Feature

Jihad Energi di Rumah Kita: Dimulai dari Ibu

26
×

Jihad Energi di Rumah Kita: Dimulai dari Ibu

Sebarkan artikel ini
Para narasumber Sosialisasi Konservasi Energi bertajuk ‘Hemat Energi, Gaya Hidup Islami: Peran Ibu untuk Lingkungan yang Berkelanjutan’ pada Selasa 5 Agustus 2025 secara daring.

Lewat sosialisasi hemat energi bernilai Islami, para ibu didorong menjadi pahlawan ekologi di rumah. Dari menyalakan lampu secukupnya hingga memilih alat hemat energi—semua jadi bagian dari jihad ramah bumi.

Tagar.co – Selasa, 5 Agustus 2025, di sebuah ruang virtual dipenuhi wajah-wajah antusias. Lebih dari 285 peserta—mulai dari anggota Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) ‘Aisyiyah seluruh Indonesia, hingga masyarakat umum—mengikuti Sosialisasi Konservasi Energi bertema “Hemat Energi, Gaya Hidup Islami: Peran Ibu untuk Lingkungan yang Berkelanjutan”.

Acara ini digelar oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), bekerja sama dengan Program 1000 Cahaya Muhammadiyah dan LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Baca juga: Sedekah Energi di Masjid Buya Syafii: Muhammadiyah dan Mosaic Tunjukkan Cara Nyata Jaga Bumi

Tujuannya sederhana namun mendesak: mengajak keluarga Indonesia, terutama para ibu, menerapkan gaya hidup hemat energi sebagai bagian dari tanggung jawab iman dan kepedulian lingkungan.

“Gaya hidup hemat energi juga bagian dari pengamalan nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Ibu sebagai pendidik pertama, menjadi posisi yang sangat strategis untuk menanamkan perubahan pola hidup yang hemat energi, demi kelestarian lingkungan dan masa depan anak cucu kita,” ujar Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.

Baca Juga:  Aisyiyah Se-Eks Keresidenan Pekalongan Konsolidasikan Gerakan Perempuan Berkemajuan

Eniya menjelaskan, investasi energi baru terbarukan seperti pemasangan panel surya, mikro hidro, atau pembangkit listrik tenaga angin memang memerlukan biaya besar dan menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun, langkah sederhana di rumah tangga dapat memberi dampak signifikan. “Dengan budaya hemat energi, kita bisa menurunkan emisi 37 persen tanpa investasi besar,” tegasnya.

Nada yang sama disampaikan Prof. Masyitoh Chusnan, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Baginya, peran ibu bukan hanya soal mengatur rumah, tetapi juga meneladani anak dalam penggunaan energi.

“Sebagai ibu kita harus bisa menjadi teladan, menjadi contoh di dalam keluarga, bagaimana kita bisa menghemat energi yang kita butuhkan sehari-hari,” katanya. Ia menambahkan, hemat energi adalah bagian dari amanah sebagai khalifatulfilar untuk menyemai kebaikan, keadilan, kedamaian, dan kemaslahatan umat.

Wakil Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, sekaligus Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, menjelaskan bahwa progam 1000 Cahaya Muhammadiyah menjadi salah satu inisiatif strategis dan ikhtiar Muhammadiyah dalam mendorong transisi energi.

Bagi Hening Parlan, Direktur Program 1000 Cahaya Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua LLHPB PP Aisyiyah, ibu adalah “pusat energi” di rumah. Dari mengatur konsumsi listrik dan air, memilih peralatan rumah tangga, hingga kebiasaan memasak, semua memengaruhi keberlanjutan. “Dengan mengubah perilaku energi di rumah, seorang ibu bisa menghemat hingga 15 persen emisi karbon keluarga. Ini merupakan sebuah amal jariyah,” ujarnya.

Baca Juga:  Mulai dari Keluarga, Kepedulian Lingkungan Dibentuk sejak Dini

Hening menegaskan, program 1000 Cahaya Muhammadiyah menggerakkan efisiensi energi dan pemanfaatan energi terbarukan melalui masjid, sekolah, pondok pesantren, ranting, dan Aisyiyah. Ia menyebut para ibu sebagai Green Hero—pahlawan bumi yang membawa cahaya kesadaran ke rumah dan komunitas.

Isu hemat energi juga dibingkai dalam konteks perubahan iklim oleh Devi Laksmi, Koordinator Pengembangan Usaha Konservasi Energi. Menurutnya, emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil adalah penyebab utama pemanasan global. “Menghemat energi berarti mendukung kemandirian energi nasional, melindungi lingkungan, dan mengurangi pengeluaran rumah tangga. Dan siapa yang paling berperan dalam mengatur pengeluaran di rumah? Ya, para ibu,” katanya.

Devi mengaitkan ajakannya dengan QS Al-A’raf ayat 56, yang melarang manusia berbuat kerusakan di bumi. “Maka mari kita gunakan peralatan sesuai kebutuhan, jika tidak digunakan, matikan saja,” pesannya.

Endang Widayati, Widyaiswara Ahli Madya PPSDM KEBTKE menyebutkan bahwa pencahayaan yang berkualitas dan efisien dapat mengurangi konsumsi energi, dan meningkatkan kenyamanan dan produktivitas penghuni.

Aspek teknis tak kalah penting. Endang Widayati, Widyaiswara Ahli Madya PPSDM KEBTKE, menyoroti konsep healthy building—hunian sehat dan hemat energi. Ia mendorong pemanfaatan pencahayaan dan penghawaan alami. “Udara segar sangat memengaruhi kebugaran dan daya kerja kita. Bukalah jendela, atur ventilasi,” ujarnya.

Baca Juga:  Bakti Sosial Menjelang Ramadan, Aisyiyah Sendangagung Tebar 132 Paket Sembako

Sementara Herlin Herlianika dari CLASP mengingatkan ibu-ibu untuk memilih peralatan listrik berlabel hemat energi. “Label ini adalah implementasi kebijakan Kementerian ESDM untuk melindungi masyarakat dari produk boros energi,” jelasnya. Edukasi, tambah Herlin, harus menyebar ke teman, tetangga, dan komunitas sekolah.

Dari rangkaian pesan itu, benang merahnya jelas: perubahan besar bisa dimulai dari rumah. Dari sentuhan tangan ibu yang bijak, dari lampu yang dipadamkan saat tak digunakan, hingga kebiasaan membuka jendela di pagi hari. Semua langkah kecil itu menjadi bagian dari jihad ekologis yang tak hanya menyelamatkan bumi, tetapi juga memelihara amanah Tuhan. (#)

Jurnalis Dzikri Farah Adiba Penyunting Mohammad Nurfatoni