Telaah

Kasih Sayang tanpa Batas: Hikmah dari Seteguk Air

36
×

Kasih Sayang tanpa Batas: Hikmah dari Seteguk Air

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Seteguk air bagi anjing kehausan mengantar seorang pendosa pada ampunan Allah. Sebuah kisah penuh hikmah yang mengajarkan bahwa kasih sayang dan kebaikan sekecil apa pun bernilai besar di sisi-Nya.

Oleh: Muhammad Damanhuri alias Ustaz Dayak, Ketua Yayasan Kejayaan Mualaf Indonesia dan Ketua Umum Lembaga Majelis Taklim Mualaf Kalimantan Barat.

Tagar.co – Alhamdulillah, di pagi yang penuh berkah ini, kita kembali dipertemukan dengan hari Jumat di tengah bulan suci Ramadan. Ini adalah fase kedua Ramadan, sepuluh hari penuh limpahan maghfirah. Siapa tahu, ini adalah Jumat terakhir yang kita rasakan dalam hidup—sebuah pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Tadi malam, hujan turun di tempat kami. Rahmat Allah menyapa bumi, menyirami tanah yang mungkin merindukan kesejukan. Semoga hati kita pun senantiasa diguyur hidayah, sehingga tetap subur dalam keimanan dan kebaikan.

Pada kesempatan ini, mari kita renungkan kisah penuh hikmah dari Kitab Syajaratul Ma’arif, tepatnya Bab 10: Memberi Minum Anjing—sebuah kisah sederhana, tetapi sarat makna tentang belas kasih dan ampunan Ilahi.

Baca Juga:  Menjaga Kehormatan Orang Saleh di Tengah Fitnah

Kasih Sayang yang Membawa Ampunan

Dikisahkan, seorang wanita dari Bani Israil, yang dikenal sebagai seorang pelacur, melihat seekor anjing terengah-engah kehausan. Tanah menjadi saksi betapa hewan itu hampir tak berdaya. Dengan hati yang tersentuh, wanita itu menjulurkan sepatunya ke dalam sumur, mengambil air, dan memberikannya kepada anjing tersebut. Atas kebaikan kecil itu, Allah mengampuni dosa-dosanya. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dalam kisah lain, seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan merasakan dahaga luar biasa. Ia turun ke sumur untuk minum, lalu naik kembali dengan tubuh yang lebih segar. Namun, pandangannya tertumbuk pada seekor anjing yang menjulurkan lidah, kehausan seperti yang baru saja ia alami.

Hatinya berbisik, “Makhluk ini mengalami penderitaan yang sama seperti yang baru saja aku rasakan.”

Tanpa ragu, ia kembali turun, memenuhi sepatunya dengan air, lalu menggigitnya dengan mulut agar bisa membawanya ke atas. Air itu kemudian diberikan kepada anjing yang kehausan. Dengan perbuatan kecil itu, Allah pun mengampuni dosa-dosanya.

Baca Juga:  Silaturahim, Amalan Sederhana dengan Dampak Luar Biasa

Para sahabat yang mendengar kisah ini bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kebaikan kepada hewan juga mendatangkan pahala?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Pada setiap hati yang basah (makhluk hidup) terdapat pahala.” (H,R. Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari Kisah Ini

1. Kasih Sayang Melampaui Batasan

Kebaikan tidak mengenal status, latar belakang, atau siapa yang menerima. Bahkan seorang pendosa pun bisa meraih ampunan dengan belas kasihnya kepada makhluk Allah.

2. Prioritas dalam Menolong

Memenuhi kebutuhan yang paling mendesak lebih utama daripada kebutuhan yang lebih ringan. Jika ada manusia yang sangat kehausan, maka ia lebih didahulukan. Jika di antara mereka ada Nabi, wali, atau ulama, maka mereka lebih utama karena perannya dalam menyebarkan kebaikan.

3. Setiap Kebaikan Bernilai di Sisi Allah

Tidak ada perbuatan baik yang sia-sia. Bahkan memberi minum seekor anjing pun bisa menjadi jalan menuju ampunan Allah.

Sebagai penutup, marilah kita senantiasa berhati-hati dalam berkata-kata, sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa 43, yang mengajarkan kita untuk tidak berbicara sembarangan, karena bisa jadi perkataan itu tidak dipahami, atau bahkan menyesatkan.

Baca Juga:  Gebyar Ramadan, Muhammadiyah Dukun Gelar Pawai

Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk terus menebar kebaikan, sekecil apa pun itu. Sebab, bisa jadi ampunan Allah datang melalui hal yang tidak kita sangka. Wallahualambisawab. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…