FeatureTelaah

Jangan Tergoda Kehidupan Orang Lain, Allah Tahu Takaranmu

28
×

Jangan Tergoda Kehidupan Orang Lain, Allah Tahu Takaranmu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Hidup bukan lomba siapa yang paling cepat sampai, tapi siapa yang paling benar melangkah. Setiap orang diberi ujian yang berbeda—yang kadang tak tampak oleh mata. Maka berhentilah membandingkan, dan mulailah fokus pada “kertas ujian” masing-masing, dengan sabar, syukur, dan salat sebagai jawabannya.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Kita hidup dalam takdir yang telah ditulis dengan teliti oleh Allah. Masing-masing diberi “kertas ujian” yang berbeda, sesuai kadar iman dan kemampuan. Maka, sibuk membandingkan hidup dengan orang lain hanya akan menambah beban hati. Fokuslah pada amanah sendiri, dan carilah kekuatan lewat sabar, syukur, dan salat.

Baca juga: Nurani: Penjaga Terakhir di Zaman Abu-Abu

Ada ungkapan sederhana namun dalam: “Fokuslah pada kertas ujianmu sendiri.” Kalimat ini bukan berasal dari motivator panggung atau filsuf ruang kuliah, tetapi tumbuh dari hikmah iman yang murni. Hidup kita pada hakikatnya adalah ujian-ujian yang personal, spesifik, dan tak pernah sama antara satu hamba dengan yang lain.

Allah Swt. berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)

Ujian hadir dalam bentuk yang tak selalu kasatmata. Sebagian diuji dengan kekurangan, sebagian lain diuji dengan kelimpahan. Ada yang diuji dengan kesepian, ada pula yang diuji dengan keramaian yang tak memahami hatinya. Maka, membandingkan hidup kita dengan orang lain adalah hal sia-sia—karena yang tampak hanyalah permukaannya, bukan luka dan usaha yang tersembunyi di baliknya.

Baca Juga:  Waktu Mustajab Hari Jumat

Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (H.R. Muslim No. 2963)

Iri, dengki, dan hasad lahir dari ketidaksadaran akan luasnya rahmat Allah. Padahal, bisa jadi orang yang kita anggap “lebih enak hidupnya” justru sedang menahan derita yang tak pernah diucapkan. Kita hanya melihat hasil, bukan proses. Kita hanya menilai lahiriah, tanpa menyelami batiniah.

Bahkan saat merasa paling baik, paling rajin ibadah, paling saleh dibanding orang lain—di situlah sesungguhnya kita tergelincir dalam jurang riya dan ujub. Padahal, keberkahan nikmat bisa saja dicabut sewaktu-waktu jika tak disertai syukur dan rendah hati.

Allah mengingatkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (An-Najm: 32)

Baca Juga:  Dusta yang Menghimpit, Tobat yang Membebaskan

Kunci utama dalam menjalani ujian hidup bukanlah keluhan atau ambisi meniru hidup orang lain, melainkan dua hal besar: sabar dan salat. Keduanya ibarat tongkat Musa yang mampu membelah kesulitan seluas Laut Merah.

Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah: 45)

Jangan pernah meremehkan kekuatan sabar. Dalam sabar ada kelapangan, ada keteguhan, dan dalam sabar yang diiringi salat terdapat ruang rahasia antara kita dan Allah—tempat seluruh beban diletakkan, tempat segala luka diobati.

Namun, bersabar tanpa syukur ibarat menunggu hujan tanpa genting di atas kepala. Syukur adalah pondasi yang membuat nikmat bertahan, dan yang mengundang nikmat berikutnya.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Ibrahim: 7)

Hidup bukan kompetisi, melainkan amanah. Kita tidak sedang berlomba menjadi yang tercepat mencapai garis akhir, melainkan yang paling benar menapaki jalan-Nya. Setiap orang memikul ujian yang tak terlihat. Maka jika tak mampu meringankan beban orang lain, setidaknya jangan menambah beratnya dengan prasangka dan perbandingan yang tidak adil.

Baca Juga:  Catatan Kecil di Dompet Arman

Mari kita ingat selalu: hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat berhasil, tapi siapa yang paling tekun dalam taat. Bukan tentang siapa yang paling dipuji manusia, tetapi siapa yang paling dicintai Allah.

Berhentilah merasa paling tahu jalan hidup orang lain, sebab belum tentu kita sanggup jika bertukar nasib dengannya. Dan jangan merasa hidup kita tak layak disyukuri, sebab selalu ada orang yang berdoa ingin berada di posisi kita.

Maka, mari jaga hati, niat, dan ibadah.

Fokuslah pada “kertas ujian” kita masing-masing. Jawablah soal-soalnya dengan iman, bukan dengan angan. Sebab Allah tak pernah salah memberi ujian, dan tak pernah keliru menakar kemampuan hamba-Nya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Semoga Allah memudahkan setiap urusan yang sedang kita hadapi, melapangkan dada yang sesak, menguatkan langkah yang nyaris patah, dan menerangi jalan kita dengan cahaya-Nya yang tak pernah padam.

اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا، وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا

“Ya Allah, tiada kemudahan kecuali yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau mampu menjadikan segala kesedihan menjadi kemudahan jika Engkau kehendaki.”

Amin, amin. Bārakallāhu fīkum. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni