
Pembelajaran Aswaja bertujuan menanamkan nilai-nilai Aswaja kepada peserta didik, sehingga mereka bisa menjadi Muslim yang berakhlak mulia dan berkeyakinan kuat.
Tagar.co – Berseragam batik berwarna hijau, lengkap dengan jilbab putih bagi perempuan, 300 lebih guru KB, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK memadari Aula Mandala Bhakti Praja yang terletak di lantai 4 Kantor Bupati Gresik, Sabtu (8/2/25).
Mereka adalah guru-guru Nahdlatul Ulama (NU) se-Kabupaten Gresik yang sedang mengukuti Seminar Pendidikan bertema Pendekatan Pembelajaran Berbasis Deep Learning dan Aswaja yang diselenggarakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Gresik. Acara digelar dalam rangka Harlah Ke-102 NU.
Baca berita terkait: Guru NU Se-Kabupaten Gresik Ikuti Seminar Pendidikan Memperingati Harlah Ke-102 NU
Seminar dipandu oleh H. Nur Huda, M.Pd. Untuk menambah semangat, sebelum penyampaian materi, dia mengajak peserta meneriaklan yel-yel: “Pergunu… jaya… Guru NU… berwibawa… Guru NU… tangguh dan bermutu!”
Materi pertama “Penguatan Ahlussunah wal Jama’ah An-Nahdliyah bagi Guru NU” disampaikan oleh Dr. K.H. Mulyadi, M.M. Selain sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik, dia juga Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ihsan di Menganti.
Di awal materinya, dia menyampaikan, “Guru tidak hanya mempunyai intelektual yang tinggi, tetapi juga harus didukung attitude yang baik. Ahlusunahwaljamaah (Aswaja) harus kita pegang teguh untuk menjaga marwah.”
Menurutnya, pembelajaran Aswaja bertujuan menanamkan nilai-nilai Aswaja kepada peserta didik, sehingga mereka bisa menjadi Muslim yang berakhlak mulia dan berkeyakinan kuat.
Dalam hal ini, Aswaja berupaya membangun manusia yang utuh sesuai dengan ajaran Islam, baik jasmaniah maupun rohaniah, dalam mencapai kehidupan yang damai di dunia dan akhirat, sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.

Menciptakan Kebahagiaan melalui Keheningan
K.H. Mulyadi melanjutkan pemaparan dengan menjelaskan prinsip “Menciptakan Kebahagiaan melalui Keheningan.” Dia mengutip B.J. Habibie, bahwa untuk mencapai kebahagiaan melalui keheningan, kita perlu mengoptimalkan fungsi organ-organ yang telah diciptakan Allah. Hati nurani, kata dia, adalah super intelligent software yang dianugerahkan kepada manusia.
Hal ini, menurutnya, sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran Ayat 190-191:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”
Menurut Mulyadi, ayat ini menjelaskan bahwa seluruh ciptaan Allah di alam semesta adalah bukti kebesaran-Nya bagi orang-orang yang menggunakan akal sehatnya untuk beriman kepada-Nya. Akal yang diberikan kepada manusia seharusnya digunakan untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.
Selanjutnya, Aurah Ali Imran ayat 191 berbunyi: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”
Mulyadi menegaskan, ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan hikmah, tujuan, dan manfaat. Manusia dikaruniai akal agar dapat mempergunakan anugerah tersebut sebaik-baiknya, termasuk untuk merenungi ciptaan-Nya. Dengan memahami betapa luar biasanya ciptaan Allah, seorang muslim akan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.
Dengan penuh semangat, K.H. Mulyadi, yang akrab disapa Yai Mul, melontarkan pertanyaan, “Siapakah orang-orang yang berakal itu?”
Dia kemudian menjawab, “Orang-orang yang berakal adalah mereka yang senantiasa memikirkan ciptaan Allah, merenungkan keindahan ciptaan-Nya, dan mengambil manfaat dari ayat-ayat kauniah yang terbentang di alam semesta ini.
Mereka berzikir kepada Allah dengan hati, lisan, dan seluruh anggota tubuh. Mereka mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik berdiri, berjalan, duduk, maupun berbaring. Mereka berzikir kepada-Nya di majelis zikir, di masjid, bahkan saat berbaring menjelang tidur dan saat beristirahat.
Mereka merenungi penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan Allah Yang Mahaagung, seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami! Kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, melainkan dengan hikmah dan tujuan. Mahasuci Engkau, kami bersaksi bahwa tiada sekutu bagi-Mu. Kami memohon limpahan taufik agar kami mampu beramal saleh dalam menjalankan perintah-Mu, dan lindungilah kami dari murka-Mu sehingga kami selamat dari azab neraka.'”
Yai Mul juga mengutip hadis yang berbunyi, “Barang siapa melesat sendirian, maka ia akan melesat sendirian di neraka.” Selain itu, dia juga menyampaikan petuah bijak, “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu,” yang berarti, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Dia mengingatkan bahwa Allah adalah pembimbing kita, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-A’raf ayat 172. Yai Mul juga mengutip pesan K.H. Hasyim Asy’ari dalam muqaddimah-nya tentang pentingnya persatuan.
Menurutnya, rukun-rukun agama adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tiga pilar Ahlussunah waljemaah adalah tauhid, syariah, dan tasawuf. Sedangkan pilar jamiah NU adalah menegakkan agama dan NKRI.
“Sadar adalah dasar kehidupan,” tegasnya. “Hidup, kuasa, kehendak, ilmu pendengaran, penglihatan, dan perkataan adalah pemberian Allah yang harus disyukuri.”
Di akhir materinya, dia berharap apa yang disampaikannya dapat menjadi inspirasi bagi para guru NU untuk menjadi guru yang tangguh dan bermutu.

