
Lek panjenengan promo, ojo lali pesen benner
percetakan benner ana nang Benowo
Dadi wong iku ojo rumangsa paling bener
sebab sing paling bener iku Gusti Allah
Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan
Tagar.co – Dalam hidup ini, kita sering terjebak pada perasaan benar sendiri. Padahal, kebenaran sejati bukan berasal dari jumlah pengikut, kedekatan dengan kekuasaan, atau status duniawi seseorang. Kebenaran hanya datang dari Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ
“Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.” (Al-Baqarah: 147)
Apa yang berbeda dengan kita belum tentu salah, bahkan mungkin justru kita yang keliru. Kalimat bijak ini mengingatkan agar kita sering bermuhasabah: mengoreksi dan mengevaluasi diri, berhati-hati dalam bersikap, berpikir, bertutur, dan berperilaku, sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain.
Baca juga: Hidup Sekali Harus Berarti
Kebenaran itu mutlak atau absolut dari Allah Swt. Karena itu, sebagai hamba, kita tidak cukup hanya mengakui kebenaran, tetapi juga perlu memohon bimbingan-Nya agar mampu mengikuti kebenaran tersebut dan menjauhi kesalahan.
“Ya Allah, ya Rabb, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah kami untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula kami untuk menyingkirkannya agar kami selamat di dunia dan di akhirat. Amin.” (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












