
IKN akan menjadi warisan yang membebani bagi pemerintah pengganti. Sudah menghabiskan ratusan triliun. Ukuran sebuah ibu kota bukan pada kemegahan bangunannya, tetapi pada kemampuannya menjadi ruang hidup.
Oleh M. Rohanudin, Praktisi Penyiaran.
Tagar.co – Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak awal diproyeksikan sebagai lompatan besar Indonesia. Keluar dari beban lama menuju masa depan yang modern, hijau, dan terdesentralisasi.
Ingin dijual sebagai simbol transformasi. Namun semakin berjalan, proyek ini tidak hanya memproduksi harapan, tetapi juga menyeret pertanyaan yang belum terjawab.
Dengan nilai ratusan triliun rupiah, IKN adalah pertaruhan besar. Secara teori, pembangunan infrastruktur mampu mendorong ekonomi.
Tetapi dalam praktik, keberhasilan ditentukan oleh efisiensi, ketepatan waktu, dan kesinambungan pendanaan, adalah tiga hal yang justru masih belum sepenuhnya solid.
Ketika investasi belum mengalir optimal, negara menjadi penopang utama. Risiko fiskal membesar, sementara manfaat ekonomi belum terlihat.
Ini bukan sekadar proyek mahal, tetapi investasi berisiko tinggi dengan hasil yang belum pasti.
Di saat yang sama, kepercayaan investor belum benar-benar terbentuk. Dalam dunia investasi, peluang tidak cukup. Yang menentukan adalah kepastian.
Selama stabilitas kebijakan, arah politik, dan jaminan hukum belum konsisten, investor cenderung menunggu.
Lambatnya arus investasi bukan kebetulan, melainkan sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya yakin pada masa depan IKN sebagai pusat ekonomi baru.
Dinamika pembangunan yang fluktuatif memperkuat keraguan tersebut. Perubahan anggaran, prioritas, dan tahapan menunjukkan bahwa arah proyek masih terus dikoreksi.
Agaknya fleksibilitas memang penting, tetapi tanpa cetak biru yang kokoh, akan berubah menjadi ketidakpastian. Dalam kondisi seperti ini, risiko terbesar menjadi kehilangan arah.
Masalah IKN juga bersifat sistemik. Ketika investasi lambat, beban negara meningkat. Ketika beban meningkat, ruang fiskal menyempit. Ketika ruang fiskal menyempit, fleksibilitas kebijakan ikut melemah.
Rantai ini menunjukkan bahwa IKN bukan hanya proyek pembangunan, tetapi ujian terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Contoh Kasus
Di sisi lain, ada masalah klasik yang selalu mengintai, adalah pembangunan fisik jauh lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi.
Kota bisa dibangun dalam beberapa tahun, tetapi kehidupan membutuhkan waktu jauh lebih panjang. Jika tidak seimbang, yang lahir adalah kota yang selesai secara bentuk, tetapi kosong secara fungsi.
Sejarah telah memberi contoh. Ordos Kangbashi, kota baru yang dibangun di Mongolia, Tiongkok, tahun 2000. Dibangun megah untuk satu juta penduduk. Namun sepi peminat. Apartemen banyak yang kosong. Lalu mangkrak. Sempat dijuluki sebagai kota hantu.
Pemerintah mendukung dengan memindahkan kantor pemerintah daerah, sekolah, dan tempat bisnis ke situ. Tetap saja ekonomi tidak tumbuh secepat infrastrukturnya.
Naypyidaw adalah ibu kota negara Myanmar untuk menggantikan ibu kota Yangon juga menunjukkan pola serupa. Dibangun besar, modern, tetapi sepi.
Putrajaya ibu kota baru Malaysia sedikit beruntung nasibnya. Meski lambat pertumbuhannya, pemindahan Kantor Perdana Menteri ke kota itu pelan-pelan mendorong keramaian. Sekarang baru menjadi kota wisata.
Pelajarannya jelas. Tanpa aktivitas ekonomi dan migrasi alami, kota hanya menjadi simbol, bukan pusat kehidupan.
Masalah Lingkungan
IKN menghadapi risiko yang sama jika tidak mampu menciptakan daya tarik bagi manusia untuk datang, bekerja, dan menetap.
Di tengah ambisi menjadi kota hijau, IKN juga dihadapkan pada realitas lingkungan.
Pembangunan di kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi membawa konsekuensi ada tekanan terhadap hutan, ekosistem, dan habitat satwa.
Ini menciptakan paradoks yang sulit dihindari. Membangun kota ramah lingkungan dengan biaya kerusakan lingkungan di awal. Sementara itu, masyarakat lokal menghadapi dampak langsung. Ada perubahan mata pencaharian, tekanan sosial, dan potensi ketimpangan.
Pembangunan tidak pernah netral. Selalu ada harga yang harus dibayar, dan tidak selalu dibagi secara adil.
Di atas semua itu, terdapat faktor yang paling menentukan: politik. IKN adalah proyek lintas generasi, tetapi sangat bergantung pada konsistensi kebijakan.
Pergantian kepemimpinan membuka kemungkinan perubahan arah, bahkan redefinisi tujuan.
Dalam proyek seraksasa ini, perubahan visi bukan sekadar penyesuaian, melainkan risiko strategis. Tanpa kepastian arah, kepercayaan investor melemah, perencanaan goyah, dan biaya berpotensi membengkak.
IKN memang belum gagal, tetapi jelas belum berhasil. Ia berdiri di antara ambisi dan realitas.
Bisa menjadi tonggak sejarah jika mampu tumbuh sebagai kota yang hidup secara ekonomi, sosial, dan ekologis.
Namun ini juga bisa menjadi pelajaran mahal jika ambisi tidak diimbangi dengan kesiapan dan konsistensi.
Pada akhirnya, ukuran sebuah ibu kota bukan pada kemegahan bangunannya, tetapi pada kemampuannya menjadi ruang hidup.
Kota sejati bukan hanya dibangun, tetapi dihuni, dihidupi, dan memberi kehidupan.
Jika itu tidak tercapai, maka semua yang berdiri hanya akan menjadi monumen dari ambisi yang tak selesai. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












