
Dalam luka dan amarah, Hantom Manoe menghadapi kepungan tanpa ampun. Gajah Mada bersiasat licik. Pasukan Aceh terkepung api dan pedang. Tak ada jalan mundur—hanya perlawanan total.
Hantom Manoe (Seri 11): Perang tanpa Ampun; Cerbung oleh Dwi Taufan Hidayat
Tagar.co – Darah mengalir dari bahu Hantom Manoe, membasahi pakaian perangnya. Namun, matanya tetap menyala penuh kemarahan. Ia mencabut tombak yang menancap di tubuhnya dan mengayunkannya dengan kekuatan penuh, menghantam salah satu prajurit Majapahit yang telah menyerangnya dari belakang.
Prajurit itu terpental, dadanya berlubang. Sementara itu, Rakryan Tumenggung Anggabrata melancarkan serangan cepat dengan pedangnya, mencoba memanfaatkan luka Hantom Manoe.
Namun, panglima Aceh itu tidak membiarkan dirinya lengah. Ia berputar cepat, menghindari sabetan pedang, lalu menyerang balik dengan rencongnya. Anggabrata mundur beberapa langkah, menyadari bahwa meskipun terluka, Hantom Manoe masih terlalu tangguh untuk diremehkan.
Baca Seri 1-10 Hantom Manoe
Gajah Mada yang mengamati dari kejauhan semakin geram. “Hantom Manoe harus mati hari ini!” teriaknya kepada para prajurit elitnya. “Serbu dia sekaligus! Hancurkan pasukan Aceh!”
Sejumlah prajurit Majapahit dengan persenjataan lengkap maju menyerbu Hantom Manoe. Teuku Cindaku dan Teuku Gantar Alam segera bergegas membantu.
“Jangan biarkan mereka mengepung Panglima!” seru Teuku Gantar Alam.
Gelombang Serangan Tanpa Henti
Benturan kedua pasukan semakin brutal. Mayat-mayat berserakan di medan perang. Pasukan Aceh, meskipun kalah jumlah, bertempur dengan keganasan yang luar biasa.
Teuku Cindaku memimpin sekelompok prajurit berkuda, menerobos barisan depan Majapahit, menebas siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Sementara itu, Teuku Gantar Alam bertarung mati-matian di tengah-tengah kepungan musuh.
Hantom Manoe, meski terluka, tidak kehilangan kecepatannya. Ia menebas leher seorang prajurit Majapahit dengan rencongnya, lalu berbalik dan menendang prajurit lainnya hingga terjerembab di tanah.
Rakryan Tumenggung Anggabrata semakin terdesak. Ia sadar jika dibiarkan lebih lama, Hantom Manoe bisa membalikkan keadaan. Maka, ia melangkah mundur mendekati Gajah Mada.
“Mahapatih! Kita harus mengubah strategi! Pasukan kita mulai kehilangan keunggulan!”
Gajah Mada menggertakkan giginya. Ia tidak bisa menerima kekalahan lagi. Dengan isyarat tangan, ia memberi perintah kepada prajuritnya yang tersisa.
“Kita mundur, tapi hanya untuk sementara. Aku punya rencana lain.”
Mundur untuk Menghancurkan
Pasukan Majapahit mulai menarik diri. Para prajurit Aceh bersorak, mengira mereka telah memenangkan pertempuran.
Namun, Hantom Manoe tidak mudah tertipu. Ia memperhatikan pergerakan pasukan musuh dan menyadari sesuatu yang janggal.
“Ini bukan mundur biasa,” gumamnya.
Teuku Gantar Alam menghampirinya. “Maksudmu?”
“Mereka tidak mundur karena kalah. Mereka mundur karena sudah menyiapkan sesuatu.”
Tiba-tiba, suara ledakan bergema di sepanjang medan perang. Api berkobar dari beberapa titik. Pasukan Aceh yang mengejar pasukan Majapahit tiba-tiba terjebak dalam kepungan api dan ranjau yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Gajah Mada, yang berdiri di puncak bukit, tersenyum puas. “Sekarang, lihatlah bagaimana mereka hancur.”
Hantom Manoe dan pasukannya terperangkap. Di depan mereka, pasukan Majapahit yang mundur kini berbalik dan menyerang dengan kekuatan penuh. Dari belakang, kobaran api menghalangi jalur mundur mereka.
Hantom Manoe menggenggam rencongnya erat-erat. Ia tahu ini adalah ujian paling berat dalam pertempuran ini.
“Tidak ada jalan mundur,” katanya kepada pasukannya. “Kita hanya punya satu pilihan—bertarung sampai titik darah penghabisan!”
Para prajurit Aceh berteriak lantang, siap menghadapi serangan terakhir Majapahit.
Perang tanpa ampun baru saja dimulai. (#)
Bersambung pada seri ke-12: Api di Medan Perang
Penyunting Mohammad Nurfatoni








