Feature

Kemendikdasmen Raih Gold Play Button dari YouTube: Teknologi Jadi Kunci Pendidikan Inklusif di Indonesia

40
×

Kemendikdasmen Raih Gold Play Button dari YouTube: Teknologi Jadi Kunci Pendidikan Inklusif di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Mendikdasmen Abdul Mu’ti saat menerima penghargaan Gold Play Button dari YouTube

Kemendikdasmen meraih Gold Play Button dari YouTube, penghargaan yang diberikan kepada kanal dengan lebih dari 1 juta subscriber. Kolaborasi dengan Google membuka peluang besar bagi pemerataan pendidikan digital di seluruh Indonesia. 

Tagar.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meraih penghargaan Gold Play Button dari YouTube, penghargaan yang diberikan kepada kanal dengan lebih dari 1 juta subscriber, yang diserahkan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, pada Rabu (7/5)/25 di kantor Kemendikdasmen, Jakarta.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada tim media kementerian atas capaian ini, yang telah mendapatkan pengakuan dari Google dan masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: Kemendikdasmen Raih GSM Award 2025 berkat Video Senam Anak Indonesia Hebat

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga mengucapkan terima kasih kepada Google atas dukungannya dalam menyampaikan informasi kebijakan pendidikan kepada masyarakat luas. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan penyedia platform digital merupakan langkah nyata dalam menciptakan pendidikan yang bermutu bagi semua warga negara.

“Sinergi ini akan terus kami perkuat untuk memperluas akses pendidikan yang adil dan inklusif di seluruh Indonesia,” ungkap Mendikdasmen.

Baca Juga:  Pendaftaran TKA untuk SD–SMP 2026 Dibuka, Jadi Dasar Jalur Prestasi SPMB

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya peran teknologi dalam menjawab tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia, terutama dengan kondisi geografis negara yang beragam. “Teknologi memungkinkan kita menjangkau mereka yang berada jauh dari jangkauan pendidikan konvensional, baik di daerah terpencil maupun perbatasan. Inilah peluang besar untuk mengatasi kesenjangan pendidikan,” kata Mendikdasmen.

Mendikdasmen juga menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena “viralitas” konten yang sering kali tidak sejalan dengan kualitas. Ia menegaskan bahwa meski teknologi memberikan kemudahan, penggunaannya tetap harus diimbangi dengan etika yang baik dalam menyebarkan informasi. “Viralitas konten tidak selalu mencerminkan kualitas. Kita harus bijak dalam memilih dan menyebarkan informasi yang benar,” tambahnya.

Sementara itu, Danny Ardianto, Kepala Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah YouTube untuk Asia Tenggara, menyampaikan bahwa YouTube berkomitmen untuk mendemokratisasi akses pembelajaran bagi semua orang, di mana pun mereka berada. “Melalui inisiatif seperti Akademi Edukreator dan YouTube Learning Hub, kami telah melatih lebih dari 2.700 anak muda dan profesional di Indonesia sejak 2021 untuk menciptakan konten pendidikan yang bermanfaat,” ungkap Danny.

Baca Juga:  Abdul Mu’ti Tegaskan MBG Terintegrasi dengan Program Kemendikdasmen

Acara tersebut juga menjadi ajang peluncuran Gemini Academy 2025, sebuah program kolaborasi antara Google dan Kemendikdasmen yang bertujuan untuk membekali para pendidik dengan keterampilan terbaru dalam memanfaatkan teknologi, seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam pengajaran dan integrasi pembelajaran coding.

Dengan teknologi yang semakin berkembang, kolaborasi ini membuka peluang bagi pendidikan Indonesia untuk melangkah lebih maju, menjangkau lebih banyak siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni