
Nang Pamekasan numpak pesawat
urip sepisan kudu manfaat
Oleh Ustaz Soedjono, M.Pd; Dai Segudang Parikan
Tagar.co – Setiap manusia tentu ingin hidupnya penuh arti dan memberi manfaat. Islam mengajarkan bahwa hidup yang berarti adalah hidup yang membawa kebaikan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Hidup bukan sekadar menjalani rutinitas, melainkan kesempatan untuk menanam amal kebajikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.
Baca juga: Istikamah, Kunci Iman agar Tak Luntur
Artinya, ukuran keberhasilan hidup tidak hanya dilihat dari harta atau kedudukan, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang bisa kita wariskan.
Al-Qur’an memberikan tuntunan yang jelas tentang hal ini:
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
Ayat ini mengajarkan tiga hal penting: kemurahan hati dalam kondisi apa pun, kemampuan mengendalikan emosi, serta kelapangan dada untuk memaafkan. Semua itu adalah kunci agar hidup kita benar-benar menjadi cahaya bagi orang lain.
Doa yang indah juga patut kita panjatkan agar hidup kita selalu bermanfaat:
“Ya Allah, ya Rabb, jadikanlah kami insan yang bermanfaat bagi sesama, sebagaimana pohon kelapa—seluruh bagiannya, dari akar hingga ujung daunnya, memberikan manfaat. Amin.”
Mari kita wujudkan doa ini dengan langkah nyata. Mulai dari hal sederhana: membantu tetangga yang kesulitan, berbagi ilmu kepada teman, hingga tersenyum tulus yang bisa menenangkan hati orang lain. Semua itu bagian dari amal kebajikan yang kelak akan kembali pada diri kita. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












