
Penguatan pendidikan karakter tak bisa berdiri sendiri. Dari ruang Temu Komunitas Nasional, lahirlah komitmen bersama lintas organisasi, lembaga, dan masyarakat untuk menyiapkan generasi tangguh di era digital.
Tagar.co — Suasana hangat tampak menyelimuti ruang pertemuan saat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menggelar Temu Komunitas Nasional untuk Penguatan Pendidikan Karakter, Kamis (21/8/25).
Pertemuan yang diinisiasi Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) ini menghadirkan 47 perwakilan organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, komunitas masyarakat sipil, mitra pembangunan, dan media.
Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali, menegaskan pentingnya pendidikan karakter yang dekat dengan realitas zaman.
“Pendidikan karakter yang dapat diajarkan kepada anak-anak kita ataupun generasi muda saat ini, tentunya adalah pendidikan karakter yang kontekstual dan akrab dengan perkembangan teknologi saat ini,” ungkapnya.

Arif menambahkan, Kemendikdasmen telah menggulirkan program Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai langkah konkret.
“Gerakan bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, makan sehat dan bergizi, bermasyarakat, dan tidur cepat kiranya tidak hanya sebuah slogan, tetapi sebuah ajakan nyata untuk membiasakan pola hidup positif yang kelak akan membentuk generasi tangguh, unggul, dan berkeadaban,” ujarnya.
Dukungan lintas pihak juga menjadi sorotan. Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, menyampaikan apresiasinya.
“Kami meyakini bahwa penguatan karakter tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, Puspeka terus berupaya memperkuat karakter melalui berbagai program yang melibatkan catur pusat pendidikan, yaitu satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media,” tutur Rusprita.

Nada optimisme turut hadir dari para peserta. Lia Yulindaria, pengurus Divisi Penjaminan Mutu LP Ma’arif NU PWNU Jawa Barat, mengaku mendapat inspirasi baru dari forum ini.
“Saya merasa mendapat kehormatan dilibatkan dalam pertemuan ini. Materi yang kami dapatkan mampu memperkuat kami selaku komunitas pendidikan untuk mengetahui bagaimana arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat karakter murid,” ujarnya.
Selama kegiatan, peserta tidak hanya menerima materi mengenai Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, Lingkungan Belajar yang Aman, Nyaman, dan Menggembirakan, serta Satuan Pendidikan yang Inklusif dan Berkebinekaan.
Mereka juga diajak berdiskusi untuk membuka ruang sinergi nyata lintas organisasi. Harapannya, hasil temu komunitas ini tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi benar-benar terwujud dalam langkah kolaboratif memperkuat karakter murid di seluruh Indonesia. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












