Feature

Kitab Kuning di Pesantren Muhammadiyah Dibahas Kajian Ini

111
×

Kitab Kuning di Pesantren Muhammadiyah Dibahas Kajian Ini

Sebarkan artikel ini
Kitab kuning sebagai sumber klasik literatur keislaman tidak boleh ditinggalkan oleh Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi modern. Bisa menjadi referensi tajdid.
Gus Ibnu Yusuf bin Kholil mengisi Kajian Ahad Pagi di Masjid Ar Rahmah PCM Pasirian Lumajang. (Tagar.co/Yahya Syafiqih)

Kitab kuning sebagai sumber klasik literatur keislaman tidak boleh ditinggalkan oleh Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi modern. Bisa menjadi referensi tajdid.

Tagar.co – Suasana Masjid Ar Rahmah, Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, ramai oleh jemaah yang datang dari berbagai penjuru, Ahad (28/12/2025).

Kajian Ahad Pagi itu diadakan oleh PCM Pasirian. Menghadirkan Ibnu Yusuf bin Kholil, dai muda dan pendiri Forum Gawagis Muhammadiyah. Gawagis adalah kata jamak dari gus yang diarabkan.

Gus Ibnu Yusuf membuka pengajian dengan membahas pentingnya menjaga warisan keilmuan Islam di tengah modernitas.

Jemaah, yang terdiri dari kalangan pemuda dan orang tua mendengarkan uraian di bawah langit cerah akhir tahun.

Gus Ibnu Yusuf menekankan, kitab kuning sebagai sumber klasik literatur keislaman tidak boleh ditinggalkan oleh Muhammadiyah yang dikenal sebagai organisasi modern.

Dia menganalogikan kitab kuning sebagai akar yang kuat, sementara Muhammadiyah adalah pohon yang tumbuh subur di era kontemporer.

“Kitab kuning adalah fondasi yang membuat Muhammadiyah tetap autentik dalam tajdidnya,” ujarnya.

Baca Juga:  Forum Gawagis Gelar Kongres dan Tablig Akbar

Dengan demikian Muhammadiyah memadukan tradisi dan modernitas menjadi kunci kemajuan umat.

Menurut dia, Muhammadiyah telah mengintegrasikan pengajaran kitab kuning di pondok pesantrennya. Ini bagian dari pelaksanaan gerakan pembaru.

Dia mencontohkan metode Alfiyah dalam pengajaran bahasa Arab masih relevan untuk membangun pemahaman mendalam terhadap fikih dan akidah.

“Memisahkan kitab kuning dari Muhammadiyah sama saja dengan memotong akar dari pohonnya. Ia akan layu dan kehilangan esensi,” tambahnya,

Gus Ibnu Yusuf menyampaikan, kesatuan antara kitab kuning dan Pesantren Muhammadiyah adalah manifestasi dari rahmatan lil alamin.

Dia mengajak hadirin aktif dalam kajian, agar generasi muda tidak tercerabut dari akar tradisi keilmuan Islam.

Zuriyah Ulama

Setelah kajian, Gus Ibnu Yusuf memperkenalkan Forum Gawagis Muhammadiyah yang didirikan sebagai wadah bagi zuriyah (keturunan) ulama Muhammadiyah.

Dia menjelaskan, Forum Gawagis bertujuan menyatukan para gus atau keturunan kiai yang aktif di Muhammadiyah, agar bisa berkontribusi lebih besar dalam dakwah dan pendidikan.

Gus Yusuf menambahkan, Forum Gawagis bukan sekadar perkumpulan bergaya, melainkan untuk memperkuat jaringan ulama muda di Muhammadiyah.

Baca Juga:  Pesantren Muhammadiyah Didorong Jadi Pelopor Hemat Energi lewat Gerakan 1000 Cahaya

Dengan struktur yang solid, termasuk dirinya sebagai ketua, forum ini telah mengadakan berbagai kegiatan seperti seminar dan pelatihan sejak diluncurkan pada awal Desember 2025. “Gawagis adalah jembatan antara tradisi gus dan semangat pembaruan Muhammadiyah,” katanya sambil menyebut kolaborasi dengan tokoh-tokoh seperti Gus Azis.

Dia mengundang jamaah untuk bergabung atau mendukung Gawagis Muhammadiyah, dengan visi membangun umat yang lebih kuat melalui kebersamaan. (#)

Jurnalis Yahya Syafiqih Muhib   Penyunting Sugeng Purwanto