafir ke Tanah Suci. Kita hadir sebagai tamu Allah, undangan langsung dari Sang Pemilik Semesta. Apa makna terdalamnya, dan bagaimana menjaga adab sebagai tamu-Nya?

Oleh Piet Hizbullah Khaidir; Ketua STIQSI Lamonganl Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur

Tagar.co – Para jemaah haji (hujaj) dalam tradisi perhajian Islam disebut sebagai tamu Allah. Dalam bahasa Arab biasa disebut duyufullah atau duyufurahman. Pilihan ibarat yang sangat agung.

Penyebutan “tamu Allah” dengan dua ibarat tersebut memiliki makna yang mendalam. Ada kode langsung dari Allah bahwa kita adalah tamu Tuhan semesta alam. Menariknya, bahkan orang-orang Arab memuliakan para jemaah haji dengan pelayanan maksimal karena mereka adalah tamu-tamu Allah.

Baca juga: Ka’bah dan Medan Magnet Rohani

Pertanyaan pentingnya: mengapa pilihan ibarat itu menggunakan lafal idafah dengan Allah dan salah satu sifat-Nya, yaitu Yang Maha Rahman? Apa rahasia penyebutan itu? Apa makna terdalamnya?

Duyufullah dan Duyufurahman

Duyuf adalah bentuk jamak dari daif, yang artinya para tamu. Secara idafah (kata majemuk), lafal duyuf disandarkan pada Allah (duyufullah) atau pada salah satu nama-Nya yang agung, ar-Rahman. Maka terjemahannya: tamu-tamu Allah Yang Maha Pengasih.

Baca Juga:  Fatwa Tarjih: Dam Bisa Disembelih di Tanah Air

Kita diakui sebagai tamu oleh Tuhan kita, Allah Swt. Kita dimuliakan oleh Allah dengan sebutan yang dinisbahkan kepada salah satu nama-Nya yang agung: Ar-Rahman. Betapa mulianya kita!

Kita ditakdirkan sebagai ciptaan Allah yang mulia. Allah menciptakan kita dalam bentuk yang paling sempurna—kesempurnaan fisik, akal, hati, nafsu, dan bahasa. Subhanallah walhamdulillah. Dalam prosesi haji, sekali lagi, kita disebut tamu Allah Yang Maha Rahman karena memang kita adalah makhluk yang mulia.

Kemuliaan itu akan tetap terjaga hanya jika kita dapat memuliakan diri dengan ketaatan kepada Allah melalui syariat-Nya: lewat iman dan amal saleh.

Penulis (kedua dari kiri) bertemu dengan Syarikat Rahalat wa Manafi’ di Tanah Suci (Tagar.co/Istimewa)

Makna Idafah “Tamu Allah”

Mengapa Allah menggunakan idafah yang terhubung langsung dengan lafal agung (lafz al-jalalah) “Allah” dan salah satu asmaulhusna-Nya, Ar-Rahman?

Lafal Allah berasal dari akar kata alaha, yang bermakna “menundukkan.” Dzat yang menundukkan disebut Ilah, dan Dialah al-ma’bud, satu-satunya Dzat yang layak disembah. Kita adalah tamu Allah, hadir langsung ke Rumah-Nya.

Sebagai tamu Allah, kita sedang berada di dekat-Nya. Maka, mari tundukkan diri di hadapan-Nya. Mari menyembah-Nya dengan kekhusyukan semaksimal mungkin. Ketundukan itu lahir dari pengakuan bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Pangkat, jabatan, kekayaan, ilmu, fisik, semua tidak berarti apa-apa di hadapan-Nya. Kita tunduk, kita patuh, karena kita butuh.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Penyembahan kepada Allah dilakukan dengan memperbanyak ibadah ritual. Saat menyembah Allah, hadirkan diri sebagai abid (penyembah ritual) sekaligus ‘abd (hamba Allah yang sadar diri), bukan sebagai orang yang datang menyembah-Nya dengan kebanggaan dan kesombongan.

Sebagai tamu Allah Yang Maha Rahman, kita juga diminta memiliki makna dan sifat yang luas. Allah dengan sifat Rahman-Nya bermakna kasih sayang-Nya tidak terbatas. Bukan hanya untuk orang beriman, tetapi juga untuk seluruh alam semesta. Maka, sebagai tamu Allah Yang Maha Rahman, kita diminta memiliki sifat lapang, tidak membeda-bedakan, dan tidak mengunggulkan ego kita.

Tata Krama, Adab, dan Bekal Oleh-Oleh

Sebagai tamu, tentu kita harus menjaga tata krama, mempraktikkan adab mulia, dan membawa bekal sebagai oleh-oleh. Tata krama dan adab secara jelas disebutkan oleh Allah, yaitu dengan tidak rafas, tidak fusuk, dan tidak jidal.

Keseluruhan sikap ini diperlukan agar kita menjadi tamu Allah yang baik. Kita juga perlu membawa bekal oleh-oleh yang paling utama: takwa.

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Penuhilah bekal itu, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Mudah-mudahan kita semua dianugerahi Allah sebagai haji mabrur, yang dinilai sebagai kebaikan atas usaha ibadah kita, diampuni dosa-dosa kita, dan perniagaan kita dengan Allah benar-benar berbuah kebaikan di dunia dan akhirat. Amin ya Rabalalamin. Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Opini

Detak jantung tidak pernah berhenti bekerja—tetapi kita sering…