Feature

Gempa 5,4 Dilalui tanpa Panik: “Trust Taiwan Buildings”

29
×

Gempa 5,4 Dilalui tanpa Panik: “Trust Taiwan Buildings”

Sebarkan artikel ini
Commissioner International Foundation Dayeh University Aqilas Vierdhan menjelaskan informasi Dayeh University Jumat (22/8/2025) sesaat sebelum terjadi gempa di ruang meeting International Language Center (Tagar.co/Naimul Hajar)

Getaran gempa 5,4 magnitudo sempat mengusik presentasi beasiswa di Dayeh University. Namun alih-alih panik, audiens tetap tenang. Filosofi “trust Taiwan buildings” jadi kunci budaya mitigasi gempa di negeri Cincin Api.

Tagar.co – Ruang Meeting International Language Center siang itu awalnya dipenuhi suasana tenang dan serius.

Puluhan pasang mata tertuju ke layar proyektor, menyimak penjelasan Commissioner International Foundation Dayeh University, Aqilas Vierdhan, tentang profil kampus dan peluang beasiswa yang ditawarkan kepada peserta Summer Camp 2025 SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo, Jawa Timur.

Jumat (22/8/2025) pukul 14.06, sesi tersebut berjalan seperti biasa—hingga tiba-tiba lantai terasa bergetar.

Sebagian orang di ruangan itu saling bertatapan, sementara yang lain tidak menyadarinya karena suasana cukup riuh oleh paparan beasiswa dari kampus di kawasan bukit Changhua itu.

Baca juga: Summer Camp Dayeh University Dibayangi Terpaan Topan Podul

Ada pula yang mencoba memastikan apa yang mereka rasakan. Getaran tersebut berlangsung hanya beberapa detik, namun cukup membuat perhatian audiens teralihkan dari slide presentasi.

“Saya sempat berhenti sebentar, memastikan apakah ini benar-benar gempa atau hanya getaran dari luar. Ternyata benar, gempa,” ucapku dalam hati.

Terbiasa Panik

Momen itu mengingatkan ucapan Aqilas tentang pengalamannya pertama kali menginjakkan kaki di Taiwan beberapa tahun lalu. Ia bercerita, sebagai orang Indonesia yang terbiasa panik saat gempa, dirinya sempat heran melihat reaksi orang-orang Taiwan.

Baca Juga:  Gempa Bumi Rusak Puluhan Rumah di Pacitan, Satu Warga Meninggal

“Waktu itu saya refleks mau lari keluar, tapi teman-teman Taiwan malah tetap rebahan. Mereka bilang, ‘trust Taiwan buildings’. Jadi, di sini gempa seperti sudah jadi bagian dari kehidupan, dan mereka percaya dengan struktur bangunan yang memang dirancang tahan gempa,” kenangnya, memancing tawa ringan audiens yang sudah kembali fokus.

Menurut data Central Weather Administration (CWA) Taiwan, gempa yang terjadi sore itu berkekuatan 5,4 magnitudo dengan episentrum 42 km timur laut Kota Tainan dan kedalaman 15,1 km di bawah permukaan tanah. Getaran terasa di sejumlah wilayah, namun tidak menimbulkan kerusakan berarti.

Saya sendiri, yang turut hadir dalam presentasi tersebut, langsung membuka gawai dan mencari informasi resmi melalui situs CWA. Benar saja, data gempa sudah muncul dalam hitungan detik. Bahkan hanya tiga menit kemudian, tercatat gempa susulan berkekuatan 3,7 magnitudo di lokasi dan kedalaman yang sama.

Informasi CWA Real Time

Informasi yang diberikan CWA terbilang lengkap dan real time, mulai dari data cuaca, peringatan badai topan, hingga potensi tsunami. Situs ini menjadi rujukan utama masyarakat Taiwan, juga bagi para pendatang, untuk memahami dinamika alam di wilayah yang rawan gempa.

Baca Juga:  Atlet Panjat Tebing Indonesia Pecahkan Rekor Asia 6,078 Detik di Tiongkok

Kalau di Indonesia kita sering merujuk pada BMKG, di Taiwan CWA-lah sumber terpercaya. Mereka bahkan mencatat gelombang laut dan pasang surut air dengan detail.

Kejadian gempa kali ini memang tidak besar, tetapi memberi pelajaran berharga bagi saya yang masih membandingkan antara kebiasaan di tanah air dan kehidupan di Taiwan. Di Indonesia, gempa sering kali memicu kepanikan dan orang berhamburan keluar. Sementara di sini, sikap tenang sudah menjadi bagian dari budaya mitigasi.

Menurut United States Geological Survey (USGS), Taiwan berada di jalur Pacific Ring of Fire atau cincin api Pasifik. Jalur ini membentang dari Amerika Selatan hingga Asia Timur, termasuk Jepang, Taiwan, dan Indonesia. Akibatnya, negara-negara di jalur ini berisiko tinggi mengalami gempa bumi maupun letusan gunung berapi.

Kita memang tidak bisa menghentikan gempa, tetapi bisa belajar menghadapinya. Dengan kesiapsiagaan, aktivitas tetap dapat dilanjutkan meski alam sedang berguncang.

Suasana Kembali Normal

Presentasi pun kembali berjalan lancar setelah guncangan mereda. Beberapa peserta sesekali melontarkan pertanyaan seputar Dayeh University, dan suasana perlahan normal seperti tidak terjadi apa-apa.

Aqilas melanjutkan pemaparannya mengenai program beasiswa, mulai dari bantuan biaya kuliah, pelatihan bahasa, hingga kesempatan kerja paruh waktu bagi mahasiswa internasional.

Baca Juga:  Smamda Sidoarjo Raih 13 Medali di Olympicad 2026, Perkuat Posisi Jatim di Peringkat Ketiga

Bagi sebagian orang, kejadian itu mungkin hanya momen singkat. Namun bagi saya, ada pesan besar di baliknya: tentang bagaimana sebuah negara menyiapkan infrastruktur dan masyarakatnya untuk hidup berdampingan dengan risiko alam.

Tentang bagaimana kepercayaan pada “bangunan yang kuat” mampu meredam kepanikan. Dan bagaimana guncangan kecil bisa menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan, disiplin, dan ketenangan adalah kunci menghadapi gempa—baik yang mengguncang bumi maupun kehidupan.

Kejadian gempa sore itu juga mengingatkan saya pada pengalaman beberapa hari setelah tiba di Taiwan. Pada 12–13 Agustus 2025 lalu, Topan Podul melanda sebagian wilayah Taiwan. Angin kencang disertai hujan deras sempat mengganggu aktivitas transportasi, meski masyarakat setempat tetap tampak tenang.

Bandara sempat menunda sejumlah penerbangan, dan peringatan dini disiarkan melalui CWA yang menampilkan jalur topan, kecepatan angin, hingga potensi banjir.

Pengalaman menghadapi Topan Podul menjadi pelajaran awal bahwa hidup di Taiwan menuntut kewaspadaan terhadap fenomena alam, baik berupa topan maupun gempa bumi. Namun, masyarakatnya mampu menghadapinya dengan disiplin dan kesiapsiagaan. (#)

Jurnalis Naimul Hajar Penyunting Mohammad Nurfatoni