Telaah

Nurani: Penjaga Terakhir di Zaman Abu-Abu

19
×

Nurani: Penjaga Terakhir di Zaman Abu-Abu

Sebarkan artikel ini
Nurani (Ilustrasi AI)

Di tengah derasnya arus opini dan bebasnya nilai, suara hati yang berbisik “itu haram” adalah karunia terbesar. Ia menandakan bahwa hati kita belum mati, bahwa nurani masih hidup, meski dunia mulai kehilangan arah. Dengarkanlah bisikan itu, karena bisa jadi, di situlah nyawa sejati kita bertahan.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang.

Tagar.co – Di zaman ketika batas halal dan haram mulai diabaikan, kehadiran suara hati yang masih peka terhadap nilai-nilai kebenaran adalah nikmat yang sangat besar. Ia menjadi tanda bahwa hati belum membatu, belum ditutup oleh dosa. Karena sejatinya, banyak tubuh yang hidup, tetapi hatinya telah lama mati.

Ketika dunia semakin bising dengan gemuruh opini, arus kebebasan, dan riuh godaan yang membius akal sehat, hanya sedikit yang masih menyisakan ruang sunyi untuk mendengar bisikan dari dalam: “Ini halal, dan itu haram.” Suara lirih namun kuat itu berasal dari fitrah yang masih terjaga, dari hati yang belum terkunci oleh maksiat dan kelalaian.

Allah ﷻ berfirman:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا (١٠)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 8–10)

Ayat ini menjadi fondasi spiritual bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki fitrah, suara hati atau nurani  yang mengenali jalan baik dan buruk. Namun, suara itu hanya bertahan jika tidak tertimbun oleh dosa, jika tidak dibisukan oleh kerakusan dunia. Sebab, dosa yang terus dilakukan akan memadamkan cahaya hati. Rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga:  Jika Bangsa Ini Mau Muhasabah

إِذَا أَذْنَبَ الْعَبْدُ نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ، حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، فَذَاكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ

“Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditorehkan satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, meninggalkan dosa itu, dan memohon ampun, maka hatinya akan dibersihkan. Namun, jika ia kembali berbuat dosa, titik hitam itu akan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya. Itulah ‘rán’ yang disebut Allah dalam firman-Nya.” (H.R. Tirmidzi)

Kemudian beliau ﷺ merujuk pada ayat:

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤)

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14)

Maka betapa bersyukurnya kita jika di tengah kehidupan yang penuh syubhat dan kebebasan nilai ini, masih ada bisikan dalam hati yang berkata: “Itu haram.” Sebab, itu tanda bahwa nurani belum padam, hati belum benar-benar mati. Imam Al-Ghazali pernah menulis, “Hati ibarat cermin. Jika terlalu sering terkena debu dosa, ia tidak lagi mampu memantulkan cahaya kebenaran.”

Rasulullah ﷺ mengingatkan pentingnya hati dalam kehidupan seorang Muslim:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Baca Juga:  Niat yang Terlewat, Puasa Tetap Sah?

“Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Maka, kehidupan sejati bukan terletak pada napas yang masih berhembus, tetapi pada hati yang masih hidup. Hati yang sadar bahwa ada hukum yang harus ditaati. Ada batas yang tak boleh dilampaui. Hati yang masih bisa menangis saat mendengar ayat suci, hati yang menunduk saat melihat maksiat, hati yang resah jika berada jauh dari kebenaran.

Orang-orang semacam ini mungkin tak terkenal, tak punya banyak pengikut, tetapi di sisi Allah mereka istimewa. Karena mereka adalah segelintir manusia yang menjaga al-hayaa’, rasa malu kepada Rabb-nya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ

“Malu adalah bagian dari iman.” (H.R. Bukhari)

Malu untuk melanggar, malu untuk menginjak-injak batas halal dan haram. Dalam dunia yang banyak merayakan kebebasan tanpa batas, orang yang masih menganggap penting soal halal dan haram adalah sosok asing. Tetapi justru merekalah yang disebut dalam sabda Rasulullah ﷺ:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing seperti semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing itu.” (H,R. Muslim)

Wahai jiwa-jiwa yang masih mendengar suara hati, tetaplah istiqamah. Jangan padamkan cahaya dalam dada itu dengan pembenaran-pembenaran yang menyesatkan. Jangan biarkan suara nurani tenggelam karena sering ditolak. Karena suara itu adalah cahaya dari Allah, yang bisa padam jika terlalu lama dikhianati.

Baca Juga:  Hukum Menunda Qada Puasa Ramadan

Bersyukurlah jika kita masih bisa membedakan antara jalan lurus dan jalan sesat. Bersyukurlah jika hati masih tersentak saat melangkah menuju haram. Bersyukurlah jika dada masih bergetar mendengar nama Allah, karena itu tanda kita masih hidup secara hakiki.

وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ

‘Barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapat petunjuk, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki-Nya sesat, Dia jadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit.” (Al-An’am: 125)

Jadi, jika hari ini, di antara hembusan napas kita yang sibuk, masih terdengar suara lirih dalam hati yang mengatakan: “Berhenti, itu haram,” maka jangan buru-buru memadamkannya. Dengarkan. Peluk suara itu. Sebab, itu bukan sekadar bisikan. Itu adalah nyawa sejati kita yang sedang bertahan.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang hatinya hidup, dan tidak termasuk yang disebut dalam firman-Nya:

أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (٢٤)

“Atau apakah hati mereka telah terkunci?” (Muhammad: 24)

Wallahualam. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni