
Setelah berhari-hari kering, Makkah akhirnya diguyur hujan deras menyusul salat Istiska, menegaskan bahwa doa hamba selalu didengar Allah.
Oleh Afan Alfian, langsung dari Tanah Suci
Tagar.co – Salat Istiska selalu menjadi momen penuh pengharapan dan kerendahan hati bagi umat Islam. Saat bumi kering dan langit enggan menurunkan hujan, manusia kembali mengingat keterbatasannya, menyerahkan segala urusan kepada Allah. Sejak masa Rasulullah, salat Istiska menjadi simbol pasrah, harap, dan kebersamaan umat dalam memohon turunnya rahmat.
Makna itu terasa nyata di Tanah Suci dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu 12 November 2025, setelah salat Isya di Masjidilharam, seorang imam menyampaikan pengumuman resmi, mengajak seluruh jemaah untuk mengikuti salat Istiska pada Kamis pagi 13 November 2025.
Ajakan itu muncul karena Makkah dan sekitarnya telah lama kering; udara panas menyengat, debu beterbangan, dan warga merasakan sendiri kekeringan yang melanda. Seruan itu menjadi pengingat bahwa hanya Allah tempat bergantung ketika bumi kehilangan kesejukannya.
Perubahan pertama mulai terlihat Jumat, 14 November 2025. Seorang teman yang tengah menempuh perjalanan dari Madinah menuju Makkah sebagai pendamping tamu Allah melaporkan peristiwa tak terduga: perjalanan harus terhenti sementara di sebuah rest area karena hujan lebat turun di tengah jalan. Langit antara Madinah dan Makkah menunjukkan tanda-tanda perubahan, seolah merespons doa-doa yang telah dipanjatkan.
Hujan Deras Sabtu Subuh
Puncak dari rangkaian peristiwa itu terjadi Sabtu, 15 November 2025. Tak lama setelah azan Subuh berkumandang di Masjidilharam, hujan deras turun membasahi Kota Suci.
Petir menggelegar, kilat menyambar, dan angin membawa aroma tanah basah yang sudah lama dinantikan. Hujan berlangsung hingga siang, langit sekitar Masjidilharam tetap mendung, dan hujan lebat kembali mengguyur daerah Aziziyah. Suasana ini menghadirkan keajaiban yang jarang terjadi di Makkah.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa Allah Mahabesar, Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan doa hamba-Nya. Ketika manusia berserah diri, berdoa dengan tulus, dan mengakui kelemahannya, rahmat dari langit pun turun.
Hujan yang membasahi Makkah menjadi bukti nyata: doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati tidak akan terabaikan, dan Allah selalu memberikan pertolongan bagi mereka yang memohon dengan tulus. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












