Feature

KBBI Dicari 305 Juta Kali: Bagaimana AI Mengubah Peran Kamus?

32
×

KBBI Dicari 305 Juta Kali: Bagaimana AI Mengubah Peran Kamus?

Sebarkan artikel ini
Suasana Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) Ke-8 yang digelar Badan Bahasa Kemendikdasmen di Jakarta 5 Agustus 2025.

Bagaimana nasib Kamus Besar Bahasa Indonesia di tengah gempuran kecerdasan artifisial? Seminar Leksikografi Indonesia Ke-8 menghadirkan jawaban: bahasa harus adaptif, namun tetap berakar pada budaya.

Tagar.co – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI), Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka babak baru dalam dunia perkamusan Indonesia.

Melalui Seminar Leksikografi Indonesia (SLI) Ke-8 yang digelar pada Selasa-Jumat (5-8/8/25) di Jakarta, Badan Bahasa mengangkat tema yang sangat relevan dan futuristik: “Leksikografi dan Kecerdasan Artifisial.”

Baca juga: Badan Bahasa Selenggarakan DKT tentang Literasi dan Sastra

Kegiatan ini diikuti 120 peserta terpilih dari seluruh Indonesia, yang terdiri atas akademisi, peneliti bahasa, pengembang kamus, hingga praktisi teknologi. Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, membuka acara dengan menegaskan bahwa peran kamus bukan sekadar rujukan, melainkan bagian dari sejarah perjuangan dan masa depan bangsa.

“Dengan lebih dari 305 juta pencarian daring terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tugas menjaga kualitas dan keberlanjutan kamus menjadi makin krusial,” ujar Hafidz.

Baca Juga:  Pemerintah Perkuat Sinergi Pusat-Daerah Atasi Kekurangan Guru

Namun, besarnya angka pencarian itu belum selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Masih banyak masyarakat yang salah kaprah memahami istilah, bahkan yang lazim digunakan sehari-hari. Hafidz menyoroti perlunya upaya sosialisasi istilah baru melalui media yang lebih mudah diakses dan dicerna.

Di sinilah kecerdasan artifisial hadir sebagai peluang sekaligus tantangan. “Etika dalam berbahasa itu penting, kata dalam KBBI bersumber dari kita. Maka KBBI harus mampu menjadi rujukan utama bagi sistem AI. Jangan sampai kosakata yang tidak santun dan tidak sesuai nilai budaya Indonesia justru menjadi yang paling mudah ditemukan melalui AI,” tegasnya.

Ia pun memberikan gambaran menarik tentang bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan pelestarian bahasa. “Bayangkan jika anak muda ingin mencari padanan kata ‘saya’ dalam sepuluh bahasa daerah, lalu AI secara langsung menampilkan kosakata tersebut lengkap dengan suara penutur asli. Ini ruang kreativitas luar biasa yang harus kita pelajari dan manfaatkan,” ujarnya antusias.

Namun, di balik potensi itu, Hafidz mengingatkan tentang dilema linguistik era digital. Kosakata yang tumbuh di ruang maya tidak serta-merta layak masuk ke dalam kamus formal. Validitas, kesantunan, dan keterwakilan budaya menjadi tiga parameter penting untuk menjaga KBBI tetap menjadi rujukan utama di ruang publik yang sehat dan beradab.

Baca Juga:  3.259 Entri Baru Perkaya KBBI pada 2025, Kini Total 210.595

Di tengah semangat menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, Hafidz menekankan pentingnya bahasa Indonesia sebagai pilar kedaulatan. Ia juga memaparkan sejumlah rencana strategis, di antaranya kerja sama internasional dengan Leiden University dan beberapa universitas di Australia untuk penguatan S2 dan S3 bidang leksikografi serta pembukaan program magang satu semester di Badan Bahasa bagi mahasiswa dalam negeri.

“Ini bukan sekadar seminar, tapi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kemerdekaan melalui bahasa,” ucap Hafidz menutup sambutannya.

Di sisi lain, Dewi Puspita, Widyabasa Ahli Madya, melaporkan bahwa animo terhadap seminar ini begitu tinggi. Lebih dari 200 orang mendaftar, namun hanya 60 makalah yang diterima dan 28 dipilih untuk dipresentasikan.

“Dunia perkamusan memerlukan keahlian dan konsentrasi khusus. Karena itu, untuk menjaga kualitas diskusi, seminar ini kami selenggarakan secara luring penuh,” ungkap Dewi.

Tema besar leksikografi dan AI dijabarkan dalam lima subtema: kebijakan perkamusan nasional, sistem manajemen kamus, kamus multibahasa, keterkaitan dengan data sains, serta isu terminologi kontemporer. Tak hanya itu, rangkaian kegiatan juga melibatkan Sidang Perkamusan Indonesia, sebuah forum strategis yang mempertemukan pakar dan praktisi untuk merumuskan masa depan perkamusan nasional.

Baca Juga:  ASEAN–SEAMEO dan Kemendikdasmen Luncurkan Peta Jalan PAUD 2026–2030

Salah satu pembicara utama, Ian Kamajaya, dalam paparan bertajuk “Kecerdasan Artifisial dan Sistem Manajemen Kamus di Indonesia”, menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur, kualitas data, pendanaan, dan sumber daya manusia. “Optimisme terhadap teknologi harus disertai ekspektasi realistis. AI memang menjanjikan, tapi implementasinya butuh fondasi yang kuat,” jelas Ian.

SLI 2025 menjadi penanda bahwa bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga simbol ilmu pengetahuan, identitas nasional, dan kekuatan budaya. Dengan sinergi antara teknologi dan nilai-nilai luhur kebahasaan, bahasa Indonesia siap menyongsong masa depan yang lebih adaptif dan berdaulat. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni