
Macet panjang, langkah kaki yang tak kenal lelah, lapar yang menahan sabar—semua terjalin di Armuzna. Di balik perjalanan tanpa kepastian ini, ada keajaiban yang meneguhkan iman para tamu-Nya.
Mengurai Benang Kusut Pelaksanaan Haji 2025 (Bagian 3); Oleh Muh. Isa Ansori, Wakil Ketua PDM Pacitan, Jemaah Haji 2025 Al-Mabrur
Tagar.co — Muzdalifah dan Mina kembali membuktikan diri sebagai titik-titik krusial yang mesti diantisipasi jemaah haji di musim-musim mendatang. Banyak hal tak terduga terjadi di sana, seolah menuntut setiap insan untuk siap mental dan fisik, serta berani memutuskan langkah di tengah ketidakpastian.
Transportasi bus, yang diandalkan mengantar jemaah dari Muzdalifah ke Mina, seringkali tersendat bahkan macet total dalam waktu lama. Akibatnya, banyak jemaah akhirnya memilih opsi satu-satunya: jalan kaki menembus malam dan padatnya lautan manusia, demi bisa segera tiba di Mina.
Baca bagian lainnya: Mengurai Benang Kusut Pelaksanaan Ibadah Haji 2025
Maka, sejak di Tanah Air, sebaiknya para calon tamu Allah memperbanyak latihan jalan kaki. Fisik yang terbiasa melangkah jauh akan lebih siap ketika keadaan mendesak menuntut berjalan kaki belasan kilometer di Armuzna. Selain itu, bekal makanan cepat saji wajib disiapkan, sebab di puncak ibadah haji, sarapan pagi belum tentu datang tepat waktu.
Sudah beberapa musim haji, Armuzna selalu diwarnai problem lalu lintas. Maka, jemaah harus cepat membaca situasi: tetap menunggu bus di tengah ketidakpastian, atau keluar pagar Muzdalifah dan memilih melangkah di bawah langit terbuka.
Ironisnya, di sana tak ada petugas berseragam yang bisa ditanya. Semua mengenakan kain ihram, semua sedang sama-sama menunaikan puncak ibadah, bahkan yang sakit pun tetap harus menjalani rangkaian Armuzna.
Di antara kerumunan, setiap orang mengambil keputusan: menanti bus yang entah kapan datang, atau bersama rombongan memulai perjalanan kaki menuju Mina.
Bagi yang memilih berjalan kaki, rata-rata menempuh jarak 5 hingga 6 kilometer. Namun, justru merekalah yang tiba lebih awal di tenda Mina, sekitar pukul 09.00 pagi, sedangkan rombongan yang setia antre di Muzdalifah baru bergerak setelah berputar-putar di pintu utara dan selatan berulang kali.
Membiasakan Budaya Tertib
Persoalan yang terus berulang: jemaah kita kerap enggan antre dengan tertib. Gambaran kasarnya bisa dilihat di pelataran Ka’bah, ketika berebut mencium Hajar aswad—desakan, adu tenaga, dan kurang peduli pada keselamatan orang lain. Begitu pula saat antre masuk terminal, menaiki bus, atau keluar pagar Muzdalifah.
Sebagai pembanding, di Australia, tiga bulan pertama anak-anak sekolah digunakan untuk menanamkan budaya antre. Sementara kita, justru sering membanggakan trik memotong antrean, memanfaatkan koneksi dan kedekatan.
Di Muzdalifah, mereka yang tak sabar berebut posisi di depan pagar demi cepat naik bus menuju Mina. Namun, sejak pukul 02.00 WAS, bus macet total. Hingga menjelang Subuh pukul 04.00, bus penjemput tak kunjung datang. Jemaah pun berinisiatif salat Subuh di tempat, di tengah kerumunan rapat manusia—bergeser maju atau mundur pun nyaris mustahil.
Kurang tidur di bawah langit Muzdalifah membuat fisik cepat terkuras. Belum lagi, tak ada sarapan yang bisa diharap. Selepas Subuh, sebagian mencoba memejamkan mata, sementara ratusan orang lain tetap berdiri menanti jemputan. Bekal seadanya dikeluarkan, sisanya mencari di tumpukan kardus berisi roti atau makanan ringan.
Saat siang menanjak, perlahan kepadatan terurai. Jalur bus dialihkan, sebagian jemaah diarahkan jalan kaki, ditambah adanya peserta murur—rombongan yang langsung menuju Mina tanpa turun di Muzdalifah.
Mereka yang berhasil naik bus pun tiba di Mina menjelang Zuhur. Sayang, banyak bus tak bisa merapat ke pintu tenda, sehingga jamaah terpaksa kembali berjalan kaki mencari tenda masing-masing.
Sialnya, makan siang keburu ditarik. Tak ada warung atau toko, sekadar untuk membeli mi instan pun nihil. Tenda yang padat, jemaah bercampur daerah, tak ada sekat putra-putri, toilet terbatas—semuanya menuntut sabar, apalagi kala perut keroncongan.
Belum Usai
Ujian fisik belum berhenti. Usai Magrib, diputuskan berangkat melontar jumrah akabah. Padahal, ada jemaah yang sudah 24 jam tak menyentuh nasi, dengan harapan bisa makan malam setelah dari Jamarat.
Malang, malam itu jalur Jamarat memutar. Jarak tenda ke Jamarat normalnya 5 kilometer, kini memanjang jadi hampir 10 kilometer. Lelah, lapar, dan kaki pegal menjadi satu.
Kembali ke tenda pun tidak menjamin perut kenyang. Makan malam sudah ditarik karena mereka lewat batas waktu. Alhasil, harus menunggu sarapan esok paginya—total ada yang 36 jam tak makan nasi.
Kehebatan Tamu Allah
Meski demikian, di sinilah keajaiban tamu Allah Swt. Jemaah tetap kuat bertahan meski fisik nyaris tak ditopang asupan memadai. Begitu kaki menjejak tenda, belum sempat rebah, datang kabar: seorang jamaah lansia tersesat ke tenda lain yang cukup jauh. Akhirnya, Google Maps jadi andalan penjemputan. Baru pukul 02.00 dini hari jamaah itu kembali ke tendanya.
Belum juga tuntas, terdengar kabar lagi: satu jemaah dari rombongan V kelelahan, tak sanggup menyusul. Tim medis menjemput, membawa ke klinik jamarat. Upaya kontak kanan-kiri buntu—semua kehabisan tenaga. Pilihan terakhir: pasrah, pulihkan diri, lalu jemput esok pagi.
Setelah Subuh, sarapan menenangkan perut. Persiapan penjemputan dimulai lagi. Namun, panggilan dan pesan WhatsApp ke jemaah bersangkutan tak dijawab. Langkah terakhir: berwudu, salat duha, menenangkan hati. Alhamdulillah, tak lama kemudian, panggilan balik datang. Jamaah sudah pulih, dalam perjalanan kembali ke tenda.
Ada sedikit jeda menarik napas lega. Namun, di antara napas itu, masih tersisa satu pertanyaan: akan mengambil nafar awal atau nafar sani? Lagi-lagi, belum ada kepastian. Wallahua‘lam. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












