
Indonesian Broadway dari segi visual, panggung sangat megah, gemerlap, penuh efek spektakuler. Instrumen Barat juga lebih kuat daripada suling, rebab, atau gamelan. Unsur etnik sekadar sebagai ornamen.
Oleh Ari Vardhana, penikmat seni budaya
Tagar.co – Ribuan orang memadati kompleks Gelora Bung Karno (GBK) sejak Sabtu (23/8/2025) siang. Mereka menghadiri hari pertama Pagelaran Sabang Merauke: The Indonesian Broadway – Tema Hikayat Nusantara.
Saya memilih menonton sesi kedua malam. Sejak pukul lima sore, suasana sekitar arena sudah lebih mirip festival daripada ruang teater. Ada instalasi foto berbasis AI, booth makanan tradisional, panggung kecil untuk fashion show daerah, hingga penampilan meriah dari figur-figur Jember Fashion Carnaval yang jadi primadona untuk diajak swafoto.
Di satu sisi, atmosfer itu terasa sebagai perayaan budaya. Di sisi lain, lebih menyerupai konser pop dengan cahaya lampu ponsel penonton yang berkilauan.
Kegembiraan kolektif yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus skeptis: apakah ini panggung budaya, atau sekadar pesta visual?
Imajinasi, Busana, Cerita Rakyat

Pertunjukan kolosal ini berlangsung dua hari, Sabtu-Ahad, 23–24 Agustus 2025. Lebih dari 1.500 seniman lintas generasi terlibat. Sebanyak 351 penari, 60 musisi, 800 kostum, 31 lagu, dan 100 koreografi.
Disutradarai Rusmedie Agus, produksi tahun ini tampil dengan panggung dua kali lebih besar daripada tahun sebelumnya.
Variasi koreografi juga lebih dinamis: dari anak-anak kecil yang menari Injit-injit Semut, pemuda dua puluhan yang mengangkat reog, hingga seniman senior yang sudah puluhan tahun hidup di panggung.
Prolog dibuka dengan kemunculan punakawan. Semar tampil sebagai DJ satir yang mengingatkan bahaya laten kesombongan. ”Jangan larut dalam euforia kesuksesan, karena bahaya laten itu nyata.”
Sesekali penonton tertawa, sesekali terdiam kecut seperti sedang tersentil. Setelah itu, satu per satu legenda rakyat hadir dalam koreografi dramatis dengan dukungan tata cahaya presisi. Pertama hikayat Yuyu Kangkang dengan aura ancaman di balik keindahan,
Lalu legenda Malin Kundang yang dibangkitkan Betari Kanestren, Kemudian Calon Arang dengan kutukan penuh energi gelap, hingga figur Mahadewi yang memberi kehidupan.
Salah satu momen paling memukau adalah ketika Yura Yunita “terbang” di udara sambil menyanyikan lagu Mahadewi bersama band Padi Reborn.
Sorotan lampu menciptakan kesan hamparan langit luas. Ekor gaun Yura menjuntai saat ia melayang di atas penari. Untuk sesaat, imajinasi Nusantara benar-benar terasa membubung. Membuat ribuan pasang mata bersorak, bertepuk tangan, bahkan berdiri.
Antara Broadway dan Gamelan
Namun di balik kemegahan itu, muncul pertanyaan: seberapa Nusantara sebenarnya pertunjukan ini?
Dari segi visual, suasana panggung terasa mirip Broadway. Megah, gemerlap, penuh efek spektakuler. Dari segi bunyi, dominasi instrumen Barat juga jauh lebih kuat daripada suling, rebab, atau gamelan. Unsur etnik hikayat Indonesia hadir hanya sebagai ornamen, bukan tulang punggung musikal.
Edward Said pernah menulis tentang bagaimana dunia Timur sering dipandang sebagai “yang lain.” Lalu diterjemahkan sebagai: agar mudah dipahami Barat.
Ada gema itu di sini: representasi Nusantara dikemas dalam format Broadway, agar bisa dijual, diekspor, dan diterima secara global.
Clifford Geertz menyebut budaya sebagai “jaring makna” yang ditenun bersama. Pertanyaannya: benarkah jaring makna ini kita tenun sendiri, atau sekadar membeli format jadi dari Broadway lalu menempelinya dengan motif batik?
Lebih payah, melihat perilaku beberapa oknum yang kurang memiliki etika. Saat beberapa adegan seperti Yura Yunita naik di atas naga, Tarian sakral Calon Arang berlangsung, cahaya flash kamera justru berkelebat.
Di tengah orkestra, ada yang asyik mengobrol soal pekerjaan. Inilah yang disebut Raymond Williams sebagai budaya laten: hal-hal banal yang diam-diam membentuk cara kita memandang seni. Mudah sekali kita lupa bahwa menonton pertunjukan bukan sekadar hiburan, melainkan juga latihan kesadaran.
Namun sebagian generasi mudah masih ada yang benar-benar larut: bertepuk tangan panjang ketika lagu Inspirasi Diri bersama Lanunan Satu Bangsa merepresentasikan semangat kebersamaan melintasi perbedaan yang ada.
Di momen itu, muncul simpati dan empati. Seperti dikatakan Amartono dalam buku 7 Langkah Mengarang Cerita, identitas lahir bukan hanya dari melihat, tetapi dari keberanian masuk ke pengalaman orang lain dan memberi makna.
Kagum, Khawatir, dan Kangen
Saya meninggalkan arena pagelaran Indonesian Broadway sekitar pukul 22.00 dengan perasaan campur aduk. Kagum pada etos ribuan seniman yang bekerja keras menghadirkan panggung spektakuler.
Salut pada produser yang berani menempatkan budaya di panggung raksasa, di tengah dominasi barat, konser K-pop atau digital/AI.
Tapi juga khawatir: jangan-jangan identitas kita hanya bisa hidup jika dikemas dengan format global dengan modal puluhan miliar.
Realitas sosial sehari-hari, isu toleransi, kemiskinan, problem kesehatan mental, bahkan kemacetan kota yang tercermin dari antrean toilet malam itu, nyaris tidak hadir di panggung. Identitas yang ditawarkan lebih berupa selebrasi megah ketimbang refleksi intim.
Sabang Merauke 2025 memang berhasil membuat diriku kangen “terbang” bersama Yura Yunita. Tapi Yura yang terbang saja tidak cukup.
Seperti karya sastra yang terus berkembang, pertunjukan budaya pun perlu berani mendekat ke kehidupan nyata: merayakan keragaman sekaligus menjaga keintiman dengan masyarakat lokal.
Akan lebih indah jika panggung sebesar ini suatu saat hadir di Jambi, Sulawesi Tenggara, atau daerah-daerah yang pernah mengalami luka konflik kemanusiaan.
Akhirnya, identitas bukan soal seberapa megah kita menampilkan diri, melainkan seberapa jauh relasi individu, relasi masyarakat membentuk budaya bersama sebagai bangsa. Sebab ketika relasi cerita berhenti, barulah kita benar-benar kehilangan akar identitas. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto










