
Hari Ibu merujuk peristiwa Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Sejarah kebanyakan mengungkap peran tokoh perempuan sekuler. Padahal peran Aisyiyah sangat besar di acara itu.
Tagar.co – Hari Ibu yang diperingati tiap 22 Desember mengambil peristiwa bersejarah Kongres Perempuan I di Pendapa Joyodipuran, Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928.
Peristiwa itu diperingati sebagai Hari Ibu oleh Presiden Sukarno dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959.
Di antara anggota panitia kongres perempuan itu adalah pimpinan Aisyiyah yaitu Siti Munjiyah dan Siti Hayinah.
Siti Munjiyah, anak keenam dari delapan bersaudara dari Raden Haji Lurah Hasyim. Dia bersaudara dengan KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, dan Siti Umniah.
Nama terakhir ini dikenal pendiri Nasyiatul Aisyiah. Mereka hidup di lingkungan Kampung Kauman Yogyakarta dan mengaji kepada KH Ahmad Dahlan.
Siti Munjiyah lulusan Al-Qismul Arqa, cikal bakal Madrasah Mualimin/Mualimat Muhammadiyah, yang didirkan KH Ahmad Dahlan.
Dia pandai qiroah, hafal ayat al-Quran, dan orator. Karena itu sering dikirim Aisyiah untuk ceramah di pengajian Wanita Taman Siswa, Wanito Utomo, Jong Java, dan lainnya. Dia jika ceramah di lingkungan Aisyiyah menggunakan bahasa Jawa. Di organisasi lain memakai bahasa Melayu.
Suratmin dalam buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Pertama, menerangkan, dalam Kongres Perempuan Pertama tahun 1928, Siti Munjiyah menjadi wakil ketua komite kongres. Ketuanya RA Sukonto. Munjiyah berpidato mewakili Aisyiyah di urutan kedua.
Pidatonya berjudul Derajat Perempuan. Dia mengatakan, pertemuan perempuan seperti ini juga merupakan agenda Aisyiyah. Bersyukur cita-cita yang telah lama dipikirkan itu dapat terwujud.
”Semoga gerakan yang diselenggarakan hari ini terus dipelihara untuk menambah usahanya, dan harus sanggup memberantas dan menghadapi segala rintangan. Kaum perempuan dapat dipertinggi derajatnya yaitu dengan jalan menepati segala sesuatu kewajiban yang bertalian dengan kaum perempuan.”
Dia mengingatkan kepada peserta kongres, setiap cita-cita yang tinggi dan mulia hanya mungkin dapat dicapai dengan bekerja keras, penuh kesabaran dan tawakal.
Untuk mencapai tujuan tersebut ada yang perlu mendapat perhatian beberapa hal yaitu mengekalkan barisan persaudaran dengan kokoh, karena setan telah berusaha kuat mencegah persatuan yang kokoh itu.
Mengatasi segala hambatan itu, dia menyarankan, rajin mencari pengalaman dengan tidak memilih-milih ilmu pengetahuan dan memperluas pemandangan, bekerja dengan penuh kesabaran yang berarti tidak jemu-jemunya melakukan sesuatu dengan cerdik dan berhati-hati.
Perdebatan Panas
Suasana perdebatan kongres itu dimuat Soeara Moehammadijah no. 5 dan 6 Th. XI/Agustus 1929.
Nyonya Toemenggoeng, utusan pemerintah kolonial yang turut menyaksikan jalannya kongres melukiskan suasana ketika Munjiyah berpidato.
Pidato Munjiyah paling banyak mendapat respon kritik dari perwakilan organisasi perempuan lain, seperti Poetri Indonesia dan Wanita Katoliek.
Pidato Munjiyah menyorot gerakan Feminisme Liberal yang merambah kalangan perempuan terdidik di Jawa. Ketika sampai pada pembahasan hak-hak perkawinan, terutama pada masalah poligami, Munjiyah mendasarkan dalil al-Quran.
Saat itulah Siti Soendari, utusan Poetri Indonesia, interupsi. Dia Munjiyah menerapkan standar ganda untuk kaum perempuan dan laki-laki. Terutama soal poligami.
RA Hardjodiningrat dari Wanita Katoliek juga mengritik pandangan Siti Munjiyah tentang poligami.
Munjiyah mampu menjawab kritik itu. Apalagi kehadiran anggota Aisyiyah dari Siswa Praya Wanita yang dominan di arena kongres meneriakkan yel-yel dan tepuk tangan untuk Siti Munjiyah.
Dalam kongres ini Aisyiyah mengerahkan para anggota Siswa Praya Wanita untuk meramaikan sehingga membawa peserta terbanyak.
Utusan Hoofdbestuur (HB) Aisyiyah, Siti Hayinah, juga menjadi panitia kongres. Hayinah menyampaikan pidato dengan tema Persatuan Manusia.
Hayinah aktivis perempuan lahir di Yogyakarta tahun 1906. Ayahnya Haji Mohammad Narju. Dia anak perempuan dari tiga bersaudara juga tinggal di Kauman.
Umur 19 tahun sudah menjabat sekretaris Pimpinan Pusat Aisyiyah. Dia berperan mengendalikan organisasi dan dakwah. Dia juga Pemimpin Redaksi Soeara Aisjiah.
Kota Pergerakan
Kongres Perempuan diselenggarakan oleh panitia terdiri dari RA Soekanto dan Ismoediati (Wanita Oetomo), Siti Munjiyah dan Siti Hayinah (Aisyiyah), Soenarjati, Soejatin (Poetri Indonesia), Siti Soekaptinah (Jong Islamieten Bond), Nyai Hajar Dewantara (Taman Siswa), RA Harjadiningrat (Wanito Katholik), dan Moerjati (Jong Java).
Peserta kongres tampak didominasi dari anggota Aisyiyah dan Siswa Praya Wanita (SPW). SPW kelak berubah nama menjadi Nasyi’atul Aisyiyah.
Kelompok Aisyiyah dan anak mudanya ini memeriahkan kongres dengan memakai kerudung putih berhias renda. Ini busana muslimah modis tahun itu yang kebanyakan dipakai perempuan Kauman Yogya. Remaja SPW mengisi acara dengan menyanyi dan pentas teater.
Susan Blackburn, peneliti Monash University Melbourne, menganalisis kenapa kongres memilih kota Yogyakarta. Alasannya, tokoh-tokoh inisiatornya adalah warga Yogya yang aktif di organisasi perempuan.
Selain itu Kongres Perempuan ini digelar dua bulan setelah Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Batavia, sehingga semangatnya masih berkesinambungan.
Sejumlah organisasi lahir di Yogyakarta, seperti Mardi Kiswa (1900), Muhammadiyah (1912), Taman Siswa (1922), Personeel Fabriek Bond (PFB) dan Arbeidsleger (Tentara Buruh) Adi-Dharma, Perserikatan Personeel Pandhuis Bond (PPPB), dan lain-lain.
Organisasi seperti Boedi Oetomo (BO), Sarekat Islam (SI), Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV), Inlandsche Journalisten Bond (IJB) pun tumbuh juga di Yogya. Bahkan kantor pimpinan Sarekat Islam pernah dipindah ke kota ini.
Faktor dinamika organisasi-organisasi pergerakan ini yang mendorong mengadakan Kongres Perempuan I di Yogyakarta yang kemudian dikekalkan sebagai Hari Ibu. (#)
Penyunting Sugeng Purwanto












