Feature

Kisah Kokamwati Beragama Katolik Belajar Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di UMK

45
×

Kisah Kokamwati Beragama Katolik Belajar Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di UMK

Sebarkan artikel ini
Kisah Kokamwati Afra Asmici Dian. Saat dia di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat pembukaan Tanwir Muhammadiyah di UMK, 4 Desember 2024. (Foto muhammadiyah.or.id)

Kisah Kokamwati Afra Asmici Dian sangat menarik, bagaimana ia mengikuti mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di Universitas Muhammadiyah Kupang.

Tagar.co – Afra Asmici Dian (24) adalah mahasiswi semester tujuh Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK).

Dia menjadi anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam). Karena perempuan, maka sebutannya adalah Kokamwati

Yang unik—tidak seperti Kokam dan Kokamwati lainnya yang beragama Islam—Afra beragama Katolik.

Dia mengaku sangat senang dilibatkan sebagai anggota tim pengaman Tanwir Muhammadiyah yang dihelat di UMK, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), 3-6 Desember 2024.

Baca juga: Universitas Muhammadiyah Kristen

Afra juga menyampaikan apresiasi atas pelayanan yang diberikan Muhammadiyah kepada setiap orang tanpa terkecuali.

Menurut mahasiswa asal Flores ini, sebelum bergabung dengan Kokam, dia sempat aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada semester awal.

Namun mulai mengurangi aktivitas organisasi karena ingin fokus menyelesaikan tugas akhir skripsi.

Ketika ditanya tentang pengalamannya selama kuliah di UMK, senyum lebar merekah dari bibirnya. Sebab, dirinya yang merupakan jemaah Katolik bisa diterima dengan hangat di UMK yang notabene adalah perguruan tinggi swasta (PTS) Islam.

Baca Juga:  Kokam Cerme Siapkan Pelantikan BPO

“Kami merasa senang di sini. Bisa diterima dengan baik, teman-teman kita saling bantu dan akrab,” katanya.

Tak hanya itu, air mukanya juga terlihat sumringah ketika membicarakan tentang mata kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Afra telah mengikuti mata kuliah AIK.

Dia mengaku tidak begitu mengalami kesulitan ketika belajar AIK. Namun dia merasa lumayan kesulitan ketika belajar Bahasa Arab. “Itu tulisannya yang panjang-panjang garis-garis (hijaiah) agak susah, tapi dukungan kita punya teman ada dan mereka baik-baik,” imbuhnya.

Belajar mata kuliah AIK menurut Afra tidak soal nilai, tapi juga tentang pengalaman lebih-lebih untuk urusan toleransi. Di mata Afra, toleransi di Muhammadiyah tak hanya sebatas kata tapi sudah dilakukan secara nyata.

“Kita ini yang berbeda agama saya kira tidak bisa. Tapi di Muhammadiyah kita diterima dengan baik, tidak hanya ucapan kita bersama-sama dengan melakukan,” ungkapnya.

Ternyata tak hanya dirinya yang menempuh pendidikan di UMK. Anak dari pasangan Phlipus Jemurut dan Yustina Linas yang lain juga kuliah di UMK. Yaitu kakaknya yang sudah menyelesaikan studi di UMK dan adiknya saat ini sedang menjalani kuliah di UMK.

Baca Juga:  Komandan Mirdasy dan Kebangkitan Kokam di Pusaran Reformasi

“Bapak kami bersyukur ada Muhammadiyah sebagai tempat belajar anak-anaknya. Terlebih kita sebagai keluarga yang kurang mampu,” katanya, Kamis (5/12/24), dikutip dari muhammadiyah.or.id

Afra berharap aksi sosial, kemanusiaan, dan pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah semakin luas, sehingga dapat memberikan manfaat lebih banyak bagi lagi masyarakat yang merasakannya.

Kisah Kokamwati ini mengingatkan pada sambutan pembukaan Tanwir dan Resepsi Milad Ke-112 Muhammadiyah, Rabu (4/12/24), Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan dari 8.800 mahasiswa UMK, 82 persen beragama Katolik dan Protestan,” ungkapnya. Oleh karena itu ada plesetan UMK menjadi Universitas Muhammadiyah Kristen. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni