
Melalui Pemilu Raya Hisfa, santri Pesantren Al-Fattah Sidoarjo belajar memilih dan memimpin. Inilah langkah awal mereka menapaki jalan menjadi negarawan yang berakhlak dan visioner.
Tagar.co — Usai upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional, suasana Pesantren Al Fattah Sidoarjo tak langsung lengang. Justru, gelombang semangat baru mulai terasa. Hari itu, Kamis (2/5/2025), seluruh santri, asatiz, pimpinan sekolah (SMP/SMA), pesantren, dan asrama bersiap mengikuti Pemilu Raya untuk memilih Ketua Hisfa Masa Bakti 2025–2026.
Pemilu Raya ini menjadi ajang penting. Bukan sekadar memilih pemimpin organisasi santri, tetapi juga sarana belajar demokrasi dan tanggung jawab bagi seluruh warga pesantren. Sebanyak lima kandidat putra dan lima kandidat putri bersaing memperebutkan kepercayaan jemaah Hisfa XXV.
Baca juga: Debat Kandidat Hisfa XXV: Ajang Unjuk Gagasan Calon Pemimpin Santri

Para kandidat bukan sembarang santri. Mereka yang maju telah memenuhi serangkaian kriteria ketat: berakhlak karimah, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, hafal minimal dua juz, berpengalaman minimal satu tahun sebagai pengurus Hisfa, berdomisili di asrama, memiliki kemampuan bahasa asing, dan tentu saja—jiwa kepemimpinan.
Sejak pagi, petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tampak sibuk di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 1 hingga TPS 4. Mereka telah diambil sumpahnya saat Musyawarah Hisfa (Muhis), berjanji menjalankan tugas dengan amanah dan penuh tanggung jawab.
Ketika proses pemungutan suara dimulai, santri dan asatidz berdatangan dengan antusias. Para asatidz diberikan hak dua suara—untuk memilih satu kandidat putra dan satu kandidat putri. Sedangkan santri memilih satu kandidat sesuai gender masing-masing.

Riuh rendah terdengar di area TPS. Tak sedikit santri yang tampak bingung menentukan pilihan. Semua kandidat memiliki keunggulan dan rekam jejak yang baik. “Semua kakak kandidatnya keren-keren, susah milihnya,” bisik seorang santri putri kepada temannya.
Setelah mencoblos, setiap pemilih mencelupkan jari ke tinta biru—tanda telah menyalurkan hak suara. Proses berjalan tertib dan lancar, mencerminkan kedewasaan berdemokrasi yang tumbuh di lingkungan pesantren.
Penghitungan suara dijadwalkan berlangsung hingga malam. Nama Ketua Hisfa terpilih akan diumumkan keesokan harinya, setelah hasilnya dihitung dengan cermat dan disetujui secara mufakat oleh dewan pengasuh, pimpinan sekolah, dan asatiz.

Pemilu Raya ini tak sekadar memilih pemimpin baru. Ia menjadi simbol bahwa demokrasi dan kepemimpinan bisa dijalankan dengan baik di lingkungan pesantren. Semua pihak berharap Ketua Hisfa yang terpilih nantinya dapat mengemban amanah, memimpin dengan bijaksana, dan membawa organisasi Hisfa ke arah yang lebih baik.
Saat matahari mulai condong ke barat, suasana TPS mulai lengang. Namun, semangat berdemokrasi yang menggelora di hati para santri akan terus hidup—menjadi bekal mereka, bukan hanya untuk memimpin Hisfa, tetapi juga memimpin masa depan. (#(
Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni












