
Juara kelas IXA, Juno Fadlin Kurniawan, mengungkap sisi lain perjuangannya saat tampil di Spemaju Art Fest dan Apresiasi Siswa Kelas IX. Bukan hanya prestasi, ia berbagi kisah jatuh-bangun yang membentuk dirinya hari ini.
Tagar.co – Juno Fadlin Kurniawan, juara kelas IX-A SMP Muhammadiyah 7 (Spemaju) Cerme, Gresik, Jawa Timur, tampil sebagai wakil siswa menyampaikan pesan dan kesan dalam acara Spemaju Art Fest dan Apresiasi Siswa Kelas IX yang digelar di halaman sekolah, Sabtu (14/6/2025). Suaranya jernih, langkahnya mantap, dan pesannya menyentuh hati: tentang mimpi, kegagalan, dan bangkit kembali.
Sebanyak 74 siswa-siswi kelas IX hadir dalam acara yang dirangkai dengan nuansa seni dan penghargaan. Momentum ini menjadi penanda akhir masa belajar mereka sekaligus perpisahan yang penuh makna.
Baca juga: Spemaju Lepas 74 Siswa, Kepala Sekolah: Beranilah Bermimpi dan Berjuang!
Dengan mengenakan stelan batik merah-hitam, Juno melangkah menuju panggung. Dari bibirnya mengalir kata-kata yang menandai betapa dalamnya makna Spemaju dalam hidupnya dan kawan-kawan.
“Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kami mengenakan seragam putih biru untuk pertama kalinya, gugup memasuki kelas baru, dan sekarang kami harus mengucapkan selamat tinggal,” ucapnya membuka sambutan.
Juno membagikan refleksi tentang proses belajar yang dialaminya selama tiga tahun. Menurutnya, pendidikan yang ia terima bukan hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga pelajaran kehidupan.
“Kami belajar tentang arti kerja sama, menghargai perbedaan, serta menghadapi kegagalan dan bangkit kembali,” ujarnya sambil mengenang pengalaman-pengalaman dalam mengikuti ajang perlombaan yang tak selalu berbuah kemenangan.

Namun, di sanalah pelajaran penting didapat. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan batu loncatan menuju versi diri yang lebih kuat. “Kami bersyukur pernah menjadi bagian dari Spemaju,” katanya penuh syukur.
Bagi Juno, setiap guru, teman, tugas, dan ujian di sekolah telah membentuk dirinya. “Lebih baik, lebih kuat, dan lebih dewasa,” ucapnya, seraya menyampaikan terima kasih mendalam kepada para pendidik.
“Teruntuk Bapak Ibu Guru, terima kasih atas setiap ilmu, nasihat, dan kesabaran yang tiada henti,” lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar.
Ia pun tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada ayah, ibu, dan keluarga tercinta. “Atas segala support, bimbingan, serta doa yang dipanjatkan sehingga saya dan teman-teman berhasil menyelesaikan pendidikan sampai saat ini,” tuturnya.
Doa dan harapan pun terucap, “Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan para guru, orang tua, dan keluarga tercinta. Semoga semua yang diberikan mendatangkan keberkahan dan pahala yang berlipat ganda.”
Ia menekankan bahwa perpisahan ini bukan akhir, tetapi jembatan menuju masa depan. Kepada teman-teman seperjuangannya, ia berpesan agar terus bermimpi dan tidak pernah takut gagal.
Tak lupa, pesan hangat juga ditujukan kepada adik-adik kelas. “Manfaatkan waktu di sekolah ini sebaik mungkin, karena masa SMP tak akan terulang,” katanya tegas.
“Sampai jumpa di masa depan, di tempat kita semua telah menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing,” tuturnya lembut.
Di akhir sambutan, ia menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan selama menempuh pendidikan di Spemaju. Ia berharap seluruh siswa bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan meraih masa depan yang gemilang.
“Terima kasih atas segala kenangan indah yang telah terukir di sini. Kami akan selalu mengingat dan mengenang SMP tercinta ini sebagai rumah kedua kami,” ujarnya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