Deep Learning
Materi selanjutnya, yaitu materi kedua dan ketiga, berjudul “Pendekatan Pembelajaran Berbasis Deep Learning,” disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Jazuli, S.Pd, M.M, dan Syamsul Anam, S.Pd.I, M.Pd. Pemaparan materi disampaikan dengan santai, namun tetap fokus.
Pendidikan ini secara umum didasarkan pada tiga landasan utama:
- Landasan filosofis: Pendidikan kita berakar pada pemikiran para tokoh pendidikan terdahulu, seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, dan Ki Hajar Dewantara. Pemikiran-pemikiran tersebut disusun secara sistematis untuk menjelaskan, menggambarkan, dan mengendalikan gejala serta peristiwa pendidikan.
- Landasan teoretis: Landasan ini juga disusun secara sistematis untuk menjelaskan, menggambarkan, dan mengendalikan gejala serta peristiwa pendidikan.
- Landasan sosiologis: Pendidikan di Indonesia secara umum menganut paham integralistik yang berlandaskan pada norma-norma kehidupan masyarakat, seperti kekeluargaan, gotong royong, dan musyawarah untuk mufakat.
Ahmad Jazuli menjelaskan tentang kerangka kerja pembelajaran mendalam (deep learning), yang mencakup pemanfaatan teknologi digital, pemetaan pembelajaran, dan pembelajaran pedagogik. Saat ini, kita mengenal artificial intelligence (AI) dan coding. Coding adalah proses belajar tentang teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pemrograman.
“Pembelajaran ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi tantangan di era digital,” ujarnya. Dia lalu menjelaskan manfaat mempelajari AI dan coding. Yakni untuk melatih siswa berpikir kritis dan logis, membantu memahami pola pikir yang terstruktur, membantu memecahkan masalah, menciptakan solusi inovatif, dan mempersiapkan diri menghadapi transformasi digital.
Sedang pemetaan pembelajaran mencakup tiga aspek: refleksi literasi, deep learning, dan meaningful learning.

Di sela penyampaian materi, para peserta diajak untuk praktik langsung pembelajaran deep learning. Lima orang guru tampil di depan untuk mengikuti instruksi dari pemateri. Sesi ini sekaligus berfungsi sebagai ice breaker.
Menurut Syamsul Anam, ]emahaman mendalam tentang materi pembelajaran dapat dicapai melalui tiga pendekatan:
- Meaningful learning (mengaitkan materi dengan konteks lain). Contohnya, dalam pelajaran matematika, 1 ayam + 2 bebek dapat diartikan sebagai 1 unggas + 2 unggas = 3 unggas.
- Mindful learning (memberikan bimbingan agar anak terus belajar). Mengulang satu materi lima kali lebih efektif daripada mempelajari lima materi sekaligus.
- Joyful learning (menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan). Seorang guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan, misalnya melalui lagu, permainan, atau aktivitas menyanyi.
Sesi ini diakhiri dengan tanya jawab. Tiga pertanyaan diminta maju oleh Syamsul Anam. Dua pertanyaan berupa gambar, dan satu pertanyaan lainnya diajukan secara lisan. Para peserta diajak untuk mempraktikkan kemampuan numerasi dan literasi melalui gambar yang diberikan oleh pemateri. Peserta yang dapat menjawab dengan benar berhak mendapatkan hadiah khusus (reward). Salah satu peserta, Setiawan, S.Pd, berhasil menjawab dengan tepat dan menerima hadiah. (#)
Jurnalis Rokhana Oktasari Penyunting Mohammad Nurfatoni












